KH Raden Muhammad Amin atau biasa disapa Guru Amin | Dok Lembaga Kebudayaan Betawi
19 Sep 2020, 06:25 WIB

KH Raden Muhammad Amin, Dai Pejuang dari Kalibata

Bersama para ulama Betawi dan santri,Guru Amin berjuang melawan penjajahan.

OLEH MUHYIDDIN

Kiai Haji Raden Muhammad Amin merupakan seorang ulama pejuang di era kemerdekaan Indonesia. Sosok yang dikenal sebagai Guru Amin Kalibata itu pernah memimpin para santri dalam melawan Belanda di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

Ulama Betawi itu sangat militan sehingga penjajah pun merasa gentar. Oleh karena itu, namanya kerap masuk dalam target utama yang akan ditangkap. Pertempurannya yang legendaris telah menjadikan Kalibata sebagai suatu daerah penting dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia.

Dalam buku berjudul Ulama Betawi, Ahmad Fadli menjelaskan, Guru Amin lahir pada 3 Juni 1901 di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ia adalah putra dari pasangan KHR Muhammad Ali dan Maryam.

Terkini

Dari garis keturunan ayahnya, terdapat silsilah yang sampai pada Pangeran Raden Syarief atau Pangeran Sanghiyang. Raden Syarief adalah tokoh agama asal Banten yang aktif berjuang mengusir kolonialisme. Putra Pangeran Senopati Ngalaga itu dikebumikan di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Hingga kini, makamnya banyak didatangi peziarah.

Saat masih kecil, Muhammad Amin belajar agama langsung kepada ayah dan ibunya. Sebab, mereka berdua sama-sama ahli dakwah Islam. Tidak sulit bagi Amin untuk menerima dan mencerna pelajaran dan hikmah dari orang tuanya.

Dalam usia 10 tahun, Amin sudah mempelajari ilmu-ilmu dasar agama Islam. Sebagai contoh, ilmu nahwu, tauhid, fikih, dan lain-lain. Ia memang sudah terlihat cemerlang sejak usia belia. Oleh karena itu, ayahnya tidak terus mendorongnya agar kelak menjadi seorang ulama.

Saat usianya baru menginjak usia 12 tahun, ayahnya meninggal dunia pada 1913. Amin pun merasa sangat sedih kehilangan bapak sekaligus guru tercintanya. Setelah itu, ia mempelajari sendiri kitab-kitab peninggalan almarhum. Ia juga belajar kepada kakaknya, KH Zainudin atau Guru Ending.

Selain kepada ayah dan kakaknya, Amin juga berguru kepada Guru Marzuqi Cipinang Muara, Guru Mansur Jembatan Lima, Guru Abdurrahim Kuningan, dan Syaikh Mukhtar at-tharid. Setelah memiliki ilmu-ilmu agama yang cukup, Amin akhirnya bisa menggantikan posisi KHR Muhammad Ali. Yakni, sebagai pengajar kitab Fathul Mu'in di Masjid Salafiyah Kalibata Pulo --masjid yang didirikan ayahnya itu.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by adi imam mufti (@adi_imam_famungkas) on

Pada 1919, Amin menikah dengan Fatimah. Pasangan itu lantas hijrah ke Kalibata, Jakarta Selatan. Untuk menghidupi keluarganya, Amin berbisnis barang-barang bahan bangunan. Profesi yang banyak digeluti para haji di Betawi pada masa itu.

Amin berhasil merintis usahanya dengan baik. Pada 1930, ia dapat membeli tanah seluas kira-kira satu hektare di pinggir Jalan Raya Pasar Minggu (kini menjadi bagian dari Taman Makam Pahlawan Kalibata). Di atas tanah itu, Amin tak hanya membangun rumahnya, tetapi juga Pondok Pesantren Unwanul Huda.

Dari pernikahannya dengan Fatimah, Guru Amin dikarunia 19 orang anak. Beberapa di antaranya menjadi sosok alim ulama yang dihormati. Sebut saja, KH Abdul Aziz Amin, KH Zayadi Amin, KH Syarifudin Amin, Ustazah Hj Darjah Amin, KH Hasbullah Amin, dan H Makmun Amin.

Turut berjuang

Guru Amin tidak hanya aktif dalam dunia dakwah, tetapi juga perjuangan. Ia bersahabat dengan sejumlah ulama pejuang di daerah Betawi, semisal KH Noer Ali dan H Darip Klender. Seperti para sahabat seperjuangannya itu, Guru Amin telah banyak berjasa untuk negeri ini.

Ia pernah memimpin para santri dan pemuda dalam pertempuran melawan Belanda di Kalibata, tepatnya sekitar pabrik sepatu yang kala itu masih berupa hutan karet. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Padahal, kekuatan persenjataan Pribumi tak secanggih yang dimiliki serdadu kolonial. Berdirinya taman makam pahlawan di Kalibata antara lain diilhami dari peristiwa heroik tersebut.

Sejak pertempuran di Kalibata, Guru Amin selalu dicari-cari oleh Belanda dan antek-anteknya. Pernah suatu hari, pasukan Belanda menemukan Guru Amin sedang berada di rumah mertuanya, H Abdullah. Saat itu, ia sedang ditemani putranya, Hasbullah Amin, dan seorang sanak familinya yang keturunan Arab, Syarifah.

Belanda mengira, Guru Amin adalah bapak dari Syarifah. Perempuan itu pun ditanya, "Apa dia bapakmu?"

Syarifah menjawab tanpa ragu, "Iya."

Mendengar jawaban itu, para serdadu Belanda itu pun meninggalkan kediaman mereka. Pencarian atas Guru Amin pun dilanjutkan di tempat lain. Sang alim pun selamat dari penangkapan.

Karena situasinya sudah tidak kondusif lagi, maka pada 1946 Guru Amin hijrah ke Cikampek. Untuk sampai di sana, ia menggunakan kereta api dari Stasiun Manggarai. Sepanjang perjalanan, ia menyamar sebagai seorang tukang beras. Selama dua tahun, Guru Amin ditampung oleh sahabatnya, KH Syafi'i Ahmad.

 
Karena situasinya sudah tidak kondusif lagi, maka pada 1946 Guru Amin hijrah ke Cikampek.
 
 

Dari Cikampek, Guru Amin terus memimpin para santrinya agar terus melanjutkan perjuangan. Berbagai pertempuran pun pecah di sejumlah front. Hingga akhirnya, Guru Amin kembali lagi ke Kalibata pada 1948.

Ternyata, rumahnya sudah diacak-acak Belanda. Semua kitab yang disimpan di tiga lemari dihancurkan sehingga tidak bisa digunakan lagi. Kendati demikian, masyarakat setempat tetap menyambut kedatangan Guru Amin dengan suka cita.

Bahkan, hampir tiap hari rumah Guru Amin dikunjungi oleh santri dan khalayak umum. Belanda kemudian mencurigai, sosok yang sedang diburunya itu hendak melakukan mobilisasi massa. Penguasa kolonial lantas melarang Guru Amin dan keluarganya untuk keluar rumah kecuali dalam menunaikan tugas mengajar di Pesantren Unwanul Huda.

Sejak proklamasi pada 17 Agustus 1945, Indonesia berdiri sebagai suatu negara berdaulat. Pemerintah pusat melalui Ir Sofwan akhirnya meminta Guru Amin menjadi ketua Mahkamah Islam Tinggi (MIT) yang berkedudukan di Solo, Jawa Tengah. Namun, mubaligh itu menolak tawaraan tersebut secara halus. Ia mengaku, dirinya tidak mendapat restu dari sang ibu. Akhirnya jabatan tersebut diserahkan kepada KHR Muhammad Adnan.

Pada 1950, Menteri Agama KH Masykur juga pernah meminta bantuan Guru Amin untuk membentuk penghulu-penghulu di kantor urusan agama (KUA) area Jakarta dan sekitarnya. Dalam mengemban tugas itu, Guru Amin kemudian merekrut dan mengangkat para santrinya yang mumpuni. Dalam waktu relatif singkat, terbentuklah 22 penghulu yang tersebar di 22 kecamatan se-Jakarta dan sekitarnya. Termasuk kawasan-kawasan yang kala itu cukup terpencil, semisal Tambun, Cibitung, Lemahabang hingga Pebayoran dan Cabangbungin.

Setelah tugas membentuk KUA selesai, Guru Amin kemudian melaporkan langsung kepada Menteri Agama KH Masykur. Selanjutnya KH Masykur meminta bantuan Guru Amin untuk bersedia menjadi Kepala Penghulu yang mengawasi kepala-kepala KUA.

Aktif di politik

Di dunia politik pergerakan, Guru Amin pernah berkiprah dalam Partai Masyumi. Oleh karena itu, rumahnya kerapkali dikunjungi para tokoh Masyumi, seperti Muhammad Natsir, Buya Hamka, Abu Bakar Aceh, Harsono Cokroaminoto dan lain-lain.

Guru Amin juga pernah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Dewan Peumus Persiapan Proklamasi Kemerdekaan bersama tokoh nasional lainnya. Misalnya, Soekarno, Hatta, Abdul Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, M Yamin, dan Soepomo. Mereka kerapkali menggelar rapat penting di rumah Bung Karno, tepi Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta.

Setelah tidak bertugas di Departemen Agama (kini Kementerian Agama), Guru Amin kembali membenahi Lembaga Unwanul Huda. Sejak ditanganinya, lembaga itu menjadi semakin dikenal kiprahnya, terutama oleh masyarakat Betawi. Lokasi Unwanul Huda berada tepat di seberang TMP Kalibata. Di tempat ini juga, Masjid Guru Amin didirikan.

Selain aktif berorganisasi, ulama yang dikenal zuhud itu juga produktif menulis. Beberapa kitab yang dikarangnya antara lain berjudul Badi'atul Fikriyah, Mudzakaratul Ikhwan, Riyadhul Abrar, Hidayatul Ikhwan, dan Sabilal Mubtadi.

 
Selain aktif berorganisasi, ulama yang dikenal zuhud itu juga produktif menulis.
 
 

Guru Amin merupakan ulama Betawi yang telah banyak berjasa untuk agama dan bangsanya. Pada Selasa, 4 Jumadil Ula 1385 H atau bertepatan pada 31 Agustus 1965, ia berpulang ke rahmatullah.

Awalnya, jenazahnya akan dimakamkan di TMP Kalibata. Sebab, tokoh ini memang layak dikebumikan di sana. Guru Amin termasuk figur nasional yang telah menerima Surat Veteran sebagai tanda resmi pengakuan negara atas jasa-jasanya.

Namun, Ketua DPR-RI waktu itu H Syaikhu dan Wakil Gubernur DKI Jakarta H Syafi'ie menyarankan agar jenazah Guru Amin tidak dimakamkan di TMP Kalibata. Saran disampaikan agar para murid-murid almarhum Guru Amin bisa dengan mudah untuk berziarah.

Setelah keluarga Guru Amin bermusyawarah, akhirnya diputuskan untuk dimakamkan di kompleks Unwanul Huda dekat masjid Guru Amin yang berada di Jalan Raya Pasar Minggu, seberang TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

Di dekatnya, kini berdiri Masjid Guru Amin sejak 31 Juli 2005. Pendirinya adalahh anak keturunannya sebagai tanda terima kasih terhadap orang tua tercinta.

photo
Belajar membaca Alquran - (Dok Republika/Rusdy Nurdiansyah)

Mengoreksi Guru Ngaji di Mushala

KH Raden Muhammad Amin atau Guru Amin Kalibata tidak hanya pandai dalam urusan ilmu-ilmu agama. Ia juga piawai berdagang sehingga menjadi seorang pebisnis yang sukses. Sejak masih muda, Guru Amin sudah menggerakkan bisnisnya dengan berjualan material bahan-bahan bangunan di kawasan Kalibata.

Untuk berbelanja bahan bangunan, Guru Amin harus pergi ke Bekasi. Perjalanan dari tempat tinggalnya ke daerah itu ditempuh sampai larut malam. Sering kali, ia menginap di salah satu mushala yang ditemuinya.

Biasanya, ada seorang guru mengaji yang bertugas memberikan pengajaran membaca Alquran di mushala-mushala. Suatu kali, Guru Amin memutuskan untuk menginap di sebuah mushala. Ia mendapati dalam pengajian yang diselenggarakan di sana sang ustaz banyak mengucapkan kekeliruan pelafalan Alquran. Ia sendiri dapat mendeteksi kekeliruan itu lantaran sejak muda sudah dibekali ilmu-ilmu agama dan guru ngaji sejak kecil.

Akhirnya, ustaz di mushala tersebut merasa agak risih dengan teguran Guru Amin. Sang ustaz lantas mengadu kepada seorang tokoh setempat, bahwa dirinya sering dikoreksi bacaan Alquran-nya oleh Guru Amin. Maka, tokoh itu mengundang seluruh masyarakat setempat untuk menghadiri pengajian di mushala itu. Harapannya, mereka dapat bertemul langsung dengan pengelana yang kerap mengoreksi bacaan itu.

Sementara itu, Guru Amin dalam perjalanannya ke Bekasi akhirnya memilih bermalam di mushala itu. Seperti biasa, keesokan harinya saat pengajian digelar, ia kembali mengoreksi kalimat-kalimat yang keliru dari ustaz tersebut.

Akhirnya, para tokoh masyarakat setempat menyadari, Guru Amin lebih pandai daripada sang ustaz. Mereka lantas mempersilakannya untuk ikut membantu mengajar. Belakangan, diketahui bahwa salah satu di antara tetua itu adalah mertua sahabatnya, KH Noer Ali, sang pejuang dari Bekasi.

Sejak kejadian itu, setiap Guru Amin pergi ke Bekasi untuk membeli material, ia selalu menginap dan mengajar di mushala tersebut. Tidak hanya itu. Pada akhirnya, banyak juga masyarakat dari Bekasi, Cikampek, Cikunir, dan Cabangbungin yang kemudian menjadi santri Guru Amin di Unwanul Huda.

 
Setiap Guru Amin pergi ke Bekasi untuk membeli material, ia selalu menginap dan mengajar di mushala tersebut.
 
 

Sampai akhir hayatnya, Guru Amin terus mendidik masyarakat Indonesia berdasarkan ajaran Islam. Dia juga telah mempertaruhkan nyawanya untuk melawan penjajah Belanda. Karena itu, setelah wafat namanya sempat diusulkan untuk dijadikan nama jalan di daerah Kalibata.

Usulan itu disampaikan oleh seorang anggota Badan Pemerintah Harian (BPH) Bidang Pendidikan dan Nama-Nama Jalan Pemda DKI Jakarta, MCH Ibrahim. Namun, pihak keluarga dan keturunannya menolak dengan halus. Sebab, bagi mereka Guru Amin berjuang untuk negeri secara ikhlas. Tidak perlu kiranya namanya dijadikan nama suatu jalan di Ibu Kota. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by adi imam mufti (@adi_imam_famungkas) on


×