Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
26 May 2020, 11:49 WIB

Hukuman Ganda untuk Rasul, Jika... (I)

Oleh AHMAD SYAFII MAARIF                 

 

 

Kisah para rasul Allah, sejak dari Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan banyak yang lain adalah rentetan kisah perjalanan berat, panjang, dan sarat tantangan yang datang bertubi dalam upaya menegakkan tauhid dan keadilan. Nabi Nuh yang hidup selama 950 tahun (alfa sanatin illâ khamsîn, surah al-‘Ankabût ayat 14) karena jengkel terhadap kaumnya yang tetap membangkang dengan kepala batunya, akhirnya memohon kepada Allah dengan kalimat pungkasan ini: Dan berkatalah Nuh: “Ya Tuhanku! Janganlah Engkau sisakan orang kafir seorang pun tinggal di bumi.” (Lih Alquran surah Nuh ayat 26). Mungkin ini adalah permohonan paling keras yang pernah disampaikan oleh seorang rasul kepada Allah yang mengutusnya.

Terkini

Rasul-rasul lain dalam lipatan kurun yang panjang punya caranya masing-masing dalam menyampaikan pengaduannya kepada Allah, tetapi tidak akan dikutip di sini. Kita langsung saja kepada rasul terakhir, Muhammad SAW. Beliau juga terpaksa meninggalkan kampung halamannya (Makkah) karena sengitnya permusuhan dari kaum musyrik Quraisy. Bahkan, darahnya menjadi halal di kota kelahirannya itu. Tetapi pengusiran ini sebenarnya bisa dihindarkan sekiranya Muhammad bersedia berkompromi dalam masalah-masalah prinsip teologis dengan musuhnya yang sesuku itu. Tentu ajakan kompromi jahat yang memasuki ranah akidah ini adalah pantangan untuk dilakukan oleh seorang rasul. 

Muhammad tidak bergeser seujung rambut pun dalam memegang teguh pendirian tauhidnya di tengah-tengah ancaman maut, bujuk-rayu, dan janji-janji duniawi yang silih berganti ditawarkan. Sekiranya beliau sedikit saja bergeser, inilah ancaman hukumannya yang disampaikan wahyu dalam surah Makkiyah al-Isrâ’ ayat 73-75. Kita kutip maknanya: “Dan sungguh, hampir saja mereka memalingkanmu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar engkau mengada-adakan sesuatu yang lain terhadap Kami. Jika itu yang berlaku, tentulah mereka menjadikanmu kawan. Dan sekiranya Kami tidak memberimu kekuatan (lau lâ an tsabbatnâka), niscaya engkau sedikit cenderung kepada mereka. Jika yang demikian terjadi, pastilah Kami rasakan kepadamu siksaan ganda di dunia ini (dhi’fa al-hayâti) dan siksa ganda  [sesudah] mati (dhi’fa al-mamâti). Kemudian tiada engkau mendapatkan seorang penolong pun berhadapan dengan Kami.”

Mufassir Hasanaian Muhammad Makhlûf menafsirkan perkataan dhi’fa al-hayâti dan dhi’faal-mamâti dengan ‘adzâban mudhâ’afan fî al-hayâti al-dunyâ dan ‘adzâban mudhâ’afan fî al-mamâti//siksa ganda dalam kehidupan dunia dan siksa ganda [sesudah] mati. (Lih. Shafwatu al-Bayâni lima’ânî al-Qur’ân. Kuwait: Wizâratu al-auqâf wa al-syuûni al-islâmiyah, 1987, hlm. 370). Hampir semua mufassir Arab Muslim menafsirkan serupa itu dengan redaksi yang bervariasi. Sedangkan mufassir A Hasan dari Indonesia menafsirkan begini: “...dua kali ganda (kesusahan) hidup, dan dua kali ganda (kesusahan) mati.” (Lih. A. Hassan, Al-Furqan. Jakarta: Tintamas, 1962, hlm. 544).

 
Inilah trilogi ajaran wahyu yang revolusioner yang disampaikan kepada masyarakat Makkah yang tidak hirau dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai keadilan.
 
 

Kita bisa membayangkan betapa beratnya beban batin seorang Muhammad yang berhati lembut, santun, patuh, dan pemalu, mendapat peringatan yang seperti itu. Dalam batas-batas duniawi, Muhammad telah berjuang bersama pengikutnya secara maksimal, baik pada masa Makkah maupun masa Madinah. Bekerja keras selama hampir 13 tahun di Makkah, hasilnya amat jauh dari harapan. Tetapi wahyu dengan apik menghiburnya: “Tiada Kami turunkan kepadamu Alquran untuk membuatmu menderita (litasyqâ).” (Alquran, surah Thâhâ ayat 2).

Apa yang diperjuangkan Muhammad dengan sudah-payah itu? Dari surat-surat Makiyah, kita dapat menyimpulkan bahwa yang diperjuangkan itu ialah tegaknya tauhid (monoteisme), diterimanya doktrin tentang kesatuan umat manusia, dan tegaknya keadilan yang merata. Inilah trilogi ajaran wahyu yang revolusioner yang disampaikan kepada masyarakat Makkah yang tidak hirau dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai keadilan, sekalipun mereka percaya adanya Tuhan sebagai Pencipta langit dan bumi dan [memudahkan] perjalanan matahari dan bulan, (Alquran surah al-‘Ankabût ayat 61). Tetapi kepercayaan kepada Tuhan itu tidak terkait dengan nilai kemanusiaan dan keadilan.  Elite oligarki Makkah hanya kenal lapisan luar dari kehidupan: “Mereka hanya kenal sisi luar dari kehidupan duniawi, sedangkan terhadap akhir segala sesuatu (al-âkhirah) mereka tidak hirau.” (Alquran, surah al-Rûm ayat 7).

Dalam bacaan saya, semua rasul yang pernah diutus Allah memang dilengkapi dengan bangunan mental yang tahan banting, penyabar, pemaaf, dan kokoh dalam pendirian. Sedikit saja melakukan kekhilafan sekalipun untuk tujuan baik, wahyu langsung menegur. Tetapi sebagai manusia biasa, tidak jarang pula mereka pada saat-saat tertentu harapannya menjadi pupus menghadapi perlawanan kaumnya yang berhati kelam dan hitam. Inilah kesaksian Alquran dalam surah Yûsuf ayat 110: “Hingga apabila harapan para rasul itu telah pupus dan mereka mengira bahwa mereka telah didustakan, datanglah pertolongan Kami, lalu diselamatkan siapa yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari kaum pendurhaka-durjana.” n


×