Memesan menu menggunakan telepon genggam di warung kopi di Manado, Sulawesi Utara, Selasa (9/6/2020). Jajan di luar bisa dikurangi dengan membawa bekal dari rumah. | ADWIT B PRAMONO/ANTARA FOTO
19 Sep 2020, 08:08 WIB

Mau Hemat Pengeluaran, Kurangi Jajan di Luar

Pengeluaran makan bisa dihemat dengan mengurangi frekuensi jajan dari luar.

 

Pengeluaran yang terjadi pada saat memasuki masa normal baru mungkin sedikit berbeda dibanding saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masih diberlakukan. Biaya transportasi yang bisa dihemat selama bekerja dari rumah saat PSBB kini mulai harus dikeluarkan kembali.

"Kalau sudah mulai kerja, berarti pengeluaran-pengeluaran sudah mulai balik ke yang awal lagi," kata perencana keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad CFP kepada Republika, baru-baru ini.

Meski begitu, ada pengeluaran yang dapat dikelola kembali, yaitu yang bersifat pribadi. Salah satunya biaya untuk makan. Menurut Tejasari, pengeluaran makan bisa ditekan dengan cara mengurangi frekuensi jajan atau memesan makanan dari luar.

Terkini

Tejasari mencontohkan, sebelum pandemi Covid-19 seorang pekerja mungkin terbiasa membeli makan siang dari luar ketika bekerja di kantor. Kebiasaan ini bisa diganti dengan membawa bekal sendiri bila sudah kembali bekerja pada masa pelonggaran PSBB. Membawa bekal dari rumah tak hanya bisa menghemat biaya makan, tetapi juga lebih menyehatkan.

Dia mengingatkan, pelonggaran PSBB bukan berarti masyarakat bisa bebas melakukan semua hal. Beberapa kebiasaan seperti nongkrong atau jalan-jalan ke mal sepekan sekali sebaiknya tetap dikurangi. Hal ini juga bisa membantu masyarakat untuk berhemat.

photo
Pekerja mengemas kerupuk kulit di salah satu UMKM di Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (10/6/2020).  - (SYIFA YULINNAS/ANTARA FOTO)

Sebagian masyarakat mungkin masih mengalami penurunan penghasilan atau pemotongan gaji selama pandemi Covid-19. Dalam situasi seperti ini, perlu perhitungan matang dan sikap berhemat agar pengeluaran bisa terkelola dengan baik.

Perhitungan ini dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai efek suatu pengeluaran terhadap kondisi keuangan secara keseluruhan. Pilah-pilah kembali pengeluaran apa saja yang memang harus dikeluarkan dan pengeluaran apa saja yang kira-kira bisa ditekan dan dikurangi

Biaya bulanan untuk listrik, air, hingga gas misalnya, termasuk pengeluaran yang tak bisa dikurangi. Pengeluaran-pengeluaran yang sudah menjadi kebutuhan pokok tetap perlu dialokasikan.

Pada masa yang masih tak menentu ini, Tejasari juga menyoroti pentingnya menabung. Tejasari sangat menganjurkan masyarakat untuk tetap menabung, seberapa pun besarnya penghasilan yang didapat.

"Yang namanya (membayar) cicilan, yang namanya nabung, kalau bisa tetap dijalanin," kata Tejasari.

 
Yang namanya (membayar) cicilan, yang namanya nabung, kalau bisa tetap dijalanin.
TEJASARI ASAD, Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting
 

Sebagian orang mungkin merasa penghasilan yang dimiliki saat ini cenderung pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga merasa tak bisa menabung. Namun, pada dasarnya, penghasilan yang pas-pasan itu cenderung relatif. Seseorang yang memiliki penghasilan Rp 2 juta per bulan dan seseorang yang memiliki penghasilan Rp 20 juta per bulan bisa saja sama-sama merasa penghasilan mereka pas-pasan.

"Cobalah kita mulai menyisihkan walaupun hanya sedikit, walau cuma bisa Rp 50 ribu, ya sudah enggak apa-apa jalani," kata Tejasari.

Sekecil apa pun uang yang bisa ditabung, Tejasari menganjurkan masyarakat tetap melakukan kebiasaan ini secara rutin. Bila sudah terbiasa menabung saat sulit, masyarakat tentu bisa menabung dengan lebih baik lagi ketika kondisi sudah membaik dan penghasilan sudah meningkat.

"Kalau terbiasa dengan pas-pasan, kita enggak akan pernah pas, sampai ka pan pun. Mau gajinya naik, akan terus jadi pas," ujar Tejasari.

Gali kreativitas

Perencana keuangan dari One Shildt Financial Planning, Agustina Fitria CFP, menyarankan cara agar seseorang bisa menambah pemasukan. Masing-masing orang dapat menggali kreativitas untuk mendapatkan pemasukan tambahan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara melihat peluang usaha dengan mencari tahu hal-hal apa saja yang sedang dibutuhkan orang. "Anda bisa memulainya dengan menjadi reseller produk milik saudara, teman, atau tetangga," kata Fitria.

Dalam situasi pandemi seperti saat ini, Fitria juga menilai penting bagi masyarakat menyisihkan sebagian penghasilan untuk asuransi kesehatan. Bila dana tidak mencukupi, setidaknya masyarakat perlu memiliki BPJS Kesehatan.

Hal yang tak kalah penting adalah mengendalikan utang. Jaga agar rasio total cicilan utang tidak melebihi 30 persen penghasilan. Untuk mewujudkannya, Fitria menyarankan untuk mengurangi utang konsumtif dan bijak dalam penggunaan kartu kredit. "Dengan membayar tagihan secara penuh dan tepat waktu," ujar Fitria.

Meski memiliki penghasilan yang terbatas pada masa pandemi ini, menabung tetap perlu diupayakan. "Karena kita harus tetap selalu siap untuk kondisi darurat dan untuk masa depan," kata dia.

 
Meski memiliki penghasilan yang terbatas pada masa pandemi ini, menabung tetap perlu diupayakan.
AGUSTINA FITRIA, Perencana Keuangan dari One Shildt Financial Planning
 

Idealnya, minimal 10 persen dari penghasilan setiap bulan bisa disisihkan untuk menabung. Agar bisa menabung, pengeluaran-pengeluaran yang berkaitan dengan gaya hidup bisa dipangkas atau diminimalkan. "Kecuali kalau penghasilan setop sama sekali, fokusnya (adalah) untuk mencukupi kebutuhan dasar dulu, "kata Fitria. 


×