Istana Topkapi | DOK Wikipedia by Carlos Delgado

Tema Utama

05 Jul 2020, 13:47 WIB

Taman dan Ekspresi Keindahan Islam

Semua kota Islam pada era klasik memiliki taman yang mempesona.

OLEH HASANUL RIZQA

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sungguh, Allah itu indah dan menyukai keindahan." Alam semesta ini merupakan bukti sifat-Nya itu. Segala ciptaan-Nya menunjukkan keteraturan yang teramat mempesona mata, lahir dan batin.

Saat menyinggung tentang tetumbuhan dan buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia dan hewan, Alquran juga menunjukkan faedah keindahan yang mereka hasilkan. "Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rerumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu." (QS 'Abasa: 25-32).

Dengan menyaksikan keindahan itu, manusia jangan sampai lalai dari mengingat Allah SWT, Zat yang telah menciptakannya. "Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang memiliki pemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?" (QS an-Naml:60).

Para arsitek, seniman, dan penguasa Muslim mengambil inspirasi keindahan dari ayat-ayat Allah, baik yang qauliyah maupun kauniyah. Begitu pula saat mereka membangun taman.

Prof Raghib as-Sirjani dalam bukunya, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, menegaskan, para perancang taman dalam peradaban Islam terinspirasi dari deskripsi tentang surga, baik dalam Alquran maupun Hadis. Sebagai contoh, dalam surah ar-Rahman, Allah Azza wa Jalla menggambarkan, surga memiliki aneka pepohonan dan buah-buahan, mata air yang memancar, dan buah-buahan yang dapat (dipetik) dari dekat.

Surah at-Taubah menjelaskan surga sebagai tempat bagi orang-orang mukmin, lelaki-perempuan, yang Allah janjikan. Mereka menghuni surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.

Hadis-hadis Nabi SAW juga melukiskan keindahan surga. Suatu kali, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang keadaan surga. Beliau menjawab, "Batanya dari emas dan perak, semennya adalah minyak misik yang murni, kerikilnya dari mutiara lukluk dan marjan, tanahnya dari zakfaran."

Kepada Abu Hurairah, beliau pernah menceritakan, "Sungguh, di surga ada sebuah pohon yang jika seorang pengelana melakukan perjalanan di bawah naungannya selama 100 tahun, maka ia tak akan dapat menempuhnya."

Beliau saat isra dan mi'raj diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mengunjungi tempat penuh kenikmatan itu. Nabi SAW menuturkan, "Ketika aku sedang berjalan di surga, tiba-tiba aku berada di sungai yang dua pinggirannya merupakan kubah-kubah mutiara yang luas dalamnya. Aku bertanya, 'Wahai Jibril, apakah ini?' Jibril menjawab, 'Ini adalah al-Kautsar yang diberikan kepadamu oleh Tuhanmu. Sungguh, tanahnya atau minyaknya berupa misik yang murni'."

As-Sirjani mengatakan, di antara sumbangan peradaban Islam bagi sejarah kemanusiaan ialah taman-taman. Semua itu dimaksudkan sebagai upaya menghadirkan deskripsi Alquran dan Hadis tentang surga.

Inilah yang membedakan produk peradaban tauhid dengan yang lain-lain. Tadabur atas taman-taman dapat mengantarkan jiwa manusia pada zikir, yakni mengingat Allah sekaligus mengakui kefanaan diri insan.

Utamanya pada masa keemasan, kota-kota Islam di seluruh penjuru dunia pasti memiliki taman. Masing-masing menampilkan ciri khas kebudayaan setempat. Di antara beragam contoh taman itu terdapat di Andalusia (Spanyol), Turki, Suriah, Persia (Iran), Mesir, Maroko, India, dan Samarkand (Asia Tengah).

Di Spanyol, Abdurrahman Ad-Dakhil berhasil membangun ar-Rashafah, taman yang disebut-sebut terbesar dalam sejarah kerajaan Islam. Ia terinspirasi dari taman dengan nama serupa di Suriah yang dibangun kakeknya, Hisyam bin Abdul Malik. Ar-Rashafah di Kordoba diisi dengan berbagai macam tumbuh-tumbuhan.

Tidak hanya dari kawasan Semenanjung Iberia, melainkan juga mancanegara. Ad-Dakhil mengimpor banyak biji dan bibit tanaman pilihan yang didatangkan langsung dari negeri-negeri jauh. Ia menyewa para tukang kebun yang ahli sehingga setiap tumbuhan terawat dengan baik. Dari waktu ke waktu, kemasyhuran ar-Rashafah menyebar ke seantero Eropa.

photo
Taman al-'Arif di kompleks Istana Alhambra - (DOK Wikipedia)

Saingan Kordoba ialah Granada. Penguasa Muslim setempat mendirikan banyak taman dan kebun buah, termasuk di sekitar dinding benteng kota tersebut. Keindahannya menakjubkan, seolah-olah tanaman yang tumbuh di sana merupakan dinding tersendiri.

Di istana dan tempat peristirahatan raja, kebun bunga dan buah juga dibuat. Al-Hambra menjadi contoh terbaik tentang bagaimana peradaban Islam menghasilkan karakteristik taman.

Begitu pula dengan Taman al-'Arif yang dibangun di atas perbukitan Granada. Para arsitek Muslim merancangnya dengan bentuk bertingkat. Tingkat paling besar memiliki luas 13 meter persegi. Jumlahnya tak lebih dari enam tingkat. Air mengalir dari tingkat yang paling atas menuju ke dasar dengan derasnya.

Menurut as-Sirjani, rancang bangun taman tersebut diilhami dari deskprisi tentang surga, yang termaktub dalam surah al-Waqi'ah: "di dalamnya terdapat naungan yang terbentang luas, air yang mengalir terus-menerus, dan buah-buahan yang banyak."

Menurut as-Sirjani, taman tak hanya dijumpai di istana raja atau ruang-ruang publik. Setiap rumah warga di Andalusia memiliki taman meskipun rumah itu kecil. Penguasa Muslim menjamin pasokan air bersih ke setiap rumah. Dengan begitu, warga dapat memperoleh air untuk merawat tumbuh-tumbuhan atau pohon kecil.

Di Turki, peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya dalam masa Kekhalifahan Utsmaniyah. Ibu kotanya, Istanbul, memiliki banyak taman yang dirancang dengan amat cermat sebelum dibangun.

Istana-istana di sana dijuluki al-Hadaiq ('taman-taman') karena letak keindahannya tak hanya pada bangunan, melainkan pemandangan asri di sekitarnya. Adapun taman-taman publik di Istanbul umumnya menghadap pantai sehingga menambah keindahan panorama pinggir laut.

Para penguasa Utsmaniyah memperindah masjid-masjid dengan kebun bunga dan taman di sekelilingnya. Di samping penghijauan, tujuan lainnya ialah untuk mencegah kebakaran.

As-Sirjani menuturkan, umumnya rumah-rumah di Istanbul pada masa itu terbuat dari kayu. Bila kebakaran terjadi pada sebuah rumah, api akan mudah menyambar bangunan-bangunan di sekitarnya, termasuk masjid. Dengan menyediakan lahan yang luas di seputaran masjid, maka tempat ibadah itu akan lebih berjarak dengan hunian warga. Ruang terbuka itu lantas ditanami berbagai macam tanaman dan pepohonan sehingga pada saat yang sama menghadirkan keindahan.

Taman-taman istana (topkapi) di Istanbul mulai dibangun sejak masa Sultan Mehmed al-Fatih. As-Sirjani mengatakan, kompleks yang kini merupakan situs warisan dunia versi UNESCO itu merupakan tempat tinggal para sultan selama tiga abad berturut-turut. Bangunan plus tamannya mencakup kawasan seluas 69 ribu meter persegi dengan keliling lima kilometer (km). Area taman itu dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk jalan-jalan setapak yang menghubungkan antarbangunan di bagian utara, barat, dan timur. Ada pula lahan luas yang dapat dipakai untuk berburu.

photo
Pintu utama Istana Topkapi - (DOK Wikipedia)

Mesir dalam masa kedaulatan Islam juga kaya akan taman. Pada abad ketujuh, Amr bin Ash menaklukkan Mesir dan mendirikan masjid raya di Fusthath. Pada zaman Abu Bakar Muhammad bin Ali al-Marai, tempat tinggal para pejabat mulai dibangun. Di sekitarnya, ada berbagai taman yang dilengkapi dengan kolam air mancur. Air utamanya berasal dari Sungai Nil dan beberapa mata air yang ditemukan di dekatnya.

Baghdad bak permata dalam sejarah peradaban Islam. Para penguasa setempat berlomba-lomba menghadirkan keindahan di kota kosmopolitan itu. Sebagai contoh, sang pendiri Baghdad, Abu Ja'far al-Manshur, memiliki istana yang disebut istana pohon. Sebab, ada sebuah pohon yang dilapisi emas dan perak di sana.

Letaknya tepat di tengah taman, dekat kolam air. Pohon tersebut memiliki 18 dahan yang menjadi tempat bergayutnya macam-macam mutiara dalam bentuk buah-buahan. Ada pula model burung-burung yang juga terbuat dari emas dan perak. 

Tadabur atas taman-taman dapat mengantarkan jiwa manusia pada zikir. 
 

Aspek penting taman islami 

Prof Raghib as-Sirjani mengutip pandangan Dr Yahya Waziri tentang ciri khas taman dalam peradaban Islam. Dalam kitabnya, Al- Imarah al-Islamiyah wa al-Bi'ah, karakteristik taman Islam diperinci sebagai berikut.

Inspirasi utamanya ialah Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Inilah pokok penting yang membedakan taman-taman warisan kebudayaan Muslimin dengan non-Muslim. Sebab, berbagai firman Allah Ta'ala menyajikan deskripsi yang begitu hidup tentang keindahan surga.

Dan, surga ditetapkan sebagai tempat khusus bagi orang-orang beriman yang diridhai-Nya. Impian untuk menggapai surga dihadirkan melalui rancang bangun taman-taman.

Tak hanya surga. Perumpamaan yang Allah pakai untuk menggambarkan kondisi seorang Mukmin pilihan juga menjadi inspirasi pembuatan taman. Simaklah surah al-Baqarah ayat 265 yang melukiskan bagaimana Allah mengibaratkan hamba-Nya yang tulus ikhlas beramal.

"Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, laksana suatu kebun yang terletak di dataran tinggi, yang disirami hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat atas apa yang kamu kerjakan," demikian arti firman-Nya itu.

 
Lokasi yang paling ideal untuk mendirikan taman ialah tempat-tempat ketinggian.
 
 

Dari ayat itu, para arsitek dan seniman Muslim mendapatkan ilham. Lokasi yang paling ideal untuk mendirikan taman ialah tempat-tempat ketinggian. Tempat itu akan menjauhkan akar-akar pohon dari pertemuan dengan arus air yang dapat mengurangi perkembangannya. Dengan demikian, air yang mereka terima tak akan berlebihan, melainkan secukupnya demi pertumbuhan yang wajar.

Karakteristik taman Islam tak hanya pada aspek dekoratif, semisal kaligrafi ayat-ayat suci Alquran pada bagian gerbang atau tembok taman. Penambahan fasilitas seperti air mancur juga menampilkan ciri khas taman Islam.

Penggunaan kolam itu tak hanya untuk memperindah area tempat tumbuhnya berbagai tanaman dan pepohonan. Ia juga berfungsi praktis sebagai sumber air, baik untuk keperluan minum maupun berwudhu.

photo
Air mancur yang keluar dari 12 patung singa di kompleks Istana Alhambra - (DOK Wikipedia)

Menurut as-Sirjani, tampilan sejumlah air mancur yang paling indah biasa ditemukan pada masjid-masjid atau istana-istana para raja Muslim pada era klasik. Misalnya, Istana al-Hamra di Andalusia. Air mancur setempat berhiaskan 12 patung yang berbentuk singa. Dari mulut mereka, memancar air yang mengalir tenang dan jernih.

Air mancur itu ternyata juga berfungsi sebagai jam. Air memancar dari satu singa ketika waktu menunjukkan pukul satu, memancar dari dua singa ketika menunjukkan pukul dua, dan seterusnya. Namun, lanjut as-Sirjani, teknologi ini rusak ketika Andalusia jatuh. Orang-orang Spanyol kala itu ingin mengetahui cara kerjanya sehingga mereka membongkarnya.

photo
Air mancur yang keluar dari 12 patung singa di kompleks Istana Alhambra - (DOK Pxhere)


×