Hikmah | Republika
12 Jun 2020, 04:00 WIB

Pandemi Korona

Sikapi pandemi korona ini dengan rasa syukur agar energi positif kita makin besar dan kuat.

OLEH ABDUL MUID BADRUN

Tahun 2020 adalah saksi betapa dunia sedang diuji. Wabah virus korona telah menjadi pandemi global. Tak terkecuali dialami oleh bangsa Indonesia. Semua seperti terasa simalakama. Satu diprioritaskan, satunya lagi jadi korban, demikian sebaliknya. Semua orang kebingungan, frustrasi, sampai kapan pandemi ini akan pergi. 

Saya terkadang heran, mengapa fokus utama banyak orang saat ini itu kepada kesulitan, bukan kepada solusi? Padahal, Allah SWT menegaskan, “Bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5). Artinya, di setiap kesulitan yang terjadi, apa pun wujud dan bentuknya, selalu ada kemudahan. Masalahnya, setiap masalah muncul, fokus kita pada kesulitan sehingga kesulitan demi kesulitan itu makin hari makin kuat dan menguasai alam bawah sadar kita.

Allah pun  memberikan pesan bahwa di setiap ujian kesulitan itu Allah ingin melihat siapa di antara hamba-hamba-Nya yang benar-benar terbaik dan istiqamah dalam berusaha (QS al-Mulk: 2). Kalau postulat ini yang kita jadikan pegangan, berarti munculnya pandemi korona adalah wujud kompetisi pembuktian amal dan ikhtiar kita menjadi hamba-Nya yang terbaik. Bukankah ini indah?

Terkait

Jatuhnya banyak korban meninggal akibat pandemi korona ini tidak lantas membuat kita jadi bangsa penakut, bangsa peragu, bangsa plonga-plongo kebingungan tidak jelas. Justru kita diminta Allah berpikir keras dengan akal sehat agar segera menemukan vaksinnya. Alquran pun mendorong dan memotivasi kita dengan diksi apiknya, “Afala tatafakkarun” (apakah kamu tidak berpikir); “Afala ta’qilun (apakah kamu tidak menggunakan akalmu); “Alafa yatadabbarun” (apakah kamu tidak merenungkan); “Afala tubshirun” (apakah kamu tidak melihat). 

Semestinya, kita patut bersyukur atas munculnya pandemi korona ini. Mengapa? Karena dengan korona, Allah bisa tahu siapa saja hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam kebenaran dan kebaikan. Demikian sebaliknya. Yang dibutuhkan saat ini adalah perubahan cara pandang kita bahwa kesulitan apa pun yang kita alami adalah wujud perhatian dan sayang Allah pada kita. Hanya, kita sering melupakannya dan tidak melihatnya karena sibuk dengan urusan dunia dan seisinya.

Karena itulah, sikapi pandemi korona ini dengan rasa syukur agar energi positif kita makin hari makin besar dan kuat. Bukan sebaliknya, dengan terus-menerus mengeluh tak berkesudahan. Padahal, keluhan itu akan menjauhkan kita dari jalan keluar. Sekaligus mendekatkan kita pada kesulitan-kesulitan berikutnya. Maka, ubah keluhan menjadi rintihan doa di sepertiga malam agar Allah menurunkan bantuan. 

Bagi para pebisnis yang kesulitan, ubah cara pandang dengan bisnis model yang berbeda. Bagi pengajar yang kesulitan, biasakan dengan cara mengajar baru, seperti e-learning, zoom learning, atau web learning. Dan bagi siapa saja yang kesulitan dalam hidup, pekerjaan, dan ekonomi, segera bertobatlah. Dosa-dosalah yang mengubah jatah hidup mudah kita jadi semakin sulit. Sekali lagi, bertobatlah!

Tugas kita saat ini hanya diminta memaksimalkan ikhtiar, meluruskan niat. Itu saja. Wallahu a’lam. n


×