Demonstran menentang aksis rasis aparat kepolisian AS atas kematian George Floyd | Dok AP
19 Sep 2020, 06:17 WIB

Antirasisme yang Menggema

Kecaman antirasisme terhadap kasus George Floyd juga muncul di komunitas Muslim.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Rasisme tertolak dalam Islam. Menurut Imam Besar New York, Amerika Serikat (AS), Shamsi Ali, prasangka rasial bahkan sudah terasa sejak manusia pertama diciptakan. Hal ini berdasarkan Alquran, yakni surah Sad ayat 71-71. Firman Allah Ta'ala itu, lanjut Imam Shamsi, menuturkan latar belakang Iblis yang menolak bersujud kepada Nabi Adam AS.

Allah berfirman, "Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?"

Terkini

Iblis berkata, "Aku lebih baik daripadanya (Adam), karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah."

Menurut Imam Shamsi, perkataan Iblis itu secara jelas menunjukkan klaim superioritas api terhadap tanah. Ini tak ubahnya rasisme yang memandang ras tertentu lebih baik dan lebih utama ketimbang ras-ras lainnya.

Ajaran Islam juga memandang, setiap manusia pada dasarnya sama. Dai kelahiran Sulawesi Selatan itu mengutip Alquran surah al-Hujurat ayat 13, yang artinya, "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."

photo
Demonstran memperlihatkan solidaritas terhadap kematian George Floyd - (Dok AP)

Beberapa waktu lalu, dunia dikagetkan oleh kasus pembunuhan atas George Floyd. Pria Amerika keturunan Afrika itu dibunuh aparat kepolisian Minneapolis, AS, pada 25 Mei 2020.

Usai itu, gelombang protes pun menyeruak di berbagai daerah Negeri Paman Sam. Para demonstran menuntut keadilan bagi korban dan mengecam keras perlakuan semena-mena terhadap orang kulit hitam. Bagi Imam Shamsi, pelbagai kasus kekerasan atas kalangan minoritas menunjukkan gejala yang tak beres pada bangsa Amerika secara keseluruhan.

Pembunuhan George Floyd dan banyak korban lainnya sebelum ia terjadi melalui penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh aparat kepolisian. "Ini mengungkapkan penyakit masyarakat kita, yang saya sebut sebagai suatu dosa asal bangsa ini (AS)," kata mubaligh yang juga ketua Yayasan Nusantara itu.

Pada Selasa (9/6), jenazah Floyd telah dimakamkan. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan pelayat --dengan mengenakan masker dan jaga jarak. Mereka memenuhi jalan-jalan di Texas untuk memberikan penghormatan terakhir. Bendera-bendera AS berkibar di sepanjang jalan menuju rumah duka Floyd di Houston, kota tempatnya tumbuh.

Di satu sisi, pelbagai aksi demonstrasi itu menunjukkan apa yang disinyalir Imam Shamsi. Rasisme masih menjadi bahaya di negara maju semisal AS. Namun, di sisi lain lautan unjuk rasa juga menampilkan sisi solidaritas yang melampaui sekat-sekat agama dan bangsa.

Ini terbukti dengan betapa majemuknya orang-orang yang menyuarakan kampanye antirasisme. Mereka bersatu dalam merespons kasus perenggutan nyawa pria kelahiran North Carolina itu.

Seperti dilaporkan Star Tribune, dua hari setelah kasus Floyd diumumkan, kelompok massa turun ke jalan di Minnesota. Di antara para demonstran, terdapat elemen dari Dewan Hubungan Amerika-Islam (The Council on American-Islamic Relations, CAIR). Mereka turut dalam unjuk rasa mengecam kekerasan yang menimpa kalangan minoritas, yakni orang-orang kulit hitam semisal George Floyd.

Salah seorang demonstran Muslim, Naimi Mohamed, mengatakan, dirinya mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk lebih memperhatikan nasib kelompok-kelompok minoritas di AS. Ia juga mengutuk kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian sehingga menyebabkan hilangnya nyawa manusia.

Bagi Muslimah tersebut, keadilan harus ditegakkan tidak hanya untuk mendiang Floyd, tetapi juga seluruh masyarakat multietnik Amerika.

Pesan yang disuarakan Naimi Mohamed serta para demonstran umumnya di AS menggema hingga ke banyak negara, termasuk yang mayoritas Muslim. Di Palestina, para seniman lokal membuat mural yang menampilkan wajah George Floyd.

photo
Dukungan kepada George Floyd ditunjukkan warga Palestina dalam bentuk mural. Kecaman antirasisme terhadap kasus George Floyd juga muncul di komunitas Muslim - (Dok AP/ Nasser)

Mural itu berada pada tembok-tembok raksasa yang dibangun pemerintah kolonial Israel di Tepi Barat. Bangunan itu memang kerap menjadi simbol kekerasan sistemik yang masih berlaku di dunia abad kini.

Bagi rakyat Palestina, tembok-tembok tersebut tak akan menghalangi spirit mereka untuk menyuarakan kebebasan dan perdamaian. Itulah mengapa, kasus Floyd meresonansi perasaan mereka. Sang korban adalah simbol bahwa paham apartheid masih bercokol di berbagai belahan dunia, tak hanya Palestina, tetapi juga bahkan negara sebesar AS.

Indonesia pun tak ketinggalan merasakan getaran aksi demonstrasi di AS. Di Teras Gasibu, Bandung, Jawa Barat, seorang seniman menggelar aksi teatrikal untuk menyuarakan dukungan terhadap antirasisme. Gusjur Mahesa, demikian namanya, mengecam rezim Trump yang tampak membiarkan rasisme menggejala di negerinya. Dalam aksi tersebut, Senin (8/7) lalu, Gujur membawa sejumlah topi sebagai simbol keanekaragaman.

Selain kasus rasial di Amerika, ia juga menyoroti pelbagai krisis kemanusiaan di penjuru dunia, terutama masalah Palestina yang tak kunjung selesai.

photo
Seniman Kota Bandung, Gusjur Mahesa, melakukan aksi teaterikal antirasisme, di Teras Gasibu, Kota Bandung, Senin (8/6/2020). Dalam aksi tersebut, Gujur membawa sejumlah topi sebagai simbol keanekaragaman - (Edi Yusuf/Republika)

 


×