Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Akbar Habibie memberikan paparan mengenai pesawat R80 beberapa waktu lalu. | Republika/Putra M. Akbar
13 Jul 2020, 03:54 WIB

Pesawat R80 Habibie Dihapus dari Proyek Strategis Nasional

R80 dalam proses mendapatkan investor dari luar negeri. 

JAKARTA -- Pemerintah memutuskan menghapus dua proyek pengembangan pesawat, yakni R80 dan N245, dari daftar proyek strategis nasional (PSN). Melalui rapat terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi, Jumat (29/5), sebanyak 89 PSN baru disepakati.

Dari 89 PSN tersebut, ada sejumlah proyek yang ditambahkan, ada pula yang dihapuskan atau digantikan. Salah satu yang dihapus adalah proyek pesawat yang direncanakan oleh Presiden ke-3, BJ Habibie, R80. Pesawat N245 yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia (persero) juga menggunakan konsep pesawat jarak dekat rancangan Habibie.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, pemerintah menambahkan tiga proyek drone atau pesawat tanpa awak dalam PSN 2020-2024 ini. Proyek drone inilah yang menggeser posisi pesawat R80 dan N245 dari daftar proyek strategis nasional (PSN).

"Terkait dengan tiga proyek drone. Di mana tiga proyek terkait pengembangan drone itu sebagai pengganti proyek yang dikeluarkan, antara lain, R80 dan N245. Sehingga, dialihkan menjadi teknologi drone yang dianggap lebih cocok dengan situasi saat sekarang dan pengembangannya sudah dimulai oleh PTDI," ujar Airlangga menjelaskan seusai rapat terbatas dengan Presiden Jokowi.

Terkini

photo
Miniatur rancangan pesawat R80 ditampilkan pada Jabar Habibie Festival, di Telkom University Convention Hall, Jumat (30/11/2018) - (Republika/Edi Yusuf)

Proyek pengembangan pesawat R80 yang sempat masuk dalam PSN ini dikerjakan oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang merupakan perusahaan bentukan Habibie bersama putranya, Ilham Akbar Habibie. Sementara, proyek pesawat N245 digarap oleh PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Kedua pesawat tersebut dirancang menjadi pesawat penumpang sepenuhnya dan digunakan dalam penerbangan jarak menengah. Investasi untuk pengembangan kedua proyek pesawat tersebut diperkirakan sebesar 180-200 juta dolar AS atau sekira Rp 2,6 triliun.

Dalam rapat terbatas kabinet Jumat, muncul 89 PSN baru. Dari 89 PSN yang disepakati, 56 proyek di antaranya adalah usulan baru. Sementara, 10 proyek merupakan proyek perluasan dari PSN sebelumnya, 15 proyek dikelompokkan sebagai program pemerintah baru, dan 8 proyek masuk dalam sektor ketenagalistrikan.

"Dari 245 proyek baru (yang diusulkan), hanya 89 proyek yang memenuhi kriteria. Dengan demikian, 156 proyek belum direkomendasikan karena masih butuh dukungan kementerian teknis dan perlu memenuhi kriteria sebagai PSN," ujar Airlangga.

Pada 2017 lalu, almarhum BJ Habibie sempat menyambut baik usulan Kementerian Perindustrian yang ingin menjadikan pengembangan pesawat R80 sebagai proyek strategis nasional. Dengan potensi dan kapasitas ekonomi domestik yang besar, menurut Habibie, kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap pesawat dan produk dirgantara lainnya akan terus meningkat setiap tahunnya.

"Saya rasa wajar. Apa jadinya Indonesia tanpa pesawat terbang. Kita harus membuat pesawat terbang itu karena kita tidak mampu membiayai ... membayar dengan uang dari mana? Ekspor apa?" ujar Habibie.

Progres baik

CEO PT RAI, Agung Nugroho mengaku belum mengetahui alasan di balik pencabutan proyek pesawat yang dirancang BJ Habibie dari PSN. Karena itu, dia belum bisa berkomentar banyak soal tergesernya proyek pesawat jarak sedang ini.

“Saya nggak bisa kasih statement sekarang. Kita pelajari dulu main reason-nya pemerintah dan Kemenko Perekonomian mencabut status ini,” tutur Agung kepada Republika, Jumat (29/5).

photo
CEO PT RAI, Agung Nugroho - (Republika/Mahmud Muhyidin)

Agung menambahkan, padahal saat ini proyek pesawat generasi terakhir dari regional turboprop ini dalam proses mendapatkan investor dari luar negeri. “R80 sedang dalam progres mendapatkan investor LN (luar negeri),” ujar Agung.

Republika sempat berbincang dengan Agung pada akhir 2017 lalu terkait perkembangan proyek R80. Saat itu, berdasarkan catatan RAI, prospek pesawat ini cukup menggembirakan. Sudah ada 155 pesawat R80 yang dipesan empat perusahaan meskipun R80 belum resmi diproduksi. Perusahaan pemesan R80, antara lain, NAM Air sebanyak 100 unit, Kalstar 25 unit, Trigana memesan 20 pesawat, dan Aviastar 10 pesawat.

Namun, saat ini jumlah pesanan R80 berkurang menjadi 130 pesawat karena satu perusahaan tak lagi beroperasi. “Kalstar tidak beroperasi lagi, jadi sementara ini angkanya adalah 130 pesawat,” kata Agung.

Menurut Agung, pesawat R80 mampu memuat 80 hingga 90 penumpang di saat pesawat regional turbopop lainnya hanya mampu mengangkut 72 penumpang. Fungsi R80 sangat cocok untuk kondisi di Indonesia sebagai negara maritim. Pengembangan pesawat ini sebenarnya diproyeksikan dapat menjadi pengumpan pesawat jarak jauh.

“Jadi, sama kelas dari regional turboprop, yang dirancang untuk penerbangan jarak dekat. Jadi, kita buat 800 mil jarak tempuhnya, dia bisa bolak-balik tanpa isi ulang bahan bakar,” tutur Agung saat itu. Artinya, jenis pesawat ini sangat cocok untuk negara kepulauan seperti di Indonesia. 


×