Petugas Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) bersama tim Inafis Polri melakukan olah TKP di Gedung Utama Kejaksaan Agung Republik Indonesia yang terbakar pada Sabtu (22/8) malam, di Jakarta, Senin (24/8). | Republika/Thoudy Badai
25 Aug 2020, 05:05 WIB

Jaksa Agung Masih Penasaran Penyebab Kebakaran

Jaksa Agung masih menampik ragam spekulasi penyebab kebakaran.

OLEH BAMBANG NOROYONO, ZAINUR MAHSIR RAMADHAN, FLORI SIDEBANG

Kebakaran hebat yang melanda gedung utama Kejaksaan Agung (Kejakgung) pada Sabtu (22/8) malam mengakibatkan kerusakan parah pada bangunan bersejarah tersebut. Hingga hari ketiga kebakaran, pihak berwenang masih belum bisa mengira-ngira penyebab kebakaran.

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin menyatakan, masih penasaran terkait penyebab utama kebakaran. “Olah TKP (tempat kejadian perkara) tetap kami minta untuk dijalankan. Karena, kita sangat mendukung untuk bisa tahu apa penyebabnya itu,” kata Burhanuddin di kantor sementara di Badan Diklat Kejaksaan, Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (24/8).

Burhanuddin sejauh ini masih menampik ragam spekulasi yang tersebar tentang apa yang menjadi penyebab kebakaran. Termasuk, pertanyaan seputar dugaan adanya sabotase yang menjadi penyebab kebakaran. 

Terkait

“Kita juga ingin tahu apa penyebabnya. Karena itu, kita mendukung penyelidikan yang saat ini sudah mulai dilakukan,” kata dia.

photo
Tim Inafis Polri melakukan olah TKP di Gedung Utama Kejaksaan Agung Republik Indonesia yang terbakar pada Sabtu (22/8) malam, di Jakarta, Senin (24/8). Berdasakrkan pantauan tim Puslabfor terlihat membawa koper hitam serta sempat menerbang drone saat olah TKP yang dilakukan secara tertutup, hingga saat ini belum diketahui penyebab terjadinya kebakaran yang melanda gedung tersebut. - (Republika/Thoudy Badai)

Kebakaran di gedung utama Kejakgung yang terletak di simpang Jalan Sultan Hassanudin dan Jalan Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu dimulai sekitar pukul 19.00 WIB pada Sabtu (22/8) malam. 

Sejumlah saksi mata melihat percikan api dimulai dari bagian atas gedung tujuh tingkat tersebut. Api mula-mula menggelora di bagian utara gedung lalu merambat ke bagian selatan.

Kepala Sektor Damkar Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Mochamad Arief, menuturkan, ia sedang menjalani piket saat kebakaran terjadi. Ia mula-mula mendengar kabar soal terjadinya kebakaran sekitar pukul 19.00 WIB. Empat unit mobil kebakaran di Sub Lebak Bulus langsung ia minta untuk diterjunkan ke Kompleks Kejakgung.

Sekitar pukul 19.10 WIB, ia mendapat info dari para pemadam yang mula-mula tiba bahwa api sudah terlalu besar untuk mereka tangani sendiri. “Info api besar itu dilaporkan unit saat baru sampai Mabes. Akhirnya saya minta 10 unit mobil pemadam lagi untuk dikirimkan ke Kejakgung,” kata Arief kepada Republika, Senin (24/8).

Ia juga langsung berangkat ke lokasi kebakaran di sekitar Blok M. Namun, kala itu, pengaturan untuk upaya pemadaman harus dirombak. Pasalnya, 14 unit mobil pemadam yang sudah tiba kala itu terkendala ketiadaan sumber air dan padatnya lalu lintas di sekitar tempat kejadian. “Pukul 19.15 malam saya sampai lokasi, saat memonitor di sana ada penyetingan ulang karena kendala air,’’ kata dia.

Dia menyebut, sumber air terdekat yang diketahui awalnya ada di sekitar Jalan Bulungan sebelah barat lokasi kebakaran. Namun, kolam air di lokasi itu kosong karena sedang direnovasi. Alhasil, air di sekitar Kompleks Mabes Polri di timur laut lokasi kebakaran jadi pilihan.

Sementara mencari sumber air pemadaman, api makin berkobar. Pihaknya kemudian meminta tambahan mobil pemadam kebakaran ke Pemprov DKI dan seluruh (lima) wilayah.

Meski begitu, Arief menyebut, lebih 50 unit mobil pemadam dan sekitar 300 personel yang diterjunkan masih kurang. Pasalnya, sistem bolak-balik angkut air tak dilakukan seluruh unit. Para pemadam kebakaran kala itu melakukan metode estafet secara statis dari sumber air.

"Saat itu juga, TKP gedung utara sudah setengah hangus. Akhirnya kita lakukan pemblokiran di selatan gedung,’’ ujar dia. Dengan metode itu, menurutnya, anggota akhirnya bisa masuk ke lantai lima dan menjinakkan api agar tidak menjalar ke gedung belakang. 

Sayang, asap tebal dan pekat membuat anggota tak mampu menerobos lantai enam bagian selatan. "Akhirnya jam 03.00 dini hari, api menjalar ke lantai enam. Anggota tak kuat dan langsung mundur," ujarnya.

Sekitar pukul 04.00 WIB dini hari, menurut Arief, stamina personel sudah mulai habis. "Kondisi saat itu api sangat hebat. Terlebih, kondisi gedung dan lainnya mudah terbakar," kata dia. Bagaimanapun, semangat pemadam juga terus dikobarkan, meski stamina sudah meredup. 

"Untungnya, api berhasil dipadamkan keesokan paginya. Dan anggota selamat," kata dia.

Kepala Sudin Damkar Jakarta Selatan Sugeng juga menyebutkan, api yang membakar gedung utama Kejakgung sangat besar. Kendala yang diterimanya juga seputar keterbatasan air, angin yang berhembus kencang, dan lalu lintas yang terhambat.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, kepolisian membagi dua kelompok untuk mengungkap penyebab kebakaran tersebut. Kelompok pertama terdiri dari tim Puslabfor dan Inafis Polri yang memeriksa konstruksi. 

Setelah itu, tim penyidik kedua akan mengecek instalansi listrik di gedung Kejakgung. Tim tersebut juga akan mencari tahu sumber pertama kali api menyala hingga menyebabkan sebagian besar gedung utama Kejakgung hangus terbakar. "Juga sudah dibentuk satu posko yang ada di dekat TKP untuk konsolidasi," katanya.

Yusri Yunus mengatakan, kepolisian telah memeriksa sebanyak 19 orang saksi terkait kebakaran. Para saksi terbagi dalam tiga klaster berbeda, mulai dari petugas keamanan gedung, pekerja kebersihan, hingga staf Kejakgung.

Ia menjelaskan, pemeriksaan yang dilakukan terhadap belasan saksi itu merupakan pemeriksaan pertama atau pemeriksaan awal. "Ini pemeriksaan awal yang kita minta keterangan sebagai bahan tim bergerak untuk tahu dari mana sih sumber api, dari lantai berapa, dan sebagainya," kata Yusri menambahkan.

Pada Senin (24/8) siang, bangunan bersejarah yang terbakar itu terlihat jelas sudah rusak parah. Beberapa sudut bahkan habis terbakar. Di sekeliling lokasi, personel gabungan TNI-Polri dan beberapa petugas pemadam piket juga terlihat masih bersiaga. Meskipun, api sudah dinyatakan tidak ada.

Pada waktu yang sama, tim Puslabfor Mabes Polri, Inafis, dan anggota Kejakgung juga terlihat mondar-mandir di lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal. "Dalam pengecekan lokasi, tidak ada kendala," ujar Kapuslabfor Bareskrim Mabes Polri Brigjen Ahmad Haidar di lokasi. 

Dia menambahkan, dalam proses pengecekan pertama itu, pihaknya menguji kelayakan konstruksi bangunan. Utamanya, untuk kelayakan pemeriksaan lebih lanjut.  

"Pertama, kami melakukan cek konstruksi bangunan sehingga personel dalam kondisi aman saat melakukan pemeriksaan," kata dia. Ia meminta semua pihak tetap sabar menunggu proses, mengingat protokol yang berlangsung.  "Masih dalam proses pemeriksaan. Mohon tunggu." 


×