Warga Cina berdiri di sebuah toko buku, di Beijing, Cina, 17 Mei 2020. Bagi ASEAN, menggapai kesetaraan dalam hubungan dengan Cina, bukan perkara mudah. | AP/Andy Wong
04 Jul 2020, 09:45 WIB

Menggapai Kesetaraan ASEAN-Cina

Bagi ASEAN, menggapai kesetaraan dalam hubungan dengan Cina, bukan perkara mudah.

OLEH AGUNG P VAZZA

Boleh jadi, peperangan melawan pandemi virus belum tuntas meski riak pembukaan kembali perekonomian di Asia Tenggara sedang terjadi. Setelah beberapa bulan pembatasan kegiatan sosial dan ekonomi diberlakukan, banyak negara mulai melakukan upaya menyeimbangkan kebijakan antara dua persoalan yang sesungguhnya bukan pilihan.

Banyak negara kini mulai berupaya menghindari keruntuhan total perekonomian sekaligus mencegah meluasnya atau gelombang baru pandemi. Hanya saja, kerontokan perekonomian global juga menghadirkan dorongan cukup kuat bagi terjadinya pergeseran tatanan perekonomian dunia.

Pandemi Covid-19, yang menyebabkan perekonomian global menurun drastis, ternyata juga mengikis peran Amerika Serikat (AS) yang selama ini dikenal sebagai mesin utama perekonomian global. Sebaliknya, sentralitas Asia dimotori Cina, justru semakin menguat. Setidaknya, begitulah studi terbaru ANZ dan Eurasia.

Terkait

Dalam laporan studi bertitel "Asia's economy: taking centre stage" juga mencatat kombinasi perang dagang AS adn Cina, pelemahan ekonomi global, dan pertumbuhan cukup pesat negara-negara tetangga Cina merupakan beberapa faktor yang mengikis pengaruh AS di Asia.

Studi yang sama mengungkapkan pula kawasan Asia Tenggara kini memiliki peran sentral dalam perekonomian global lantaran hubungan dagang dengan Cina. Pada kuartal pertama 2020, negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), sebagai sebuah kesatuan, untuk pertama kalinya melampaui AS sebagai mitra dagang terbesar Cina.

Cina menggeser posisi AS sebagai mesin penggerak utama perekonomian global. - (ANZ Institutional Banking)

Studi tersebut, seperti dilansir, Business Times, mengungkapkan ASEAN membeli sekitar 16 persen ekspor barang Cina, dibanding pasar AS yang menyerap sekitar 14 persen. Richard Yetsenga, kepala Ekonom ANZ dan Ian Bremmer, presiden Eurasia Group, memperkirakan tren ini bakal terus berlangsung.

Apalagi, setelah pandemi menyerang dunia, jaringan pasokan dan perdagangan cenderung terkonsentrasi di tataran regional. Dijelaskan pula, prediksi yang menyebutkan pemulihan ekonomi Asia Tenggara setelah pandemi berpeluang terjadi lebih cepat dari AS.

Dalam lima sampai enam bulan pertama 2020, perdagangan ASEAN dan Cina mencapai 240 juta dolar AS atau naik sekitar 4,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, seperti dikutip Xinhua. Ekspor Cina ke Asia Tenggara meningkat 2,8 persen mencapai 936,62 miliar yuan.

Sedangkan impor Asia Tenggara dari Cina melonjak sampai enam per sen ke posisi 759,86 miliar yuan. Angka-angka tersebut tercatat lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan perdagangan luar negeri Cina dalam kurun yang sama. Perdagangan Cina dan ASEAN setara dengan 15 persen perdagangan Cina dan dunia.

Uni Eropa, sebenarnya, tahun lalu sempat menjadi mitra dagang terbesar Cina, setelah menggeser AS. Namun, penutupann banyak pabrik akibat pandemi di Eropa, merontokkan pula hubungan perdagangan Eropa-Cina. Pembelian Eropa untuk sejumlah komponen dari Cina menurun drastis, dan sebaliknya eskpor produk ke Cina pun mengalami penurunan.

 
 

Sedangkan memudarnya posisi AS sebagai mitra dagang terbesar Cina, menurut Rajiv Biswas, kepala Ekonom Asia Pasifik IHS Markit, sesungguhnya terjadi lantaran meroketnya tarif impor bersamaan dengan memanasnya perang dagang dua raksasa ekonomi dunia itu. Ditambah lagi dengan menurunnya konsumsi AS selama lockdown akibat pandemi, yang menekan perdagangan kedua negara.

Dalam situasi itu, ASEAN sudah pula memiliki hubungan perdagangan erat dengan Cina, bahkan sejak 2010, saat tercapainya kesepakatan pemangkasan tarif perdagangan. Meningkatnya pendapatan sekitar 640 juta populasi Asia Tenggara membuka peluang tumbuhnya produk-produk Cina seperti smartphone. Angin industrialisasi di kawasan pun memunculkan banyak pabrik yang membeli bahan mentah dari Cina, dan sering kali dipasarkan kembali ke Cina dalam bentuk produk jadi.

Begitu pula sebaliknya. Impor Cina dari Vietnam misalnya, naik 24 persen pada kuartal pertama 2020 dibanding kurun yang sama tahun lalu. Impor Cina dari Indonesia juga naik sampai 13 persen secara tahunan, yang menurut Dezan Shira & Associates, sebuah lembaga konsultan bisnis, terjadi karena meningkatnya jaringan pasokan yang terintegrasi. Impor Cina untuk komponen elektronik juga naik 26 persen akibat terganggunya jaringan pasokan Eropa. Pabrik di Malaysia dan Thailand mampu menggantikannya.

Selain produk-produk tersebut, Cina masih membutuhkan ASEAN sebagai sumber penting beberapa komoditas seperti minyak sawit, karet, makanan kemasan. Posisi ASEAN sebagai mitra dagang utama Cina bukan tak mungkin semakin menguat lantaran sudah pula tercapai kesepakatan lebih besar, yaitu Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Hubungan ekonomi ASEAN dan Cina seperti saling melengkapi sejak tercapainya kesepakatan China-ASEAN Free Trade Area pada 2010. Sejak itu, keduanya saling membuka pasar serta fasilitasi perdagangan dan investasi.

photo
Polisi berdiri di sebelah spanduk menyambut KTT ASEAN di Hanoi, Vietnam, 22 Juni 2020. Bagi ASEAN, menggapai kesetaraan dalam hubungan dengan Cina, baik ekonomi maupun geopolitik, bukan perkara mudah - (EPA-EFE/LUONG THAI LINH)

Ancaman

"Cara kami menyelesaikan sebuah per masalahan memiliki kemiripan. Jelas akan lebih baik berhubungan dan mencapai kesepakatan dengan negara-negara yang selevel," ungkap Jonathan Ravelas, chief market strategist di Banco de Oro UniBank, Filipina, dilansir VOA News. Pandangan Ravelas mungkin ada benarnya. Apalagi, angin industrialisasi di Asia Tenggara plus kedekatan geografis dengan Cina, membuat biaya ekspor cukup rendah.

Cina sendiri, dalam beberapa tahun terakhir, terus menggemakan dan mengusung inisiatif demi membuktikan komitmen pada globalisasi dan multilateralisme. Bahkan di saat pandemi. Sebaliknya, AS di bawah kepemimpinan Donald Trump, terkesan melepas begitu saja peran dan pengaruhnya dalam lembaga-lembaga multilateral seperti WTO, North Atlantic Treaty Organization (NATO), Trans-Pacific Partnership (TPP), bahkan World Health Organization (WHO) di saat pandemi mendunia.

Dalam situasi itu, wajar kalau Cina, sebagai perekonomian terbesar kedua dunia, mencoba mengambil alih peran AS sebagai pengusung utama multilateralisme. Hanya saja, negara-negara di Asia agaknya tetap perlu mewaspadai pengaruh Cina di kawasan. Pasalnya, meski negara itu berusaha keras tampil sebagai pengusung utama multilateralisme, di sisi lain, klaim Beijing dengan 'nine-dash line' atas kedaulatan sejumlah negara Asia Tenggara lantaran mencakup hampir seluruh Laut Cina Selatan, justru memicu potensi konflik di kawasan.

Dalam konteks ini, semakin menguatnya peran dan pengaruh Cina di Asia Tenggara, perlu pula dicermati, setidaknya dari dua sisi. Di sisi ekonomi, Cina sangat mungkin menjadi mitra dagang, bahkan mitra ekonomi utama ASEAN. Namun, di sisi kedaulatan kelautan, Cina bisa menjadi ancaman bagi stabilitas di kawasan.

ASEAN memang menjadikan Cina sebagai salah satu mitra dialog penting. Akan tetapi, apalah artinya jika dialog berulang kali diganggu 'tekanan' terkait kedaulatan sejumlah negara di Asia Tenggara.

Bersamaan dengan munculnya tekanan ekonomi dampak pandemi dan geopolitik di Laut Cina Selatan, maka saatnya ASEAN secara aktif memainkan gaya baru dalam hubungan dengan Cina. Gaya yang tidak berdasarkan pada ketergantungan pada satu negara semata, melainkan mengutamakan saling ketergantungan. ASEAN dan Cina memiliki hubungan saling ketergantungan. Bukan satu mendominasi yang lain.

Pastinya, bagi ASEAN, menggapai kesetaraan dalam hubungan dengan Cina, baik ekonomi maupun geopolitik, bukan perkara mudah. Menyeimbangkan manfaat ekonomi dari perdagangan dengan negara tetangga dan pada saat bersamaan menghadapi ancaman maritim dari negara tetangga yang sama, memang sulit. Tapi, setidaknya, ASEAN sebagai satu kesatuan, tak semestinya membiarkan Cina menentukan 'aturan main' sesuai kepentingan sendiri.


×