Pekerja memotret kerajinan dari bahan limbah batok kelapa yang dipasarkan secara daring di Saung Oprek Karajinan Batok (Karabat), Kelurahan Menteng, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (29/6/2020). Pemerintah menargetkan 2 juta pelaku UMKM menggunakan platform | ARIF FIRMANSYAH/ANTARA
19 Sep 2020, 08:14 WIB

Jeli Melirik Usaha Baru

Pola pikir ketika memulai bisnis harus sama seperti akan berinvestasi suatu produk keuangan dengan risiko yang tinggi.

Menghadapi era normal baru, akan ada banyak perilaku masyarakat yang berubah karena harus menyesuaikan dengan keadaan. Jika kita pintar membaca peluang usaha, perubahan perilaku masyarakat ini bisa menjadi momen untuk memulai usaha baru.

Meskipun, memang bagi sebagian besar orang yang ekonominya terdampak pandemi Covid-19, memulai usaha baru kala normal baru bukan perkara mudah. Kepentok modal yang pas-pasan, takut merugi, dan segudang permasalahan lain. Lalu, bagaimana mengelola keuangan dan risiko ketika ingin memulai bisnis baru?

Perencana dan penasihat keuangan, Aidil Akbar, mengatakan bahwa hal utama yang harus diubah ketika memulai usaha adalah pola pikir. Maksudnya, pola pikir ketika memulai bisnis harus sama seperti akan berinvestasi suatu produk keuangan dengan risiko yang tinggi. Hal ini penting diterapkan sebab potensi bisnis gagal sangat besar.

Selain itu, sebelum memulai bisnis baru, kita juga mesti memastikan kondisi keuangan sudah stabil. Setidaknya memiliki simpanan dana darurat yang cukup untuk biaya hidup enam bulan ke depan.

Terkini

“Memang bisnis bisa dijadikan jalan keluar untuk orang yang di-PHK agar menghasilkan penghasilan, tapi jangan lupa bahwa risikonya ada. Jangan sampai tabungannya karena dipakai bisnis malah hilang, yang tadinya tabungan cukup untuk enam bulan, terus gara-gara bisnis merugi jadi sisa untuk tiga bulan. Jangan gitu,” kata Aidil saat dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Untuk modal, Aidil menyarankan agar memakai dana tabungan dan jangan ambil dari dana darurat. Karena dana darurat untuk anggaran kehidupan sehari-hari. Ia menyimulasikan, jika saat ini seseorang memiliki tabungan Rp 30 juta, Rp 15 juta hingga Rp 20 juta bisa dialokasikan untuk dana darurat, sementara untuk modal bisa menggunakan sisanya, yakni Rp 10 juta.

Anggaran untuk modal itu pun harus diatur pemakaiannya. Aidil mengingatkan agar kita tidak menggunakan modal besar secara langsung pada tahap awal merintis bisnis. Misalnya, gunakan Rp 2 juta dulu untuk modal awal dan jika ternyata bisnisnya terus berkembang boleh menambahkan modal lagi.

“Nah, kalau semisal gagal, jadinya kita hanya rugi di tahap awal. Kita hanya rugi Rp 2 juta di awal itu. Jadi, kita masih ada jatah modal Rp 8 juta untuk dipakai memulai bisnis lain. Karena memulai bisnis itu memang rumit, cocok-cocokan, tidak semua semua orang bisa berhasil memulai bisnis tertentu,” kata Aidil.

Selain mempertimbangkan keterampilan, penting juga untuk merintis bisnis yang modalnya sesuai dengan dana yang ada. Misalnya, membuat usaha membuat masker kain atau menjadi reseller suatu produk yang dibutuhkan kala normal baru dan sebagainya.

Saat kondisi ekonomi tak menentu seperti sekarang, Aidil sangat tidak menyarankan meminjam modal usaha ke bank atau lembaga peminjaman uang lainnya. Meminjam uang ke bank dalam kondisi sekarang memiliki risiko yang tinggi. Lagi pula, menurut Aidil, dalam keadaan krisis, bank akan sangat berhati-hati dalam memberi kredit usaha kepada masyarakat. 

 

photo
Pekerja membuat permen atau gula-gula bentuk Lollipop di sebuah industri rumahan di Pakis, Malang, Jawa Timur, Senin (29/6/2020). (ARI BOWO SUCIPTO/ANTARA FOTO)

 

Modal Uang Jajan

 

Adalah Amelia Deliani yang bisa melihat potensi usaha kala pandemi Covid-19. Sejak April 2020, ia memulai bisnis kuliner dan dipasarkan secara daring. Pandemi yang berdampak pada ekonomi keluarga membuat dia harus putar otak untuk menghasilkan uang.

"Jadi berusaha berpikir kreatif gimana caranya ada pendapatan lain meski kondisi sosial serba dibatasi, meski orang di rumah aja, yaitu bisnis makanan online," kata Amelia.

Meski baru dua masakan yang dijual, yaitu tempe kering dan kentang mustofa, menurut Amelia, perkembangan bisnisnya cukup baik untuk skala merintis. Modalnya pun bersumber dari alokasi anggaran jajan.

"Karena uang jajan yang dijadikan modal jadinya tidak bisa belanja keperluan komplementer kayak biasa, karena dipakai bisnis ini dengan harapan menguntungkan. Meski emang tidak berharap langsung laba yang besar, balik modal aja udah bagus untuk langkah awal bisnis baru," kata Amelia.

Perempuan yang kini berdomisili di Kota Bandung itu juga memanfatkan media sosial untuk melancarkan bisnis barunya tersebut. Ia sudah mencoba promosi via iklan berbayar Facebook, Instagram, bahkan Shopee.

"Jangkauan promosinya luas banget kan jadi cepet orang tahu. Kita tinggal bikin produk semenarik mungkin secara fotografinya jadi orang penasaran dan nyoba beli. Selain emang rasanya juga enak, harga terjangkau dan yakin bisa bersaing di pasaran," kata Amelia.

 

 


×