Trump versus Biden | AP
06 Sep 2020, 02:22 WIB

Pilpres Amerika: Trump-Mike versus Biden-Harris

Elektabilitas Trump terlihat mulai menguat, tapi masih jauh untuk mengejar Biden.

OLEH HARUN HUSEIN

Konvensi nasional dua partai besar di Amerika sudah berakhir. Hasilnya sudah sama kita ketahui. Partai Republik menominasikan sang petahana Donald Trump. Sedangkan, Partai Demokrat mengusung Joe Biden sebagai penantang.

Donald Trump akan tetap maju berpasangan dengan Mike Pence. Sedangkan Joe Biden menggandeng Kamala Harris.

Nyaris tak ada sama sekali kejutan dalam konvensi nasional Partai Republik dan Partai Demokrat. Hal ini karena, baik Trump maupun Biden, memang sudah unggul mutlak dalam pemilihan pendahuluan (primary, kaukus, dan konvensi) yang berlangsung sejak 3 Februari sampai dengan 11 Agustus lalu. Pemilihan pendahuluan ini digelar di 50 negara bagian, District of Columbia, dan lima teritorial.

Terkait

Bahkan, dalam Konvensi Nasional Partai Republik, Trump menyapu bersih seluruh dukungan. Sebanyak 2.550 delegasi, bulat-bundar memilih Trump. Suara bulat juga diberikan kepada Mike Pence, yang merupakan wakil presiden pejawat.

Konvensi Nasional Partai Republik berlangsung pada 24-27 Agustus lalu. Acara ini dipusatkan di The Spectrum Center, Charlotte, negara bagian North Carolina.

photo
Donald Trump dan Mike Pence - (AP/Andrew Harnik)

Dalam Konvensi Nasional Partai Republik, jumlah suara delegasi yang dibutuhkan untuk memenangkan  nominasi calon presiden maupun calon wakil presiden, adalah 1.276. Trump sudah berhasil melampaui threshold tersebut sebulan sejak pemilihan pendahuluan digelar, yaitu sejak Super Tuesday 3 Maret lalu.

Sepanjang jalannya pemilihan pendahuluan, memang tak ada perlawanan sama sekali di Partai Republik. Sampai berakhirnya primary, hanya satu delegasi yang berhasil lepas dari cengkeraman Trump. Delegasi semata wayang itu direbut Bill Weld, pada Kaukus Iowa, yang merupakan pemilihan pendahuluan pertama. Tapi, setelah itu, semua delegasi digasak Trump. 

Berbeda dengan Partai Republik yang tanpa perlawanan, Konvensi Nasional Partai Demokrat masih memiliki riak. Yaitu, pertarungan antara Joe Biden dengan Bernie Sanders.

Akan tetapi, setelah surat suara dihitung di arena konvensi, Joe Biden tetap unggul dengan meraup 3.558 atau 74,92 persen suara, sedangkan Bernie Sanders hanya meraih 1.151 atau 24,24 persen suara delegasi. Selebihnya, abstain (lima delegasi), dan tidak memilih (35 delegasi).

Konvensi Nasional Partai Demokrat berlangsung di The Wisconsin Center, Milwaukee, negara bagian Wisconsin,17-20 Agustus. Total suara delegasi yang diperebutkan dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat adalah 4.749. Sehingga, ambang batas (threshold) untuk memenangkan nominasi capres adalah 2.375.

Joe Biden memang sudah lama diprediksi bakal memenangkan konvensi nasional. Karena, seperti halnya Trump, Joe Biden juga telah meraih jumlah delegasi yang melampaui ambang batas, dalam pemilihan pendahuluan. Berdasarkan rekapitulasi, total jumlah delegasi yang diraih Biden dalam pemilihan pendahuluan adalah 2.672 delegasi, atau 66 persen dari total delegasi yang diperebutkan.

Konvensi Partai Demokrat juga menominasikan Kamala Harris sebagai calon wakil presiden. Prosesnya, bahkan lebih mulus. Karena, Kamala Harris --cawapres berdarah campuran Jamaika-India-- dipilih secara aklamasi. Kamala Harris, senator Partai Demokrat dari negara bagian California, ini, sering dibandingkan dengan Obama. Bahkan, sering disebut sebagai Obama versi perempuan.

photo
Joe Biden dan Kamala Harris - (AP/Carolyn Kaster)

Trump mulai menguat

Lalu, bagaimana reaksi publik terhadap dua calon tersebut? Berdasarkan analisis data The Economist, Trump mulai terlihat menguat. Meski demikian, jarak yang harus ditempuh Trump untuk mengejar Biden masih sangat jauh.

Untuk raihan popular vote, pada 15 Agustus lalu, The Economist memprediksi Joe Biden akan meraih 54,5 persen suara, sedangkan Trump meraih 45,2 persen suara. Namun, pada 1 September, Joe Biden sedikit menurun menjadi 54,3 persen, sedangkan Trump sedikit naik menjadi 45,7 persen.

Hal yang sama terlihat pada perkiraan perolehan electoral vote. Pada 15 Agustus, Joe Biden diprediksi meraih 350 electoral vote, sedangkan Trump 188. Namun, pada 1 September, raihan Biden merosot menjadi 343 electoral vote, sedangkan Trump bertambah menjadi 195.

Adapun peluang terbesar untuk memenangkan Pilpres 2020, masih berada di tangah Joe Biden. The Economist memprediksi Joe Biden, bekas wakil presiden AS ini akan memperoleh 54 persen suara (popular vote) pada H pemilihan, sedangkan Trump hanya akan meraih 46 persen (selengkapnya lihat grafis Prediksi Hasil Pilpres AS).

Popular vote memang tak sepenuhnya menentukan. Menang popular vote, tak otomatis memenangkan kursi. Karena, masih harus melihat bagaimana suara tersebut dikonversi menjadi electoral vote

Pada Pemilu 2016 lalu, Hillary Clinton memenangkan popular vote. Hillary meraih 65,85 juta suara (48,2 persen). Sedangkan, Trump hanya meraih 62,98 juta suara  (46,1 persen). Namun, yang kemudian dilantik menjadi presiden justru Trump.

Mengapa? Karena, setelah suara tersebut dikonversi menjadi electoral vote, Hillary justru kalah cukup telak. Karena, suara pemilih Trump yang hanya 46,1 persen tersebut, setelah dikonversi menjadi electoral vote, mampu menghasilkan 304 electoral vote (56 persen dari total 538 electoral vote). Sedangkan, suara Hillary yang mencapai 48,2 persen, setelah dikonversi, hanya menghasilkan 227 electoral vote (42 persen dari total 538 electoral vote). Maka, Trump lah yang kemudian dilantik.

Seperti diketahui, Amerika Serikat menganut sistem Electoral College alias Dewan Pemilih. Jumlah anggota dalam Electoral College ini adalah sebanyak 538 orang. Butuh minimal 270 electoral vote atau mayoritas sederhana (simple majority 50 persen+1) untuk bisa memenangkan pemilihan presiden.

Ke-538 elector atau anggota Dewan Pemilih ini, adalah perwakilan dari 50 negara bagian. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah 435 kursi anggota DPR (House of Representatives), 100 anggota Senat, plus tiga electoral dari Washington DC atau ibu kota Federal Amerika Serikat. Lima teritori di dalam wilayah Amerika (American Samoa, Guam, the Northern Mariana Islands, Puerto Rico, dan Virgin Islands) tidak memiliki elector.

Suara para pemilih yang diberikan untuk capres-cawapres pada hari pemungutan suara 3 November mendatang, kemudian akan dikonversi menjadi elector vote mulai 14 Desember 2020. Adapun hasilnya, akan diumumkan pada 6 Januari 2021 (lihat Jadwal Pemilih Presiden Amerika).

Elector per negara bagian ini jumlahnya sama dengan anggota DPR dan anggota Senat dari negara bagian tersebut. Dengan demikian, suara yang diberikan oleh pemilih di suatu negara bagian, akan dibagi habis berdasarkan jatah elector negara bagian tersebut.

Alhasil, sangat dimungkinkan kemudian jumlah suara untuk memilih elector negara bagian yang satu dengan negara bagian yang lain menjadi jomplang. Selain itu, masih ada pula yang harus diperhitung dalam ketidakmerataaan distribusi suara untuk capres-cawapres melalui elector ini, karena para elector itu dipilih berdasarkan sistem pluralitas atau the winner takes all. Jadi, suara pemilih yang tidak terkonversi menjadi elector, akan dinyatakan hangus. Belum lagi bila ada elector yang curang.

Dalam memberikan suaranya di Electoral College, para elector dari semua negara bagian dan Washington DC, akan melakukannya secara rahasia. Para elector dari semua negara bagian tersebut biasanya sudah disumpah untuk memilih sesuai dengan hasil pilpres di masing-masing negara bagian, untuk mencegah adanya elector yang curang (faithless elector).

Meski demikian, kecurangan dalam pemilu selalu ada. Pada Pilpres AS 2016 lalu, terdapat sejumlah elector yang curang. Sebanyak dua elector membelot dari kubu Trump, dan lima elector membelot dari kubu Hillary.


×