Perangko satu abad Muhammadiyah di bazar Muktamar,Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Riset tentang Muhammadiyah di daerah mangangkat aspek sejarah lokal. | republika

Tema Utama

07 Jun 2020, 07:46 WIB

Meneropong Muhammadiyah dari Daerah

Berbagai riset tentang Muhammadiyah di daerah mengangkat aspek sejarah lokal.

OLEH MUHYIDDIN

 

Berbagai penelitian mengungkapkan nuansa lokalitas dalam sejarah Persyarikatan Muhamm adiyah. Upaya-upaya itu diharapkan dapat memperkaya khazanah historiografi organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan (1868-1923) tersebut.

Salah satu riset yang ada termaktub dalam Matahari Terbit di Kota Wali. Penulisnya, Mustakim, menjelaskan, penelitian yang dilakukannya menyoroti perkembangan Muhammadiyah di Gresik, Jawa Timur. Dalam sejarah dakwah Islam, Gresik menempati posisi yang penting.

Inilah salah satu kota pusat penyebaran Islam yang dilakukan para wali sanga. Bahkan, makam dua orang wali terdapat di Gresik, yakni Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim.

Sebelum melakukan penelitiannya, Mustakin mengaku sempat penasaran dengan fenomena masuknya Muhammadiyah di Kota Wali itu. Dirinya ingin mengetahui, bagaimana organisasi Islam modernis seperti Muhammadiyah dapat diterima masyarakat setempat yang kental nuansa tradisionalisnya.

"Saya berpikir, Gresik ini juga sangat menarik ketika kita harus menelusuri bagaimana proses masuknya Muhammadiyah," ujar dia dalam diskusi daring bertema "Mencari Jejak Sejarah Lokal Muhammadiyah" yang diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, beberapa waktu lalu.

photo
Foto-foto tokoh Muhammadiyah - (Dok Republika/Wihdan Hidayat)

Dalam bukunya itu, Mustakim menelaah sejarah lokal Muhammadiyah di Gresik antara tahun 1926 dan 2010. Yang menarik dari penelusurannya, pembentukan cabang Muhammadiyah di kota itu tak lepas dari Masjid Jami' Alun-alun Gresik.

Dia menuturkan, tokoh-tokoh muda Muhammadiyah kala itu berkumpul di bawah beduk masjid tersebut. Mereka berdiskusi untuk mengupayakan pendirian Muhammadiyah di Gresik.

"Di situ ada beberapa anak muda yang tertarik terhadap Muhammadiyah. Sebab, pada saat itu juga sudah ada kegiatan tabligh akbar yang mereka ikuti seiring dengan mulai masuknya Muhammadiyah di Surabaya pada 1921," jelasnya.

Di antara mereka, terdapat dua orang pemuda, yakni Faqih Usman (1904-1968) dan Asnan. Keduanya pun berangkat ke Yogyakarta, basis terbesar Muhammadiyah saat itu. Mereka juga berkoordinasi dengan KH Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah di Surabaya.

Kiai Mansur pun merestui upaya anak-anak muda itu dalam merintis Muhammadiyah di Kota Wali. Setelah berbagai persiapan tuntas, Faqih Usman diangkat menjadi ketua grup Muhammadiyah Gresik. Hingga akhirnya, Muhammadiyah Gresik diakui secara resmi sebagai cabang Muhammadiyah.

Gresik dapat dipandang telah menyumbang besar bagi perkembangan Muhammadiyah secara umum. Bahkan, KH Faqih Usman menjadi ketua umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah pada 1968. Akan tetapi, belum setahun memegang amanah tersebut, sosok yang pernah menjadi menteri agama RI itu meninggal dunia.

Dalam diskusi daring itu, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur Najib Hamid mengatakan, karya Mustakim menjadi salah satu contoh historiografi lokal Muhammadiyah. Menurut dia, penelitian sejarah persyarikatan ini di daerah-daerah merupakan suatu tantangan tersendiri.

Sebab, boleh jadi periset akan terkendala dalam mengumpulkan berbagai dokumen penting. Najib mengatakan, warga Muhammadiyah pada zaman dahulu memiliki pandangan yang khas tentang perilaku ikhlas beramal. Bagi sebagian mereka, ada keengganan untuk mencatat sejarahnya sendiri karena takut dianggap kurang ikhlas ber-Muhammadiyah.

 
Ada keengganan untuk mencatat sejarahnya sendiri karena takut dianggap kurang ikhlas ber-Muhammadiyah.
NAJIB HAMID, Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur
 

"Nanti kalau mengumpukan dokumen-dokumen itu, nanti katanya pamrih. Lalu dianggap, ya sudah ikhlas dan berbuat amal saja, enggak usah dicatat," kata Najib.

Selain itu, lanjut dia, pada masa lalu sebagian pimpinan Muhammadiyah cenderung tidak bertugas di kantor. Keadaannya memang berbeda seperti zaman sekarang ini. Alhasil, dokumen-dokumen pun kurang terarsip dengan baik. Menurut Najib, sebagai besar kantor cabang Muhammadiyah dahulu adalah rumah pribadi masing-masing pimpinannya.

Bagaimanapun, ia mendorong para peneliti Muhammadiyah untuk pantang menyerah dalam mengumpulkan bahan-bahan penulisan sejarah. Sebab, pelacakan tak melulu berkutat pada dokumen-dokumen tertulis. Wawancara para saksi atau bahkan pelaku sejarah tetap dapat diupayakan.

Najib mengatakan, buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004 (2005)adalah salah satu contoh rekonstruksi sejarah lokal Muhammadiyah yang mengandalkan wawancara narasumber-narasumber. "Maka, saya selalu tanamkan kepada kawan-kawan bahwa kita harus membuat jejak yang baik dan menulis apa pun yang kita lakukan," ujarnya.

Ia pun mengingatkan, zaman kini berbagai kemudahan tersedia. Adanya internet membuat jarak dan waktu dapat dipangkas. Ia menyarankan, hasil berbagai kajian dapat ditampilkan di laman Muhammadiyah meskipun secara berangsur-angsur. Adapun naskah yang utuh dapat langsung diterbitkan sebagai sebuah buku.

Hingga kini, pihaknya sudah menerbitkan sebanyak lima buku tentang sejarah lokal Muhammadiyah di Jawa Timur. Tidak hanya menyoroti aspek peristiwa, melainkan juga tokoh-tokoh setempat yang berperan dalam membesarkan persyarikatan. Maka dari itu, ia mengapresiasi karya Mustakim. Harapannya, penelitian lokal tak berhenti hanya di Gresik.

"Seperti di Madura, Tuban, itu juga perlu dijamah. Sebab, setahu saya ada peran besar orang Madura dalam mengembangkan dakwah Muhamamdiyah di Gresik, misalnya," kata dia.

Luar Jawa

Perhatian tentunya tak hanya tercurah pada perkembangan di Jawa. Luar Jawa pun menampilkan banyak dinamika Muhammadiyah. Umi Derliana, pimpinan Pesantren Kauman Muhammadiyah, Padang Panjang, Sumatra Barat (Sumbar), menegaskan hal itu. Menurut dia, para peneliti khususnya dari Sumbar terus berupaya mem perkuat penulisan sejarah Muhamadiyah.

Hingga kini, sudah cukup banyak buku yang membahas perkembangan Muhammadiyah di Kauman, seperti halnya sejarah tentang Kuliyatul Mubalighin yang pernah dipimpin Buya Hamka, seorang ulama Minangkabau yang aktif di persyarikatan tersebut.

"Kita di Kauman insya Allah juga akan membuat semacam museum kecil, yaitu Museum Hamka. Di mana, kita ingin nanti untuk penulusuran sejarah Hamka itu ada di Kauman," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, para peneliti juga terus menggali sejarah tokoh-tokoh Muhamamadiyah asal Minang selain sosok ketua umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu. Ia meyakini, ada banyak figur Muhammadiyah yang berperan penting di daerah-daerah, tetapi belum cukup diketahui luas secara nasional.

"Dan, kita bersyukur dengan adanya MPI PP Muhammadiyah yang datang ke Kauman memotivasi kita untuk menulis sejarah lokal Muhammadiyah di Kauman dan tokoh-tokoh di sini," ucapnya.

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Bachtiar, menambahkan, penulisan sejarah lokal sangat penting dalam rangka mewariskan hikmah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Sebagai gambaran, di Ranah Minang sendiri masih belum banyak yang mengungkapkan, bagaimana mulanya Muhammadiyah bisa berkembang seperti sekarang ini.

 
Penulisan sejarah lokal sangat penting dalam rangka mewariskan hikmah peristiwa masa lalu.
UMI DERLIANA, Pimpinan Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang
 

Penggalian sejarah lokal Muhammadiyah pun menjadi panggilan yang sangat relevan. "Tentu di Sumbar sangat penting dilakukan dalam rangka untuk me wariskan semangat ber-Muhammadiyah kepada generasi-generasi berikutnya," ujar dia.

Di Sumatra Utara (Sumut), telah ada upaya untuk mengompilasi sejarah-sejarah lokal setempat yang berkaitan dengan Muhammadiyah. Hal itu diungkapkan peneliti asal Sumut, Syaiful Hadi. Dia mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang menyusun suatu buku sejarah Muham madiyah Sumut.

Bahkan, sudah beberapa kali artikel-artikel yang akan ada dalam buku itu diseminarkan. Bagaimanapun, ada kendala sejauh ini, yaitu perdebatan tentang sejarah yang cukup alot. Alhasil, buku yang direncanakan itu belum bisa diterbitkan.

"Tapi, yang pasti dalam waktu dekat kami akan menerbitkan 50 Tokoh Muhammadiyah di Sumut yang sampai saat ini masih dalam proses penyusunan," kata Syaiful. "Insya Allah, kami akan bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Sumut dan Universitas Tapunuli Selatan untuk melakukan penelitian sejarah lokal ini," sambung dia.

Tak hanya di Indonesia. Geliat penulisan sejarah lokal Muhammadiyah juga tampak di negeri jiran. Peneliti sejarah Muhammadiyah di Malaysia, Agus Setiawan, menjelaskan, saat ini Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Muhammadiyah setempat sudah mengupayakan penyusunan suatu buku.

"Meskipun belum mengenai sejarah lokal Muhammadiyah, tetapi masih terkait dengan para pekerja berkemajuan," jelas Agus yang juga bekerja pada Antara di Kuala Lumpur, Malaysia, itu.

photo
Pembangunan Museum Muhammadiyah di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, beberapa waktu lalu - (Republika/ Wihdan)

 

Tantangan Seputar Historiografi Lokal

Tren penulisan sejarah (historiografi) lokal agaknya mulai mengemuka di Tanah Air sejak disertasi Prof A Sartono Kartodirdjo (1921-2007). Karya ilmiah yang diuji di Universitas Amsterdam (Belanda) itu berjudul The Peasants'Revolt of Banten in 1888.

Banyak kalangan menilai, buah tangan Prof Sartono itu adalah jembatan perkembangan ilmu sejarah di Indonesia. Guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) itu juga dikenang atas pandangannya yang arif tentang dunia riset.

Menurut dia, seorang sejarawan hendaknya tak sampai terpesona dengan aneka kisah raja-raja atau orang-orang besar (elite). Mereka semestinya memerhatikan pula, bagaimana sejarah dibentuk kalangan wong cilik, petani, atau rakyat biasa.

Jurnalis Republika Muhammad Subarkah menilai, pesan Prof Sartono masih relevan untuk digaungkan saat ini. Begitu pula dalam konteks historiografi organisasi-organisasi besar, semisal Muhammadiyah. Ia mengakui, penulisan sejarah lokal masih banyak menemui berbagai kendala.

"Jangankan sejarah Muhammadiyah, sejarah lokal Indonesia saja masih banyak gelap. Misalnya, sejarah kawasan timur Indonesia, Maluku atau Papua. Itu juga belum banyak yang mengkaji," kata Subarkah belum lama ini.

Sejarah dakwah Islam di Papua juga belum ada kajiannya. Apalagi, misalnya, sejarah kehadiran Muhammadiyah di sana --semuanya belum ditulis. "Belum masuk kurikulum sekolah," sambung dia.

Maka dari itu, ia menyambut gembira upaya Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah dalam mendiskusikan historiografi lokal Muhammadiyah. Para peneliti sejarah persyarikatan ini diharapkan tergerak untuk mulai mengkaji tema-tema lokal. Bagaimanapun, Subarkah melihat adanya beberapa kendala di lingkungan Muhammadiyah sendiri.

"Celakanya, di pendidikan atau universitas Muhammadiyah tak ada jurusan sejarah, kecuali kuliah menjadi guru sejarah. Maka, ormas Muhammadiyah harus mulai mengawali dengan memanfatkan jaringan pendidikan yang ada di mereka," ujarnya.

Menurut dia, organisasi sebesar Muhammadiyah tak akan kesulitan untuk mengatasi kendala demikian. Sebab, kehadirannya di berbagai daerah selalu diawali dengan adanya lembaga amal usaha. Artinya, persyarikatan ini pun sudah menjalankan aspek lokalitas untuk terus tumbuh hingga menjadi kekuatan yang menasional dan bahkan mendunia.

"Sejarah Indonesia memang masih Jawa dan tokoh-sentris. Pelopor sejarah yang rakyat atau lokal-sentris sudah ada, yakni almarhum Prof Sartono Kartodirdjo. Harapannya, para peneliti generasi sekarang dapat meneruskan apa-apa yang sudah dirintis beliau dalam dunia riset sejarah," katanya.


×