Suasana sepi di Pantai Parangtritis, Bantul, DIY. | ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
01 Sep 2020, 02:00 WIB

Dilema Pariwisata

Inovasi di bidang pariwisata yang sebenarnya dimulai sebelum pandemi.

DWI ESTI KURNIASIH, Statistisi di BPS Kota Batu

Pariwisata, sektor yang tak bisa dipandang sebelah mata. Devisa yang dihasilkan pernah menjadi kedua terbesar setelah //crude palm oil// (CPO). Pukulan telak pandemi pada sektor ini pun berdampak besar terhadap ekonomi Tanah Air.

Kebijakan mulai dibukanya kembali pariwisata tentu mengundang dilema. Di satu sisi, memberi angin segar pada banyak pelaku usaha, di sisi lain berisiko besar terhadap sektor kesehatan.

Merujuk survei sosial demografi dampak Covid-19 oleh  BPS, terdapat tiga jenis lapangan usaha terdampak yang termasuk sektor pariwisata. Yakni, perdagangan, transportasi dan pergudangan, serta penyediaan akomodasi dan makan minum.

Terkait

Mereka yang bekerja di sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, mengaku paling terdampak. Hasil survei menunjukkan, hampir 77 persen yang bekerja di sektor tersebut pendapatannya turun.

 
Di wilayah domestik, kebutuhan wisata ternyata didominasi kalangan usia produktif. 
 
 

Jasa akomodasi yang tidak terpisahkan dari pariwisata, juga paling nyata terdampak. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan tingkat hunian kamar hotel berbintang menurun drastis.

Pada April 2019, tingkat hunian kamar hotel berbintang hampir 54 persen. Pada 2020, secara nasional pada bulan yang sama hanya 12 persen.

Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang minus 5,32 persen mengonfirmasi, pariwisata Tanah Air terkontraksi sangat dalam. Ini terlihat pula dari jumlah kedatangan wisatawan mancanegara yang turun hingga 81 persen akibat pandemi Covid-19.

Di wilayah domestik, kebutuhan wisata ternyata didominasi kalangan usia produktif. Hasil riset dari survei BPS menunjukkan, sejak 2016, ada peralihan pola konsumsi di masyarakat.

Kalangan usia produktif yang sebagian besar generasi milenial lebih senang membelanjakan uangnya untuk mencari pengalaman daripada memiliki barang. Setidaknya, ada 35 persen atau sekitar 25 juta anak muda gemar berwisata.

Sayangnya, kelompok usia muda ini justru memiliki tingkat ketaatan rendah terkait protokol kesehatan Covid-19.

 
Inovasi di bidang pariwisata yang sebenarnya dimulai sebelum pandemi, juga patut kembali dikembangkan dengan berbagai penyesuaian. 
 
 

Berdasarkan hasil survei sosial demografi dampak Covid-19 yang dilakukan BPS, makin tinggi usia responden, makin taat responden dalam berperilaku memenuhi imbauan (memakai masker, cuci tangan, physical distancing, dan sebagainya).

Anak muda dan kebutuhan berwisata di tengah kejenuhan beraktivitas di rumah, sudah dilihat sebagai peluang oleh beberapa pelaku usaha wisata. Virtual tour ditawarkan sebagai alternatif liburan untuk masyarakat.

Inovasi di bidang pariwisata yang sebenarnya dimulai sebelum pandemi, juga patut kembali dikembangkan dengan berbagai penyesuaian. Pada 2015, diinisiasi e-tourism Indonesia, yaitu digitalisasi proses dan rantai nilai dalam industri pariwisata.

Sistem ini mampu membuat pariwisata Indonesia lebih mendunia dan mudah diakses informasinya. Meski tak akan berdampak besar untuk saat ini, setidaknya menjadi momentum konsolidasi dan transformasi bidang pariwisata.

Sebagai sektor yang rentan terhadap berbagai tantangan, pelaku usaha di bidang pariwisata dituntut terus adaptif. Pariwisata Indonesia pernah terseok menghadapi isu terorisme pada 2002 dan 2005.

Sekarang ujian untuk sektor ini kembali datang dan dialami hampir semua negara di dunia. Organisasi pariwisata dunia menyebut, turisme saat ini mengalami periode terburuk setelah tahun 1950.

Indonesia telah membuktikan kemampuannya bangkit pascakrisis di bidang pariwisata. Karena itu, tak berlebihan jika sektor ini diprediksi mampu pulih cepat, bahkan berakselerasi pascapandemi.

 
Pertumbuhan ekonomi negatif mungkin membuat panik, tetapi kita perlu melihat pertambahan infeksi Covid-19. 
 
 

Menjaga optimisme pariwisata bisa segera bangkit, minimal setelah vaksin ditemukan sangat penting, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor ini.

Pada 2018, data BPS menyebutkan, proporsi jumlah pekerja pada industri pariwisata hampir 12 persen dari total pekerja di Tanah Air. Menurut data Kementerian Pariwisata, penyerapan tenaga kerja di sektor ini pada 2019 mencapai 13 juta orang.

Namun, di tengah angka konfirmasi positif Covid-19 yang masih terus bertambah, pekerja dan pelaku usaha pariwisata agaknya perlu lebih lama menahan diri.

Mengejar percepatan ekonomi, tetapi berujung pada penambahan kasus dan klaster baru Covid-19, bukanlah pilihan yang patut dipertimbangkan.

Menjaga keseimbangan antara kesehatan dan perekonomian memang bukan hal mudah. Penutupan tempat wisata adalah langkah efektif guna menekan penyebaran Covid-19. Namun, menjaga mesin perekonomian tetap menyala pun penting.

Memaksimalkan wisatawan domestik dengan protokol kesehatan ketat, menjadi pilihan paling rasional menyelamatkan sektor pariwisata untuk sementara. Selain itu, tes masif, penyempurnaan tracing dan karantina harus terus ditempuh.

Pertumbuhan ekonomi negatif mungkin membuat panik, tetapi kita perlu melihat pertambahan infeksi Covid-19. Kita mampu bertahan pada angka pertumbuhan minus 13 persen pada 1998, tetapi apakah kita mampu melihat makin banyak korban jiwa?

Pariwisata bisa menjadi gas dan sektor kesehatan sebagai remnya. Biar lambat asal selamat. Semoga kita segera pulih. 


×