Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026. | EPA/Stringer

Ekonomi

Dilema Energi Asia Tenggara

Gangguan di Selat Hormuz menjadi titik krusial krisis energi global.

BANGKOK — Konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran memicu gangguan pasokan energi global yang langsung menekan negara-negara Asia Tenggara. Pemerintah di kawasan kini dipaksa memilih antara menekan konsumsi energi atau menambah beban subsidi untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Gangguan di Selat Hormuz menjadi titik krusial krisis energi global. Jalur sempit di pesisir Iran itu mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada harga dan pasokan energi global.

Negara-negara Asia bergerak cepat untuk mengamankan cadangan energi, menghemat konsumsi, serta bersaing mendapatkan pasokan minyak di tengah lonjakan harga. Namun langkah ini memunculkan dilema baru karena penghematan energi berisiko menekan aktivitas ekonomi, sementara prioritas pasokan untuk rumah tangga dapat mengganggu sektor usaha.

“Penghematan energi sekecil apa pun dapat menghambat aktivitas industri,” kata konsultan Control Risks Linh Nguyen, Ahad (17/3/2026).

Nguyen mencontohkan sektor ekspor padat energi di Vietnam yang rentan terdampak. Ia memperingatkan kenaikan tarif energi atau pembatasan konsumsi dapat mendorong biaya produksi dan menahan output pabrik.

Pakar energi dari Energy Shift Institute Putra Adhiguna mengatakan, dilema ini tidak hanya terjadi di Asia, tetapi juga di negara-negara importir minyak lainnya. “Situasi ini umum di semua sektor, tidak ada keputusan yang mudah diambil untuk jangka-pendek,” kata Putra.

Sejumlah negara mulai menerapkan kebijakan penghematan energi secara agresif. Filipina memangkas hari kerja menjadi empat hari untuk menekan konsumsi BBM dan listrik, sementara kantor-kantor diminta mematikan perangkat saat jam istirahat dan membatasi penggunaan pendingin ruangan.

Vietnam meminta kilang dan distributor menjaga pasokan, sedangkan Thailand memaksimalkan cadangan minyak yang diperkirakan hanya cukup untuk dua bulan. Kedua negara tetap mengandalkan subsidi untuk meredam dampak lonjakan harga energi terhadap rumah tangga.

Thailand bahkan menghentikan ekspor energi untuk menjaga cadangan domestik. Kebijakan ini berdampak pada kawasan, termasuk memicu kelangkaan di Kamboja hingga hampir sepertiga dari 6.000 stasiun bahan bakar dilaporkan tutup.

Pemerintah Thailand juga menginstruksikan penghematan di sektor publik, termasuk meminta pegawai menggunakan tangga dibanding lift. Langkah ini mencerminkan tekanan serius terhadap ketahanan energi nasional.

Pakar Thailand Development Research Institute Areeporn Asawinpongphan mengatakan penghentian subsidi berisiko memicu lonjakan biaya hidup. Kondisi itu dapat memicu kepanikan dan mempercepat pengurasan cadangan energi.

Indonesia menghadapi tekanan serupa, terutama di tengah momentum Ramadan dan Idul Fitri. Pemerintah berkomitmen menjaga harga BBM selama periode tersebut, namun ketidakpastian meningkat setelahnya.

“(Namun) belum diketahui pasti apa yang akan terjadi setelah itu,” kata Putra.

Putra menilai Indonesia berpotensi menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan subsidi atau menyesuaikan anggaran negara. Ia mengingatkan, dengan cadangan minyak yang terbatas sekitar 20 hari, gejolak harga dapat terjadi dengan cepat. “Pada akhirnya, ini akan mencapai titik kritis,” katanya.

Di tengah ketegangan, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap berlangsung terbatas. Data menunjukkan sekitar 90 kapal, termasuk tanker minyak, masih melintasi jalur tersebut sejak konflik dimulai, meski sebagian dilakukan melalui “pelayaran gelap” untuk menghindari pengawasan dan sanksi.

Perusahaan data maritim Lloyd’s List Intelligence mencatat praktik ini meningkat, termasuk kapal yang diduga memiliki keterkaitan dengan Iran. Sejumlah kapal yang terkait dengan India dan Pakistan juga dilaporkan berhasil melintas melalui jalur tersebut.

Harga minyak mentah sempat menembus 100 dolar AS per barel, mendorong Amerika Serikat menekan sekutu untuk membuka kembali jalur pelayaran. Namun, serangan terhadap sekitar 20 kapal sejak awal Maret menunjukkan risiko keamanan di kawasan masih tinggi.

Situasi ini menegaskan bahwa krisis energi global bukan hanya soal pasokan, tetapi juga stabilitas ekonomi. Negara-negara Asia Tenggara kini berada di persimpangan, antara menjaga daya beli masyarakat atau mempertahankan kesehatan fiskal di tengah ketidakpastian global.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat