Perawat, bidan, dan pekerja garis depan di Universitas Pendidikan Kenyatta mengikuti pelatihan di Nairobi, Kenya, Ahad (17/5). Mereka mengikuti pelatihan itu guna menghindari gangguan mental saat bekerja di saat pandemi. | EPA-EFE/DANIEL IRUNGU
27 May 2020, 01:37 WIB

Demi Viral di Masa Pandemi

Gangguan kejiwaan mengintai di masa pandemi.

Oleh ARIF SATRIO NUGROHO, RR LAENY SULISTYAWATI, LINTAR SATRIA

Media sosial dihebohkan dengan unggahan lelang keperawanan untuk Covid-19 oleh selebgram Sarah Salsabila. Perempuan yang mengambil nama tenar Sarah Keihl itu mengunggah konten video kontroversial di Instagram pada Rabu (20/5) malam.

"Bismillah, keputusan yang cukup berat dalam hidupku," tulis dia di pembuka keterangan atau caption unggahannya itu. Adapun dalam video, Sarah berujar bahwa semua pihak sudah merasakan dampak dari pandemi Covid-19. "Aku sendiri sebagai pengusaha ngerasain banget kalau ekonomi lagi drop, apalagi para pelaku bisnis UMKM bagaimana mereka bertahan hidup dari bulan ke bulan," kata dia.

Lalu Sarah bicara soal margin ekonomi global yang menurun sembari menyebut  pemerintah Indonesia sudah berusaha semaksimal. Kemudian, ia menyinggung dampak Covid-19 pada tenaga medis untuk masyarakat menengah ke bawah.

Terkini

"Di sini aku Sarah aku akan ngambil keputusan terbesar dalam hidup aku, aku akan ngelelang keperawanan aku mulai dari Rp 2 milyar dan 100 persen dananya akan didonasikan dan disumbangkan pada para pejuang Covid-19 dan semua yang membutuhkan. Terima kasih aku harap kalian bisa ngambil positifnya," ucap Sarah.

Video tersebut menuai berbagai reaksi dan komentar. Baru beberapa saat kemudian, video tersebut sudah tak dapat diakses. Yang dilakukan Sarah tersebut yang terkini dari rangkaian “kegilaan” di media sosial selama masa pandemi belakangan.

Sebelumnya, ada pembuat konten Ferdian Paleka yang saat ini telah ditangkap pihak kepolisian. Di ujung bulan lalu, Ferdian mengunggah konten berisi rekamannya membohongi sejumlah transpuan di Bandung dengan paket bantuan yang berisi sampah. "Pas diterima, dibawa dulu. Pas dibuka isinya toge busuk. Sakit hati (saya) sampai diposting di media sosial," kata salah seorang korban, Sani (nama panggilan).

Lain waktu, ada juga para selebram seperti drummer band Superman is Dead, Jerinx serta Indira Kalista yang jadi viral karena dengan emosional mengkampanyekan pandangan mereka yang dinilai keliru soal pandemi.

photo
Tersangka kasus candaan bantuan sosial yang berisikan sampah dan batu kepada transpuan, Ferdian Paleka dihadirkan saat gelar perkara di Polrestabes Bandung, Jawa Barat, Jumat (8/5). - (AHMAD FAUZAN/ANTARA FOTO)

Setelah membuat geger, Sarah Keihl berdalih yang ia lakukan hanya candaan. "Sebenarnya lelang Keperawanan itu bentuk sindiran aku terhadap masarakat yang nggak peka sama situasi kayak gini (pandemi) masih nongkrong dan lain lain aku tujuannya sarkasme/bercanda," tulisnya kemudian. Ia kemudian meminta maaf.

Sensing mentality

Tapi menurut pengajar Psikologi Universitas Gadjah Mada Bagus Riyono, yang dilakukan Sarah tak semata bercanda. "Secara singkat pesan tersebut inkoheren. Secara psikologis ketika perilaku yang muncul tidak koheren, artinya dia mengalami gangguan, bisa gangguan emosi atau kognitif yang implikasinya tidak sehat bagi dirinya, dan memiliki pengaruh buruk pada lingkungannya," kata Bagus saat dihubungi Republika, Kamis (21/5).

Lebih lanjut, kata Bagus, dalam bisa diindikasikan pula bahwa orang tersebut punya maksud tertentu untuk membuat sensasi supaya mendapatkan perhatian dengan cara apapun. "Karena itu yang diharapkan olehnya. Jadi mirip dengan fenomena hoaks yang memiliki dinamika psikologis serupa. Demi menjadi viral, mereka melakukan apa saja," kata dia.

Dalam tinjauan psikologi, kata Bagus, penyakit tersebut bisa disebut sensing mentality. Gangguan ini merupakan sebuah gangguan kepribadian yang banyak menjangkiti masyarakat pegiat sosmed di masa saat ini. "Menjadi tujuan yang tidak jelas lagi alasannya (melakukan tindakan tersebut)," ujar Bagus menambahkan.

Para pakar di Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) mengiyakan, lamanya pandemi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) jika terus berlanjut dan dibiarkan bisa menimbulkan persoalan kesehatan jiwa. Covid-19 bisa menimbulkan dua masalah kejiwaan yaitu orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) hingga yang terparah menjadi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Seger Handoyo menjelaskan, persoalan kesehatan jiwa tidak hanya disebabkan oleh jika langsung terdampak penyebaran virus. Namun juga karena masyarakat harus bekerja dari rumah, sekolah dari rumah,  dan tidak dapat bepergian secara bebas. Kemudian persoalan ekonomi karena penurunan pendapatan, mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), kesulitan berusaha, dan sebagainya.

"Hal tersebut bisa menimbulkan persoalan kesehatan akibat pandemi Covid-19 yaitu ODMK hingga ODGJ," ujarnya saat webinar di akun Youtube saluran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (14/5).

Ia menjelaskan ODMK dan ODGJ berbeda. ODMK adalah orang yang mengalami kekhawatiran, atau kecemasan. Kendati demikian, mereka masih dapat beraktivitas secara normal, namun mengalami perasaan tidak nyaman atau luka batin.

Seger menegaskan luka batin sama halnya seperti luka fisik. Walau kecil harus segera diobati agar tidak membesar dan mengakibatkan luka yang lebih serius. Kemudian bila kecemasan ini terus berlanjut akan menjadi masalah serius.

Krisis kejiwaan

Yang bersangkutan akan mengalami kecemasan yang berlebihan, tidak terkendali, dan menjadi tidak rasional dalam menghadapi virus tersebut. Kekhawatiran yang berlebihan ini bisa sampai membuat orang merasa merasa gelisah, sulit tidur, merasa lelah, mudah marah, berkeringat, dan gemetaran serta berperilaku tidak berani keluar rumah dan bertemu dengan orang lain. "Jika sudah seperti itu maka orang itu akan terganggu. Artinya status orang ini meningkat dari ODMK menjadi ODGJ," katanya.

Ia menambahkan, apabila banyak orang kehilangan pekerjaan tetapi tidak dibantu, kesulitan mendapatkan penghasilan, mempunyai pendapatan tetapi harus terus berada di rumah, dampaknya bisa panjang. Jika hal ini terus terjadi, ia menyebutkan bukan tidak mungkin terjadi kenaikan ODGJ yang besar di Indonesia. "Artinya bisa timbul krisis baru yaitu krisis kesehatan jiwa," ujarnya.

Karena itu, dia menambahkan, krisis itu tidak terjadi. Ia menegaskan bantuan terhadap ODMK atau orang yang mengalami luka batin akibat Covid-19 harus diberikan secara nasional untuk menjaga ketahanan kesehatan mental bangsa Indonesia.

"Pemerintah telah merespons persoalan tersebut dengan membuat layanan psikologi sehat jiwa atau sejiwa. Layanan ini diluncurkan 28 April 2020 lalu dan bisa diakses dengan menghubungi 119 lalu tekan 8," katanya.

Selain itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk saling memberikan perhatian dan dukungan emosional kepada keluarga, teman, tetangga dan bantuan apapun kepada yang membutuhkan. Upaya ini disenutnya akan meringankan beban psikologis orang membutuhkan.

Lebih lanjut, ia menyebutkan pandemi Covid-19 saat ini kondisi yang baru untuk semua orang sehingga yang terbaik adalah belajar bersama menghadapi situasi ini. Karena itu, ia meminta semua pihak perlu belajar bersama.

Termasuk memahami bahwa berkumpul dengan banyak orang dan tidak mengindahkan protokol kesehatan itu akan berakibat fatal karena akan banyak orang yang tertular virus Covid-19.  "Maka kita harus belajar tentang itu dan disiplin tidak datang atau membuat acara yang mengumpulkan banyak orang. Kita harus belajar dan disiplin tetap di kota, pakai masker, cuci tangan, menggunakan masker, dan saling membantu gotong royong," ujarnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sebelumnya memperingatkan ancaman krisis kesehatan mental global. Pasalnya jutaan orang terpaksa melakukan isolasi yang memicu kegelisahan akut karena terus-menerus mendengarkan begitu banyak berita kematian dan infeksi. "Isolasi, kematian, ketidakpastian, gejolak ekonomi, semuanya bisa atau sudah menyebabkan tekanan psikologis," kata direktur departemen kesehatan mental WHO Devora Kestel, Kamis (14/5).

Saat menyajikan laporan dan pedoman kebijakan Covid-19 dan kesehatan jiwa PBB, Kestel mengatakan semakin besar kemungkinan munculnya sejumlah masalah kesehatan mental serius. Pemerintah, katanya, harus 'memusatkan dan mengedepankan' masalah ini dalam respon mereka menghadapi Covid-19. "Kesehatan mental dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan berdampak cukup parah oleh krisis ini dan isu harus menjadi prioritas untuk diatasi," kata Kestel.

Laporan ini menitikberatkan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap tekanan mental. Seperti anak-anak dan remaja yang terisolasi dari teman dan sekolah mereka. Serta petugas kesehatan yang melihat ribuan pasien terinfeksi dan sekarat karena virus korona.

Berdasarkan kajian dan penelitian yang sudah ada menunjukkan Covid-19 berdampak buruk pada kesehatan jiwa masyarakat di seluruh dunia. Para psikolog mengatakan anak-anak menjadi gelisah.

Beberapa negara melaporkan semakin banyak kasus depresi dan kegelisahan. Kekerasan dalam rumah tangga juga meningkat. Kebutuhan petugas medis terhadap dukungan psikologis juga meningkat.


×