Surau Gadang, situs bersejarah yang berstatus cagar budaya. | DOK Republika/Febrian Fachri
01 Jun 2020, 20:12 WIB

Jejak Syekh Burhanuddin di Surau Gadang

Syekh Burhanuddin menjadikan Surau Gadang ini sebagai tempat yang nyaman bagi masyarakat.

OLEH FEBRIAN FACHRI

 

Sekilas, Korong Taluak Nibung Tanjung Medan tampak seperti desa-desa biasa di Sumatra Barat. Mayoritas masyarakat setempat bermata pencaharian sebagai petani. Ada banyak area persawahan di wilayah yang menjadi bagian dari Nagari Sandi Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, itu.

Bagaimanapun, lingkungan kampung tersebut memiliki nilai kesejarahan yang tinggi. Sebab, kawasan itu menjadi saksi perkembangan Islam di Ranah Minangkabau. Di Korong Taluak Tanjung Medan, Syekh Burhanuddin Ulakan memulai aktivitas dakwah. Ulama tersebut merupakan yang mula-mula menyebarkan agama tauhid di Kerajaan Pagaruyung, Sumatra Barat.

Terkait

Burhanuddin kecil lahir dari keluarga penganut Buddha. Perjumpaannya dengan seorang pedagang asal Gujarat membuatnya bersedia memeluk Islam. Menapaki usia dewasa, sosok kelahiran Ulakan (Pariaman) itu hijrah ke Aceh untuk berguru pada Syekh Abdur Raud as-Singkili. Mufti Kerajaan Aceh itu lantas merestui muridnya itu untuk berdakwah di tanah kelahirannya.

Baru-baru ini, Republika mengunjungi Surau Gadang Syekh Burhanuddin Ulakan di Korong Taluak Nibung Tanjung, Medan. Untuk mencapai lokasi, tidaklah terlalu sulit. Dari Padang, ibu kota Sumatra Barat, perjalanan ke sana dapat ditempuh dalam waktu satu jam dengan kendaraan bermotor. Malah, durasinya lebih ringkas lagi bila titik keberangkatannya dari luar provinsi atau Bandara Internasional Minangkabau. Dengan menumpangi mobil, pelancong dapat mencapai desa tersebut dalam waktu 40 menit.

photo
Surau Gadang, situs bersejarah yang berstatus cagar budaya. - (DOK Republika/Febrian Fachri)

Surau Gadang berdiri di atas lahan seluas kira-kira 4 hektare. Dari jalan raya, sudah tampak beberapa papan penunjuk untuk memandu pengunjung agar sampai di sana. Dalam lanskap budaya Minang, suatu masjid besar (surau gadang) biasanya disertai beberapa masjid kecil (surau ketek) di sekelilingnya.

Begitu pula dengan situs bersejarah ini. Sekira tiga kilometer dari Surau Gadang, terdapat Surau Pondok Ketek Ulakan. Bangunan ini didirikan para murid Syekh Burhanuddin.

Pagi itu, Republika menjumpai Surau Gadang yang terlihat sepi. Pintunya tertutup rapat. Memang, pada hari-hari biasa atau akhir pekan, kompleks cagar budaya tersebut cukup ramai disambangi para pengunjung. Apalagi, ketika bulan suci Ramadhan berlangsung. Namun, situasi pandemi Covid-19 mengubah keadaan tempat pariwisata sejarah religi ini. Publik lebih dianjurkan untuk tetap berada di rumah masing-masing serta menjauhi kerumunan.

photo
Khalifah XV Buya Hery Firmansyah - (DOK Republika/Febrian Fachri)

Kepada Republika, Khalifah XV dari Syekh Burhanuddin Buya Hery Firmansyah mengatakan, situs historis itu sudah berstatus cagar budaya. Hal itu berdasarkan pertimbangan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batu sangkar. Sejak 2014 lalu, pihak BPCB setempat telah melakukan pemugaran dengan tetap memperhatikan corak bangunan asli. Menurut dia, dahulu dinding-dinding surau itu terbuat dari kayu. Kini, sesudah tiga kali direnovasi, seluruhnya bangunan itu berbahan dasar beton.

"Ada yang sebut sudah empat kali renovasi. Namun, tetap tidak menghilangkan ciri khas dan makna dari bangunan Surau Gadang," kata Buya Hery pada akhir Ramadhan lalu.

Dia menjelaskan, Surau Gadang Syekh Burhanuddin memiliki luas sekitar 15x20 meter persegi. Atapnya mengikuti gaya gonjong bertingkat tiga. Itu menandakan perpaduan antara agama Islam dan adat istiadat Minangkabau. Ketiganya menggambarkan falsafah adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah.

photo
Makam ziarah Syekh Burhanuddin - (DOK Republika/Febrian Fachri)

Buya Hery mengatakan, Syekh Burhanuddin Ulakan membangun surau gadang ini sebagai pusat penyiaran agama Islam. Sang alim dari abad ke-17 itu memulai pendirian Surau Gadang sejak 1680 atau sepulangnya dari Aceh. Di sana, Syekh Burhanuddin tidak hanya membuka pondok pesantren, tetapi juga majelis Tarekat Syattariyah.

Buya Hery memaparkan, dakwah Syekh Burhanuddin pada mulanya tidak langsung dilakukan secara terang-terangan. Sebab, waktu itu masyarakat lokal masih memeluk agama Hindu-Buddha. Sang syekh menyampaikan ajaran Islam secara perlahan-lahan sembari membaurkan diri dengan penduduk.

Dari waktu ke waktu, dakwahnya pun mulai diterima khalayak luas. Syekh Burhanuddin kemudian berinisiatif membuka Surau Gadang sebagai pusat berbagai kegiatan masyarakat, seperti belajar, kesenian, hingga latihan bela diri (pencak silat). Kaum laki-laki yang belum menikah dipersilakan untuk menginap di sana.

photo
Surau Gadang, situs bersejarah yang berstatus cagar budaya. - (DOK Republika/Febrian Fachri)

"Syekh Burhanuddin menjadikan Surau Gadang ini sebagai tempat yang nyaman bagi masyarakat. Sehingga, lama-kelamaan dakwahnya mulai diterima masyarakat luas dan melanjutkan dakwah secara terang-terangan," ucap Buya Hery.

Surau Gadang ini kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Luhur Syekh Burhanuddin. Menurut Buya Hery, konsep pendidikan setempat agak berbeda dengan pesantren-pesantren pada umumnya zaman sekarang. Dalam arti, lembaga yang didirikan Syekh Burhanuddin itu hanya memiliki Surau Gadang dan beberapa surau-surau kecil di sekitarnya. Para santri dahulu menjadikan surau-surau kecil tersebut sebagai tempat belajar dan beristirahat.

Namun, lanjut Buya Hery, dalam tahun-tahun terakhir para santri Pondok Pesantren Luhur Syekh Burhanuddin menurun drastis. Sekarang hanya ada beberapa santri di sana dari sekitar nagari Ulakan untuk belajar mengaji dan baca tulis Alquran.

 

 


Terkini

,
×