Cover buku | Grasindo
08 Sep 2020, 10:14 WIB

Petualangan Mengejar Mimpi

Inilah kisah petualangan lanjutan setelah pendakian Mahameru.

Apakah arti persahabatan? Jika pertanyaan ini diajukan untuk seorang Zhafran, bisa dipastikan dia mampu menjawabnya dengan beragam cara. Menulis berbait-bait puisi bahkan menuntaskan sebuah novel untuk mengungkap caranya merayakan sebuah persahabatan. Namun, secara singkat, dia pun menorehkan dalam sejumlah bait puisi.

Persahabatan kita berlima itu

Nggak pernah jelas

Nggak pernah bener, rusuh iya

Terkait

Random, tapi begitu menyenangkan

Rusak-serusak-rusaknya, tapi selalu bikin bahagia

Ini memang kisah persahabatan di antara lima sekawan: Zhafran, Genta, Ian, Arial, dan Riani. Bila menyebut nama kelima sekawan ini boleh jadi ingatan kita dibawa oleh cerita petualangan kelimanya saat mendaki puncak tertinggi di Pulau Jawa, yakni Puncak Mahameru. Kisah keseruan mereka pun tertuang dalam novel 5 cm yang terbit kali pertama pada 2005.

Kini berselang 15 tahun kemudian, tepatnya pada 17 Agustus lalu, sekuel novel ini pun hadir dengan judul 5 cm: Aku, Kamu, Samudera, dan Bintang-Bintang. Seperti novelnya yang lalu, sang penulis Donny Dhirgantoro masih mengulik tentang persahabatan kelima sekawan itu. Bedanya,  babak kehidupan kali ini diwarnai dengan kegelisahan, perjuangan, dan petualangan mereka untuk mengejar mimpinya masing-masing.

Setelah perjalanan epik menuju Mahameru, kelimanya seolah dibawa kembali ke dunia nyata. Fakta bahwa ada karier, cita-cita, dan masa depan yang harus mereka kejar dengan semangat. Meski begitu, di balik rutinitas tersebut, terselip kegamangan apakah ini jalan yang tepat untuk meraih masa depan idaman. Setidaknya itulah yang dirasakan Zhafran. Kendati telah berkarier di dunia perbankan, dia mulai merasa ini bukan dunia yang tepat untuknya.

Sedangkan keempat sahabatnya yang lain telah cukup yakin dengan pilihan kariernya dan target yang akan dituju kelak. Dibandingkan sahabatnya yang lain, Zhafran terbilang yang paling gelisah kendati telah menjadi karyawan sebuah bank swasta elite di Jakarta.

Kegelisahan itu dituangkan dalam satu paragraf menggelitik: Coba ya ia bisa seperti karyawan-karyawan baru yang lain, berseri-seri mau kerja. Coba ya Zhafran nggak kebanyakan baca buku yang bilang setiap orang itu unik, buku yang bilang kalau kebahagiaan setiap orang itu beda-beda. Coba ya ini otak isinya kerjaannya sehari-hari di bank seperti subscription, redemption, kliring, RTGS, Net Active Value, prospektus, deposit on call,treasury, obligasi. Coba otaknya Zhafran isinya nggak langit biru melulu, sama embun pagi, sama sayap-sayap patah, sama tujuh dirinya Kahlil Gibran, sama desir-desir kerinduan dan kisah Anthony dan Cleopatra.

Cinta terpendam

Di antara rasa gelisah itu, kita lantas diajak sang penulis untuk menjejak kembali ingatan pada rasa cinta terpendam di antara para sahabat itu, tepatnya antara Zhafran-Riani-Genta.   Rasa cinta dan kekuatan persahabatan itulah yang seolah masih menjadi pusaran yang lantas diangkat menjadi ‘konflik’ manis ketiganya.

Bumbu-bumbu lain ditambahkan ketika masing-masing tokoh diceritakan memiliki ambisi pribadi untuk mengejar mimpi masa depan. Seperti Ian yang bersiap untuk memenuhi keinginan orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana di luar negeri, Arial yang bersiap mengejar mimpi untuk membangun keluarga bersama kekasihnya hingga Riani yang juga bersiap mengejar mimpi berkarier di negeri Paman Sam.

Dalam novel ini, pembaca masih diajak untuk menelusuri kehangatan persahabatan di antara kelima sekawan itu. Bahasa yang mengalir dan kekinian boleh jadi menjadi andalan sang penulis. Kata-kata segar dan kocak membuat novel setebal 498 halaman menyenangkan untuk dibaca. Apalagi dalam kisahnya kali ini, pembaca dibawa untuk berpetualang ke wilayah timur Indonesia yang tak kalah eksotis dengan Mahameru.

Meski begitu, penokohan dari tiap personel dalam novel ini terasa kurang berimbang . Sosok  Zhafran terasa sangat mendominasi mulai dari awal kisah hingga akhir. Zhafran dituturkan sangat detail, lengkap dengan suara hatinya yang kerap menentang keinginan hingga keputusan dia untuk banting setir demi kehidupannya yang lebih baik. Sedangkan keempat sahabat lainnya terasa seperti karakter pendukung dari berbagai aspek kehidupan Zhafran.  

 Selain itu, konflik yang dihadirkan pun rasanya kurang ‘menggigit’ meski kejutan demi kejutan dihadirkan di akhir cerita. Boleh jadi penulis lebih fokus untuk menghadirkan kisah petualangan baru yang masih setia menelusuri keindahan nusantara yang akan menarik diangkat di layar lebar.

Dalam rilis pers yang diterima Republika, penulis Donny Dhirgantoro mengaku sempat merasakan beban tersendiri saat menulis sekuel novel ini. “Secara manusiawi ada takutnya untuk mengeluarkan sekuel dari novel yang sampai belasan tahun masih ada dan masih dicetak ulang. Tapi, saat menjalaninya, saya mendapat inspirasi bahwa tempat dan masyarakat seindah ini harus diceritakan. Supaya kita tahu bahwa Indonesia itu luas dan penuh dengan keindahan yang tidak disangka. Jangan sampai tempat yang indah seperti ini kita ketahui dari film luar negeri,” kata Donny.

Bagi yang menanti sekuel film 5 cm, silakan menunggu karena proses pembuatan film  sekuel ini memang sudah direncanakan. “Sudah ada development dan skrip sudah di tangan produser, tapi masih dalam proses. Mudah-mudahan setelah pandemi ini dapat berjalan dengan lancar,” kata Donny.

 

 

 

Sudah ada development dan skrip sudah di tangan produser, tapi masih dalam proses. Mudah-mudahan setelah pandemi ini dapat berjalan dengan lancar.

Penulis Donny Dhirgantoro
 


×