Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengenakan jas laboratorium saat kunjungan kerja di Gedung Bio Farma, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Rabu (29/7). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA

Kabar Utama

Vaksin Merah Putih Diuji Coba Akhir Tahun 

Produksi vaksin secara massal dapat dilakukan pada kuartal IV 2021.

 

JAKARTA – Vaksin Merah Putih tetap dikembangkan meskipun Indonesia sudah mengamankan komitmen pengadaan vaksin dengan sejumlah negara. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan, proses pengembangan vaksin Covid-19 yang murni buatan dalam negeri ini telah mencapai 50 persen. 

Bambang yang juga menjabat Ketua Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19 menjelaskan, lembaga biologi molekuler Eijkman mengembangkan vaksin Merah Putih menggunakan protein rekombinan. Bibit vaksin dikembangkan dari isolat virus Covid-19 yang beredar di Indonesia, sehingga diharapkan cocok untuk menjaga daya tahan tubuh masyarakat terhadap Covid-19. 

"Saat ini proses pengembangan pun telah mencapai 50 persen dari tugas lembaga Eijkman mengembangkan bibit vaksin di laboratorium. Target akhir tahun diuji coba ke hewan,” kata Bambang dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/9). Kemarin, Bambang bersama tim vaksin Merah Putih menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyampaikan perkembangan vaksin. 

Bambang menambahkan, setelah vaksin diuji coba kepada hewan, bibit vaksin Merah Putih ditargetkan dapat diserahkan kepada PT Bio Farma (Persero) untuk dilakukan formulasi produksi dalam rangka uji klinis tahap I, II, dan III. Jika uji klinis selesai dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan vaksin aman digunakan untuk masyarakat, maka vaksin akan segera diproduksi secara massal.

photo
Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro (tengah) berbincang dengan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir (kanan) saat kunjungan kerja di Gedung Bio Farma, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Rabu (29/7). Dalam kunjungan kerja tersebut, Menristek berkesempatan untuk meninjau pengembangan vaksin Covid-19 dalam negeri yang diberi nama Vaksin Merah Putih sekaligus mengecek kesiapan uji klinis vaksin Covid-19 di Bio Farma. - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Ia memperkirakan produksi vaksin secara massal dapat dilakukan pada kuartal IV 2021. Keberadaan vaksin Merah Putih, kata dia, akan melengkapi vaksin covid-19 yang sudah dikerjakan Indonesia bersama negara lain, seperti vaksin Sinovac (Cina) dan G42 (UEA).

Menurut Bambang, Presiden ingin agar tim pengembangan vaksin dalam negeri dapat bekerja cepat, sehingga vaksinasi bisa segera dilakukan. Karena itu, Presiden pun telah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19. Keppres itu diharapkan dapat membantu sinergi dan konsolidasi semua unsur yang terlibat dalam pengembangan vaksin. 

Ia menambahkan, Presiden juga menekankan agar seluruh prosedur teknis pembuatan vaksin dijalani dengan ketat. Sebab, vaksin ini harus aman dan tidak ada efek samping yang membahayakan. "Satu lagi, vaksin diharapkan akan manjur atau berkhasiat untuk memperkuat daya tahan tubuh kita menghadapi virus Covid-19 yang kita tidak tahu akan berapa lama berada di dunia ini," kata Bambang. 

Pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor kemarin pagi dihadiri Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19 yang baru saja dibentuk Presiden Jokowi. Tim ini terdiri atas pengarah, penanggung jawab, dan pelaksana harian.  Struktur pengarah diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Sementara susunan penanggung jawab dipimpin oleh Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro dengan wakilnya Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan Menteri BUMN Erick Thohir. 

Produksi vaksin Merah Putih rencananya akan melibatkan perusahaan farmasi swasta. Pelibatan swasta dilakukan karena kebutuhan volume vaksin yang cukup besar untuk seluruh penduduk Indonesia. 

Bambang menjelaskan, hasil riset awal menunjukkan bahwa vaksinasi Covid-19 bisa dilakukan lebih dari satu kali untuk setiap individu. Dengan asumsi penduduk Indonesia sekitar 270 juta orang, maka diperlukan pasokan vaksin setidaknya 540 juta dosis. 

Angka tersebut terlalu tinggi jika hanya dipenuhi oleh produsen awal, PT Bio Farma saja. Sebagai produsen tunggal, Bio Farma memiliki kapasitas produksi vaksin hingga 250 juta dosis per tahun. Artinya, ada kekurangan kapasitas produksi yang akan ditutup oleh perusahaan farmasi swasta. 

"Kita membutuhkan kapasitas produksi yang besar dan karena itulah kami mengajak Bio Farma melakukan ekspansi dan perusahaan-perusahaan swasta lain untuk ikut mendukung," ujar Bambang. 

Sampai saat ini, Bambang mengeklaim sudah ada tiga perusahaan swasta potensial yang menjajaki kerja sama dengan pemerintah. Ia menekankan, pabrikan farmasi swasta yang akan bergabung dalam proyek vaksin Merah Putih ini perlu mengurus izin ke BPOM terlebih dahulu.  

"Dengan tambahan dari swasta tersebut, kita harapkan Indonesia mempunyai kemandirian di dalam penyediaan dan pengembangan vaksin Covid-19," ujar Bambang. 

Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir yang turut hadir dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi menyampaikan, produksi vaksin Merah Putih diperkirakan mulai dilakukan pada tahun depan. Erick menyebut produksi vaksin Merah Putih merupakan prioritas bagi pemerintah. 

"Insya Allah vaksin Merah Putih bisa mulai diproduksi diharapkan pada 2021 akhir atau 2022 awal karena itu vaksin Merah Putih jadi prioritas buat kita semua," ujar Erick di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/9).

Kata Erick, pemerintah nantinya juga akan melakukan sinergi dengan berbagai pihak dalam hal pengadaan vaksin tersebut. Erick mengatakan, tenaga kesehatan, seperti dokter dan perawat akan mendapat prioritas utama untuk divaksin. Erick pun mengaku sudah menyampaikan hal tersebut saat bertemu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) beberapa waktu lalu. Komite bersama IDI dan PPNI juga sepakat untuk mendorong perbaikan proteksi terhadap para tenaga kesehatan dalam penanganan covid-19.  

"(Vaksin awal) tentu yang utama mereka, kedua yang akan disuntik pasti yang rnetan, mungkin usia tua atau penyakit turunan itu yang mungkin akan dilakukan," ucap Erick. 

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito pada Selasa (8/9) mengatakan, Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19 dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 18 tahun 2020 yang ditetapkan pada 3 September 2020. Wiku mengatakan, dengan masa kerja yang singkat, tim tersebut harus betul-betul dapat bersinergi.

"Seluruh komponen harus dapat bekerja dan mensinergikan waktu yang tidak panjang dan betul-betul harus menyelesaikan tugas pada akhir 2021," ucapnya.

Tim Pengembangan Vaksin Covid-19 memiliki empat tujuan, Pertama, melakukan percepatan pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia. Kedua, mewujudkan ketahanan nasional dan kemandirian bangsa dalam pengembangan vaksin Covid-19. Tujuan ketiga, meningkatkan sinergi penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta invensi dan inovasi, produksi, distribusi, dan penggunaan dan/atau pemanfaatan vaksin Covid-19 antara pemerintah dengan kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan vaksin.

Adapun tujuan terakhir adalah melakukan penyiapan, pendayagunaan dan peningkatan kapasitas, serta kemampuan nasional dalam pengembangan vaksin Covid-19. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat