Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika
20 May 2020, 21:57 WIB

Fikih Milenial: Bermaaf-maafan Via Digital

Bermaaf-maafan dan menyampaikan ucapan selamat saat Id itu diperkenankan.

Diasuh oleh Ustaz Dr ONI SAHRONI MA

Idul Fitri di Indonesia memang unik karena menjadi momentum untuk berrsilaturahim dan bermaaf-maafan. Biasanya, tidak hanya di hari Idul Fitri, tetapi sejak satu hari sebelumnya setiap orang mengirim ucapan doa (taqabbalallahu minna wa minkum shalih al-a'mal: selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin) kepada kerabat, teman kerja, baik melalui nomor kontak pribadi atau grup Watsapp, baik berbentuk ucapan biasa, video, ataupun konten lain.

Al-Hafiz berkesimpulan bahwa bermaaf-maafan dan menyampaikan ucapan selamat itu diperkenankan (masyru'). Bahkan, al-Baihaqi membuat satu bab mengucapkan taqabbalallahu minna wa minka pada saat Id dan berkesimpulan bahwa itu diperkenankan sebagai bentuk syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan.

Syekh 'Athiyah Saqr berkesimpulan: "Sesungguhnya tidak ada larangan untuk menyampaikan ucapan selamat kepada yang lain dalam momentum-momentum tertentu, bahkan ucapan tersebut bisa dikategorikan sunah jika bermaksud membuat saudaranya bergembira dengan ikut serta dalam momentum seperti Id tersebut." Sebagaimana Rasulullah SAW ditanya, perbuatan apa yang paling afdal. Rasulullah SAW bersabda: '.. . membuat Muslim yang lain bahagia ....'" (HR Thabrani).

Terkait

Sesungguhnya budaya bermaaf-maafan dan bersilaturahim dengan cara seperti yang biasa dilakukan oleh umat Islam di Indonesia itu menjadi kebiasaan/taqalid atau bid'ah yang baik (hasanah)dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Sebagaimana atsar yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata: "Apa yang dilihat baik oleh umat Islam, maka baik pula bagi Allah. Dan apa yang dilihat buruk oleh umat Islam, maka buruk pula bagi Allah." (Riwayat Ahmad).

Hal ini didasarkan pada tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya untuk saling meminta maaf dan memaafkan: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS al- A'raf: 199).

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat) ...." (HR Muslim)

Nash-nash tersebut berisi perintah dan anjuran kepada kaum Muslimin untuk saling meminta maaf dan memaafkan antara saudara-saudara mereka dan sesama Muslim lainnya. Perintah tersebut itu umum, tidak terkait dengan momentum tertentu seperti Idul Fitri, tetapi ditunaikan setiap saat.

Walaupun bermaaf-maafan tersebut dilakukan melalui digital tanpa tatap muka, tetapi jika disampaikan dengan penuh ketulusan (keikhlasan), menunaikan adab dan maqashid(target)-nya, maka tidak mengurangi substansi dan manath bermaaf-maafan dan silaturahim yang dilakukan dengan tatap muka saat silaturahim dan mudik ke tempat keluarga.

Khususnya, ucapan maaf tersebut juga ditujukan kepada mereka yang pernah mendapatkan muamalah yang tidak baik dari pihak yang mengucapkan selamat, sehingga masing-masing lapang, rida, dan mengikhlaskan. Wallahu a'lam.


×