Petugas medis Palestina menyemprotkan disinfektan di pengungsian Maghazi, Jalur gaza, Selasa (1/9). | AP/Khalil Hamra

Kisah Mancanegara

09 Sep 2020, 02:00 WIB

Di Gaza, Korona Lebih Menakutkan dari Perang

Sistem kesehatan Gaza sangat tidak memadai untuk menghadapi wabah besar.

OLEH RIZKY JARAMAYA

Pandemi virus korona menggerogoti sistem kesehatan di Gaza yang sebelumnya sudah buruk akibat blokade Israel. Kementerian Kesehatan mengatakan, setidaknya 68 pekerja medis telah terinfeksi virus korona. Salah satu petugas medis yang terinfeksi virus korona adalah Dr Ahmed el-Rabii.

Dia adalah dokter pertama yang didiagnosis terpapar virus korona dan kini menjalani perawatan rumah sakit. El-Rabii tak menyangka dirinya akan menjadi pasien. Ia telah bertahun-tahun menjadi garda depan untuk merawat orang-orang Palestina yang terluka akibat bentrokan dengan pasukan Israel. Dia mengatakan ancaman virus korona lebih menakutkan daripada perang di Gaza.

"Selama pertempuran kita hanya takut terkena pecahan peluru. Tetapi dengan virus ini, kita dibayangi kekhawatiran karena tidak tahu dari mana virus itu akan menyerang, bisa dari pasien, kolega, atau menyentuh lift dan permukaan lainnya," ujar el-Rabii.

Setelah lulus dari sekolah kedokteran di Mesir pada 2008, el-Rabi pulang ke Gaza dengan prospek suram. Satu-satunya lowongan pekerjaan yang tersedia adalah bekerja di rumah sakit yang dikelola Hamas. Pada 2010 dia ditawari pekerjaan, tetapi pemerintah tidak mampu membayar gajinya secara penuh. "Kebanyakan kami mendapatkan 40 persen dari gaji. Ini membuat para dokter mencari pekerjaan ekstra di klinik dan rumah sakit swasta," ujar el-Rabii.

photo
Perempuan membawa belanjaan selepas berbelanja di tengah karantina wilayah di Kota Gaza City, Senin (31/8). - (AP/Hatem Moussa)

Sebelum terinfeksi virus korona, el-Rabii bekerja selama 24 jam dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap di musim panas yang terik. Dia diberikan jatah libur selama dua hari dan kembali lagi ke rumah sakit untuk menjalani shift selama 24 jam. "Ini melelahkan. Akibat virus korona, semuanya sudah ditutup, dan pekerjaan di klinik swasta sudah berhenti sehingga kita hanya bekerja di rumah sakit umum," ujar el-Rabii.

El-Rabii bekerja di rumah sakit utama Gaza, Shifa, selama 10 tahun terakhir. El-Rabii beserta dokter dan perawat lainnya menjalani tes swab setelah seorang pasien dinyatakan positif mengidap virus korona. Hasil tes swab el-Rabii menunjukkan dia terinfeksi virus korona.

Selama menjalani isolasi di rumah sakit, el-Rabii menghabiskan waktunya untuk membaca Alquran, beribadah, dan menjawab panggilan telepon dari teman serta anggota keluarga. Para ahli memperingatkan bahwa pandemi virus korona dapat menjadi bencana besar bagi sektor kesehatan Palestina yang sudah rapuh.

Komite Palang Merah Internasional mengatakan, sistem kesehatan Gaza sangat tidak memadai untuk menghadapi wabah besar. Kapasitas pengujian virus korona di Gaza juga sangat terbatas. Lebih dari 1.000 kasus aktif telah terdeteksi serta sembilan orang meninggal dunia. Para tenaga medis bekerja dalam sistem kesehatan yang sudah bobrok akibat blokade Israel dan perseteruan politik intra-Palestina.

Pejabat Kementerian Kesehatan, Ahmed Shatat mengatakan, Gaza telah kekurangan tenaga medis sebelum terjadi pandemi virus korona. Untuk membantu kekurangan staf medis, Kementerian Kesehatan mempersingkat waktu karantina wajib bagi dokter dan perawat yang terpapar virus korona dari tiga pekan menjadi dua pekan.

photo
Pekerja sipil Palestina mengawasi warga Gaza menarik uang dari ATM di KOta Gaza, Senin (31/8). - (AP/Hatem Moussa)

“Sistem kesehatan yang maju di dunia tidak dapat menahan wabah, jadi bagaimana dengan sistem kesehatan kami yang rapuh, terkepung, dan bergantung pada bantuan dapat bertahan menghadapi krisis?” kata Shatat. Petugas laboratorium juga harus bekerja ekstra keras untuk menguji tes virus korona.

Seorang spesialis laboratorium, Haitham Ibrahim harus bekerja tanpa henti selama dua minggu terakhir di laboratorium rumah sakit di Khan Younis, Gaza. Dia harus bekerja dengan mengenakan APD selama 24 jam.

"Saya sering tertidur karena kelelahan yang ekstrem. Kami beristirahat di antara shift," ujar Ibrahim. Dia merindukan waktu berkumpul bersama istri dan lima anaknya. Ibrahim pun hanya menerima 40 persen dari gajinya.

"Saya memiliki lima anak dan ketika saya menelepon mereka, saya menghindari pertanyaan mereka tentang kapan saya akan pulang ke rumah. Kami berharap pekerjaan kami akan dihargai setelah krisis berakhir," kata Ibrahim.

Sumber : Associated Press


×