Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
21 Oct 2020, 08:44 WIB

Bumi Para Nabi yang Semakin Tandus

Hanya Allah yang tahu bagaimana kesudahannya kelak nasib bumi para nabi yang tak putus dirundung malang ini.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Selengkapnya judul Resonansi ini berbunyi, “Bumi Para Nabi (Ardhu al-Anbiya) yang Semakin Tandus dari Nilai-Nilai Kerohanian”.

Sepanjang yang kita ketahui dari sejarah, tak seorang nabi pun dari Jawa, Sumatra, Luzon, Madagaskar, Irlandia, dan Papua. Seluruh nabi milik Asia Barat Daya, seperti Irak, Suriah, Palestina, Semenanjung Arabia, dan Mesir di Afrika Utara.

Dalam literatur kenabian, jumlah nabi itu besar sekali: 124 ribu. Nama 25 nabi yang perlu diketahui adalah Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Zulkifli, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa, dan Muhammad.

Terkait

Yang berjumlah ribuan itu, kita tak tahu siapa dan dari mana mereka. Mungkin saja dari etnisitas Cina dan India sebagai populasi terbesar di bumi telah dikirim pula para nabi dan rasul berdasarkan ayat 47 surah Yunus, “Kepada setiap umat [telah diutus] seorang rasul. Maka apabila datang rasul mereka diputuskanlah di antara mereka dengan adil, dan mereka tidaklah dizalimi.”

Di antara tugas pokok nabi dan rasul itu sebagai nadzir, pemberi peringatan. Masih ada ayat lain yang kandungan isinya mirip, seperti ayat 24 surah Fathir, “Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang nadzir.”

Kesulitan kita di sini mengenai siapa nabi atau rasul yang telah dikirim kepada dua etnisitas raksasa Cina dan India itu. Saya mohon bantuan kepada para ahli yang bisa menjelaskan masalah rumit ini.

Kita tidak akan menelusuri terlalu jauh ke puluhan abad silam. Kita mulai saja dari pembentukan Negara Israel di bumi Palestina tahun 1948, yang ekor konfliknya belum usai sampai hari ini. Sudah berapa juta nyawa melayang akibat kejahatan kemanusiaan Israel atas rakyat Palestina, kita pun belum punya angka pasti.

Secara teori, kaum Yahudi adalah pengikut Nabi Musa dengan Kitab Tauratnya yang intinya memuat 10 Perintah Tuhan: 1. Aku adalah Tuhanmu, tiada Tuhan selain Aku; 2. Jangan membuat patung apa pun, di langit dan di bumi; 3. Jangan sembarangan menyebut nama Tuhanmu; 4. Sucikanlah Hari Sabat setelah enam hari kamu bekerja; 5. Hormatilah ayah ibumu; 6. Jangan membunuh; 7. Jangan berzina; 8. Jangan mencuri; 9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu; 10. Jangan mengingini milik sesamamu.

Butir yang langsung terkait pembicaraan kita adalah nomor 6, 8, dan 9: Jangan membunuh, Jangan mencuri, dan Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Membunuh, mencuri, dan bersaksi dusta adalah kelakuan harian kaum Zionis terhadap rakyat Palestina.

Memang, orang Palestina juga melakukan pembunuhan terhadap rakyat Israel, tetapi itu sekadar membela diri dalam ketidakberdayaan.

Menurut Gilad Atzmon, yang pernah saya kutip dulu di ruang ini, Negara Israel sejak berdirinya tahun 1948 adalah tanah curian yang harus dikembalikan kepada pemiliknya yang sah: rakyat Palestina.

Di mata Atzmon, klaim Israel sebagai pemilik sah tanah, itu pengakuan dusta yang tak dapat dimaafkan. Jadi, kelakuan kaum Zionis ini tak ada kaitannya dengan Sepuluh Perintah Nabi Musa kepada umat Israel masa silam.

Memang dalam perjalanan sejarahnya yang sudah berlangsung 72 tahun, masalah Palestina semakin rumit dan kusut karena beberapa sebab. Pertama, Negara Israel adalah proyek neo-imperialisme AS di kawasan panas itu.

Berkat lobi tokoh-tokoh Zionis, semua presiden Amerika pasti pro-Israel. Bahkan, napas hidup Israel hampir sepenuhnya bergantung pada Amerika, dari segi dana dan keamanan. Dengan kata lain, sekali Amerika meninggalkan Israel, negara Zionis ini pasti tumbang.

Kedua, kondisi dunia Arab dan Palestina yang rapuh. Sebagian besar negara Arab, sudah lama dilanda perpecahan yang belum tampak ujung penyelesaiannya. Dalam situasi itu, tak satu pun negara Arab benar-benar membela hak kemerdekaan Palestina.

Ketiga, secara internal rakyat Palestina tak kompak dalam strategi memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya. Faksi Fatah yang moderat bisa menerima solusi dua negara di kawasan sama, yaitu terbentuknya dua negara bertetangga: Palestina dan Israel.

Faksi Hamas, menginginkan kaum Zionis angkat kaki seluruhnya dari tanah Palestina yang telah dirampas Israel.

Demikianlah, bumi para nabi, termasuk Palestina, menjadi ajang konflik berdarah dan perebutan kepentingan negara besar yang secara teori juga mengakui kepemimpinan spiritual Nabi Ibrahim.

Yang kemudian, melahirkan dalam estafet Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad dengan pengikutnya masing-masing dalam jumlah miliaran pada tataran global.

Nilai spiritual sebagai sumber perdamaian dan keamanan inilah yang semakin tandus dan kering di kawasan itu. Yang tersisa, konflik berkepanjangan yang melumpuhkan bangunan kemanusiaan yang dulu ditegakkan dengan susah payah oleh para nabi dan rasul itu.

Hanya Allah yang tahu bagaimana kesudahannya kelak nasib bumi para nabi yang tak putus dirundung malang ini.


,
×