Petugas Posyandu memberikan vitamin A pada balita di Posyandu Bougenvile, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (25/2/2020). Pemberian zat gizi mikro dari Kementerian Kesehatan berupa vitamin A bagi balita dan suplemen penambah darah bagi ibu hamil tersebut merupakan | ARI BOWO SUCIPTO/ANTARA FOTO
18 Aug 2020, 00:15 WIB

Berjuang Mengentaskan Stunting di Desa Sukadami

Terkait stunting, tindakan bukan hanya mengatasi anak yang sudah lahir, melainkan juga pencegahan saat ibu hamil.

 

AHMAD NURSYEHA

Sekumpulan ibu-ibu bercengkerama di depan pos pelayanan terpadu (posyandu) di salah satu perumahan Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (15/8) siang WIB. Di antara mereka, ada seorang ibu yang harus menerima kenyataan, tinggi badan anaknya masih jauh di angka ideal normal pada balita umumnya. Bocah itu bernama Iqbal (tiga tahun) yang merupakan buah hati pasangan Rasunah (34 tahun) dan Eko Saputra (38). Dia memiliki seorang kakak perempuan yang usianya terpaut empat tahun.

Rasunah menyadari kondisi anaknya tergolong stunting. Dia bercerita, saat lahir berat badan anak bungsunya hanya 1,9 kilogram (kg). Jauh dari bayi lain yang lahir dengan berat badan rata-rata 2,5 kg. Selama mengandung Iqbal, Rasunah mengakui, saat itu keluarganya mengalami masalah ekonomi karena sang suami diberhentikan dari pekerjaannya. Hal itu membuat Rasunah menjadi banyak pikiran dan berpengaruh terhadap kandungannya.

Terkait

Meski tersandung masalah ekonomi, Rasunah tidak pernah absen membawa Iqbal ke posyandu. Jaraknya hanya 500 meter dari tempat tinggalnya. Dari situ, dia menyadari, putra keduanya memiliki tinggi badan hanya 88 sentimeter (cm). Padahal, idealnya anak sepantaran Iqbal memiliki tinggi badan 92 cm agar masuk kategori ideal.

Rasunah sempat ragu setelah Iqbal diukur tinggi badannya oleh petugas posyandu. Dia sempat meminta kepada petugas untuk mengukur ulang. Namun, hasilnya tetap sama, Iqbal masih dikatakan pendek untuk seusia 39 bulan. "Ya, namanya juga orang tua, pasti khawatir lah kalau anak enggak ideal diukur tingginya, saya kepikiran jadinya, apa anak saya kurang gizi atau yang ada masalah yang lain," ujar Rasunah saat ditemui Republika.

Setelah melahirkan bayi keduanya, Rasunah tetap bersyukur dan terus percaya kepada sang suami bahwa kehilangan pekerjaan bukan akhir dari segalanya. Ayah Iqbal, Eko, kini bekerja sebagai pedagang jajanan keliling. Pendapatan sehari-hati hanya sekira Rp 100 ribu. Sementara, Rasunah hanya seorang ibu rumah tangga yang setiap harinya hanya mengasuh kedua anaknya. 

Pendapatan Eko untuk saat ini tak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga karena pembeli kian sepi. Keuntungan berdagang sebagai penjual makaroni telor (maklor) habis untuk membayar sewa rumah kontrakan, listrik, dan iuran BPJS Kesehatan. Tak jarang mereka makan dengan lauk pauk seadanya.

Kasus serupa juga terjadi di posyandu yang sama. Hal itu dialami bersaudara, yaitu Salva, berusia empat tahun dan adiknya, Jaflan, berusia dua tahun sembilan bulan juga tumbuh tidak normal. Sang ibu, Ratna Dwijayanti (30), menuturkan, kedua anaknya baru menjalani pemeriksaan di posyandu.

Setelah diukur tinggi badannya, menurut Ratna, keduanya masuk kategori kerdil. Salva memiliki tinggi badan 94 cm dan Jaflan tinggi badannya 78 cm. Dua bersaudara ini berjarak empat sentimeter dari tinggi badan anak kategori normal. Keluarga Ratna yang merupakan pendatang dari Jepara, Jawa Tengah, ini mengaku baru datang ke Bekasi saat mengandung lima bulan anak keduanya. Selama di kampung halamannya, Ratna tidak pernah mengikuti kegiatan posyandu karena akses jalan cukup jauh.

photo
Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin (ke dua kiri) menghadiri pemecahan rekok Muri sajian dawet lele terbanyak di Desa Pranggang, Kediri, Jawa Timur, Selasa (25/2). Program ini merupakan upaya untuk mencegah stunting - (ANTARA FOTO)

Setelah ia dan keluarganya pindah ke Bekasi yang dikenal dengan kota industri itu, Ratna mulai menyadari betapa pentingnya memeriksakan kesehatan ibu dan anak ke posyandu. Berbekal informasi yang disampaikan oleh tetangganya, Ratna mengaku, tugas ibu bukan sekadar memberikan asupan air susu ibu (ASI), melainkan juga harus secara berkala membawa kedua anaknya untuk diberi vitamin dan imunisasi.

"Saya baru tahu pentingnya ikut posyandu, mungkin kalau anak saya rajin dibawa ke posyandu (saat di Jepara), anak saya pasti enggak stunting. Pas pindah ke sini, saya mesti ikut di RW sebelah saat pertama kali pindah ke sini dua tahun yang lalu," ujar Ratna.

Di Desa Sukadami, Cikarang Selatan, sekarang terdapat 23 posyandu yang bertugas menjalankan Permenkes Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. Kepala Puskesmas Desa Sukadami, dr Kurniawati, mengatakan, dalam kasus anak kerdil, pada akhir 2018, tercatat ada 772 balita. Angka itu mencapai 17,1 persen dari total 4.150 anak yang ada di Sukadami.

Dari data tersebut, Puskesmas Sukadami bergerak untuk mengatasi masalah stunting. Menurut Kurniawati, tindakan bukan hanya mengatasi anak yang sudah lahir, melainkan juga pencegahan saat ibu hamil. "Setelah mendapatkan hasil tersebut, kami dari puskesmas bersama lintas sektor, seperti pemerintah desa dan juga kecamatan, saling berkoordinasi untuk berupaya menangani dan juga upaya pencegahan terhadap kasus ini," ujar Kurniawati saat ditemui di Puskesmas Sukadami.

Upaya yang sudah dilakukan Puskesmas Sukadami dalam menangani stunting, di antaranya rutin meberikan vitamin A, susu formula, dan telor puyuh untuk balita lima butir per hari selama 21 hari. Bukan hanya itu, pihaknya melakukan upaya dalam pencegahan dengan menggelar kegiatan kelas ibu hamil di fase 1.000 HPK (hari pertama kehidupan). Dia menjelaskan, 1.000 HPK terdiri atas 270 hari masa kehamilan ibu dan 730 hari pada dua tahun pertama kehidupan bayi. "Bantuan itu khusus untuk balita yang mengalami kasus stunting. Kita memberikan telur puyuh, kita kasih satu kilogram per bulannya," kata Kurniawati.

Dia menjelaskan, melonjaknya angka stunting di Sukadami dipicu mobilitas tinggi dari masyarakat yang hampir semuanya adalah pekerja dalam bidang industri. Perhatian terhadap anak dari orang tua belum sepenuhnya terwujud. Kurniawati mendapati fakta miris bantuan telor puyuh malah dikonsumsi satu keluarga karena mereka memang berkategori ekonomi lemah. "Mindset orang tua belum terbangun. Saya sampai mengucap bahwa ini amanah dari pemerintah untuk hanya boleh dikonsumsi oleh anak," ujar Kurniawati.

photo
Petugas kesehatan mengukur tinggi badan balita saat kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu) di Posyandu Mekar Sari, Karangasem Selatan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Sabtu (15/8/2020). Pemerintah setempat terus berupaya menekan angka stunting dengan melakukan pengawasan balita yang ada di Kabupaten Batang dengan mengadakan kegiatan posyandu secara rutin dan pemberian asupan vitamin kepada ibu dan balita - (Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTO)

Bidan Desa Sukadami, Rani Sumarni, menambahkan, setelah data angka stunting pada 2018, petugas melakukan validasi dengan terjun ke lapangan. Data itu diverifikasi oleh ibu kader posyandu yang menemukan 772 balita tumbuh kerdil. Setelah itu, pihaknya melakukan validasi ulang pada Juni 2019 dan mendapati angka telah berubah tanpa memerinci jumlah pastinya.

Rani menyebut, berkurangnya jumlah anak tumbuh kerdil karena beberapa faktor, yaitu balita sudah melewati usia lima tahun dan pindah domisili sehingga sulit dilacak. "Setelah kami cek ke lapangan, ternyata bayi sudah normal karena pada saat itu balita hanya kurang dua sentimeter," kata Rani menjelaskan.

Perkembangan menggembirakan datang saat dilakukan pemeriksaan lagi pada April 2020. Rani mengatakan, petugas Puskesmas Sukadami kini hanya mendapati balita stunting pada angka 60 anak. Dari angka itu, pihak puskesmas terus memantau supaya mereka mendapatkan asupan gizi cukup agar lepas dari status kerdil.


×