Homeschooling (ilustrasi) | Freepik

Keluarga

11 Aug 2020, 08:20 WIB

Beralih ke Homeschooling

Homeschooling dinilai mampu mendukung bakat dan minat anak.

Musik adalah fokus utama untuk seorang Cindy Lasmono. Demi meraih cita-citanya itulah, dia mengaku lebih memilih homeschooling ketimbang harus belajar di sekolah formal. ''Dengan homeschooling, saya lebih fokus mengejar cita-cita,'' ujarnya.

Di sekolah formal, Cindy mengenang, hanya berfokus pada nilai dan ulangan. Padahal sejak lulus SMP, dirinya sudah memutuskan memilih jalur musik untuk masa depannya. Jika tetap belajar di sekolah formal, dia merasa tak memiliki waktu mengimprovisasi keterampilannya bermusik.

Homeschooling bikin saya punya waktu lebih untuk bermusik, ikut lomba musik, belajar hal baru di luar musik yang tak sempat dilakukan di sekolah formal,” kata Cindy.

Dia pun memilih jalur homeschooling supaya punya tujuan lebih jelas, bagaimana mencapai target, serta pencapaian apa yang ingin didapatkan. Dirinya tak ingin hanya terhenti memikirkan PR dan tugas sekolah. “Dari kecil suka musik. SMP les musik klasik. Saya tahu lemah di pelajaran biologi, matematika, dan lain-lain,” kata Cindy.

Saat ini Cindy tercatat sebagai salah satu mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Masa depan cerah di bidang musik sudah dalam genggamannya.

 
Dengan homeschooling, saya lebih fokus mengejar cita-cita.
Cindy Lasmono, Mahasiswa IKJ
 

Banyak masyarakat menganggap homeschooling bukan pilihan belajar yang tepat lantaran dinilai tidak memberikan pembelajaran maksimal, hanya untuk orang kaya, dan dipandang sebelah mata. Padahal, lulusan homeschooling mampu bersaing dengan lulusan sekolah formal. Bahkan, banyak orang hebat yang belajar dengan metode homeschooling.

Pengelola Komunitas Sun Homeschooling, Dhanang Sasongko menjelaskan homeschooling adalah proses pelayanan pendidikan secara sadar, terukur, dan terarah yang dilakukan orang tua atau keluarga. Pun proses belajar mengajarnya berlangsung dalam suasana kondusif dengan tujuan setiap potensi anak unik dapat berkembang secara maksimal.

Sekjen Komnas Perlindungan Anak itu mengatakan ada sejumlah alasan memilih homeschooling seperti merasa tidak nyaman di sekolah formal, baik karena kondisi sosial lingkungan sekolah lantaran si anak sempat kekerasan di sekolah. Atau bisa juga lantaran kurikulum dan pembelajaran yang dirasakan sulit, serta anak yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Alasan itulah yang membuat anak dan orang tua lebih nyaman untuk belajar dengan cara homeschooling.

 “Kurikulum yang menyamaratakan anak, itu sama dengan menzalimi anak. Sekolah bukan pabrik, pendidikan itu untuk mengembangkan bakat dan minat anak,” kata Dhanang dalam webinar “Bagaimana Memulai Homeschooling?”.

Alasan lain adalah si anak ingin mengembangkan minat, potensi, dan bakat secara lebih fokus. Selain itu, kondisi kesehatan dan mental dan sulitnya akses sekolah formal hingga jarak sekolah turut memicu keputusan untuk melirik /homeschooling/ itu.

Uniknya lagi, dengan homeschooling, orang tua bisa membuat sendiri rapor anaknya. Tujuannya adalah sebagai catatan perkembangan anak. Rapor itu bisa digunakan jika anak ingin ke sekolah formal. “Homeschooling itu memang komunitasnya terbatas, tapi anak tetap memiliki skill sosial tinggi,” ujar Dhanang.

 

Fleksibel

 

Bagi orang tua yang tertarik menerapkan homeschooling untuk buah hatinya, Dhanang memaparkan,  ada sejumlah prasyarat agar memudahkan prosesnya. Langkah pertama, cobalah untuk mencari informasi cukup tentang kekuatan dan kelemaham homeschooling. Setiap keluarga mempunyai karakteristik yang berbeda dan setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Karena itu, setiap keluarga harus menetapkan bentuk dan model paling cocok dengan keadaan keluarga dan kebutuhan anak.

Kedua, menetapkan format homeschooling. Caranya dengan mengukur kemampuan dalam hal mengajar, membagi perhatian bagi anak, dan menentukan kurikulum.

Ketiga, menetapkan waktu belajar secara teratur. Menetapkan waktu belajar dan kegiatan anak, sehingga kurikulum atau program belajar yang dipilih dapat dilaksanakan secara terus menerus dan teratur, tanpa menghilangkan kekhasan homeschooling.

Langkah itulah yang juga ditempuh Rezki Nugraheni saat memilih cara homeschooling untuk buah hatinya. Dia memulai metode belajar di rumah tersebut sejak 2016. Ketika itu putranya belum bisa menulis dan berhitung. Rezki mengatakan anaknya suka bergaul, tetapi dia kesulitan menyatu dengan anak-anak yang jumlahnya banyak dalam satu kelas saat di PAUD.

Setelah mencari berbagai referensi, dia memutuskan memilih metode homeschooling untuk anaknya saat siap masuk sekolah dasar. “Dia perlahan tapi pasti perkembangannya baik dalam menerima pelajaran, kepercayaan dirinya perlahan tumbuh,” ujar Rezki.

Dengan telaten bersama seluruh anggota keluarga yang lain, mereka bersatu meningkatkan kepercayaan diri anak. Terlebih si anak tampak berbakat di bidang seni. Sistem homeschooling yang cukup fleksibel memudahkan gerak si anak yang ingin mengikuti berbagai les.

Di masa pandemi seperti saat ini, Rezki pun menyarankan orang tua memiliki kesiapan mental, telaten, dan sabar mengajari di rumah. Menurut dia, homeschooling juga harus ada aturan dan tatanan. “Saya harap homeschooling bisa jadi pilihan tepat buat anak kita agar mereka bisa memiliki masa depan yang lebih terukur,” kata dia.

homes


×