Sejumlah mobil terparkir saat akan diekspor di dermaga IPC Car Terminal, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (4/8). | ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
10 Aug 2020, 03:00 WIB

Pemulihan Industri Butuh Dukungan Konsumsi 

Untuk meningkatkan konsumsi nasional,berbagai stimulus pemerintah harus digulirkan.

JAKARTA -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, industri manufaktur masih menghadapi tantangan rendahnya konsumsi masyarakat. Meski terdapat prospek untuk pulih mulai kuartal III 2020, Kadin meminta ada dukungan peningkatan konsumsi di level nasional agar manufaktur bisa kembali pulih.  

"Karena konsumsi di level internasionalnya tidak bisa diandalkan sebagai engine of growth dalam waktu satu tahun ke depan. Setidaknya, hingga ada pemulihan ekonomi global dari Covid-19," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Shinta Widjaja Kamdani kepada Republika pada Ahad (9/8).

Untuk meningkatkan konsumsi nasional, kata dia, berbagai stimulus, seperti kredit usaha dan belanja pemerintah harus digulirkan atau didistribusikan secepatnya kepada masyarakat dan pelaku usaha. Dia juga menyarankan agar pemerintah memperbaiki iklim usaha dan investasi supaya sektor manufaktur bisa memperoleh fresh capital injection atau di luar skema stimulus kredit. 

"Hal itu untuk melakukan transformasi usaha yang menciptakan efisiensi usaha lebih tinggi. Sekaligus menyesuaikan daya saing industri terhadap perubahan karakter konsumsi global pasca-Covid," jelas Shinta. 

Terkait

 
Daya beli juga masih rendah.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jemmy Kartiwa Sastraatmaja
 

Wanita yang juga Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) tersebut memproyeksikan, industri pengolahan yang bisa dihidupkan lebih dulu pada kuartal III adalah sektor primer, seperti makanan dan minuman, obat-obatan, alat telekomunikasi, dan kertas atau kemasan plastik. Selebihnya, kata dia, kemungkinan baru bisa bangkit pada kuartal IV 2020 atau kuartal I 2021.

 "Jadi tergantung stimulus dan pemulihan ekonomi global. Kami belum melihat appetite konsumsi untuk secondary dan tertiary processed goods seperti industri otomotif dan alat transportasi lain, industri untuk barang konstruksi, elektronik, dan lainnya yang cukup tinggi di level nasional maupun global meskipun sudah diupayakan normalisasi kegiatan usaha pada satu sampai dua bulan terakhir," tutur Shinta. 

Industri manufaktur pada kuartal II 2020 terkontraksi 6,19 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Angka ini melorot jauh dibandingkan kinerja manufaktur pada kuartal II 2019 yang masih bisa tumbuh 3,54 persen (yoy).

Hampir seluruh sektor industri pengolahan mengalami kontraksi kecuali industri makanan dan minuman yang tumbuh stagnan di level 0,22 persen, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,65 persen, industri logam dasar tumbuh 2,76 persen.

Sementara itu, berdasarkan survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pada Juli 2020 terindikasi keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi mulai membaik. Meskipun masih berada pada zona pesimis dengan nilai di bawah 100, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mengalami kenaikan menjadi ke level 86,2. Angka itu meningkat dari posisi 83,8 pada bulan sebelumnya.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pada Juli sudah mulai beroperasi meski belum normal kembali. 

"Sebab, daya beli juga masih rendah," ujar Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja.

Ia menyampaikan, masalah yang dihadapi industri saat ini yaitu lemahnya daya beli dan stimulus bagi industri belum banyak membantu. Ia mencontohkan, stimulus untuk menghilangkan pembayaran biaya listrik PLN masih kurang efektif. 

"Jadi, sekarang yang lebih kami harapkan adalah diskon tarif PLN pada malam hari, yaitu dari pukul 22.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB," kata Jemmy.

photo
Sejumlah pekerja memproduksi batik di industri batik Syukestex, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (7/8). Menurut pemilik industri batik Syukestex Idawati, ekspor batik miliknya mengalami penurunan sekitar 50 persen saat pandemi Covid-19. - (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman meyakini, pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) pada kuartal III 2020 tetap positif. Ia memperkirakan, sektor tersebut akan tumbuh sekitar satu sampai dua persen pada periode tersebut.

"Diperkirakan, sepanjang 2020 industri mamin tumbuh dua persen," kata Adhi.

Ia menyebutkan, ada beberapa pendukung pertumbuhan industri mamin. Pertama, pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat kegiatan ekonomi mulai menggeliat. Hal itu kemudian membuat kebutuhan pangan mulai naik. Selain itu, bantuan pemerintah juga akan mendorong konsumsi dan daya beli. Bantuan itu meliputi gaji ke-13 ASN, bantuan sosial, bantuan tunai untuk karyawan swasta, serta kartu prakerja. 

Faktor lain yang juga mendukung pertumbuhan adalah bantuan modal kerja untuk UMKM, BUMN, dan swasta menengah atas. Selain itu, ujarnya, geliat industri di beberapa negara juga mulai kembali pulih. Hal itu tercermin dari indeks PMI Manufaktur yang mulai bergerak ke atas setelah anjlok pada April 2020.


×