Ilustrasi ibadah pada Ramadhan | Wihdan Hidayat/Republika
15 May 2020, 01:21 WIB

Maksimalkan Ibadah di Pengujung Ramadhan

Banyak orang menyayangkan pengujung Ramadhan sudah tiba, tapi amal kebaikan belum seberapa.

OLEH MEILIZA LAVEDA

 

Tak terasa, Ramadhan telah memasuki sepuluh hari terakhirnya. Banyak umat Islam memaksimalkan ibadahnya pada penghujung bulan suci Ramadhan 1441 Hijriyah. Tak hanya orang tua, tetapi juga anak muda. 

Pada bulan puasa kali ini, Dwi Anggrainy (22 tahun) lebih banyak beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sampai kini, ibadah puasanya belum ada yang batal. Dia pun memicu dirinya untuk terus mengaji, shalat Tarawih, menonton kultum, bahkan berzikir.

Terkait

Dwi mengakui, pada Ramadhan sebelumnya, dia jarang beribadah. Shalat Tarawih hanya dia lakukan pada sepuluh hari pertama Ramadhan. “Dulu tuh pas Ramadhan sebelumnya, buka (puasa) diam-diam gitu. Itu di luar halangan (menstruasi) ya,” ujarnya kepada //Republika, Kamis (14/5). 

Oerbaikan ibadahnya kini karena dukungan dan ajakan orang tuanya untuk beribadah. Saat di rumah, orang tuanya sering mengingatkan agar tidak lupa beribadah. “Mama sering ingetin, umur itu enggak ada yang tahu, makanya harus sering ibadah,” ujarnya. 

Ibadah di sini berupa shalat, baik yang wajib maupun sunnah. Lainnya adalah puasa, zakat, haji. Zikir pun termasuk dalam Ibadah. Bahkan segala amal kebaikan jika diniatkan untuk ketundukan kepada Allah, akan bernilai ibadah.

Selain beribadah, Dwi juga mulai rajin membaca pengetahuan seputar Islam. Laman media sosialnya pun juga penuh dengan informasi-informasi terkait Islam, baik penggalan ayat Alquran maupun hadis. 

Kebiasaan ini sangat kontras pada dirinya sebelumnya. Sebelum adanya pandemi Covid-19, dia jarang di rumah lantaran banyak menghabiskan waktu di luar. Itu yang menyebabkan Dwi jarang beribadah. Shalat jarang dia lakukan karena kegiatan kuliahnya cukup padat. 

Dia bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bisa kembali mengingat Allah SWT. Terutama, pada momen Ramadhan ini. Dwi kini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berzikir. Dia juga berharap agar dirinya bisa mendapat malam Lailatul Qadar karena itu sangat berarti bagi dirinya. 

Suasana sekarang sangat berbeda menjelang Lebaran nanti. Apalagi, jika ada kemungkinan shalat Id dilakukan di rumah. Semarak shalat Id yang biasa dilakukan berjamaah di masjid atau lapangan terbuka tidak akan dirasakan tahun ini. Meski begitu, dia tetap mengikuti keputusan pemerintah. 

Dia juga berharap, tetap istiqamah beribadah meski Ramadhan telah usai. Sebab, ibadah adalah jalan menuju ketenangan. Pribadinya menjadi lebih positif dan damai. Hati menjadi fokus untuk berbuat kebaikan. Menyebut asma Allah di kala senggang. Bertutur kata yang tidak menyakiti perasaan orang lain. Juga memasrahkan segala yang dimiliki untuk Allah semata.

Dian Ayu Lestari (24 tahun) merasakan, Ramadhan kali ini membuatnya menjadi lebih giat beribadah. Saat membaca Alquran, dia berupaya agar bisa memenuhi target khatam 30 juz pada Ramadhan kali ini. Caranya dengan menyelesaikan satu juz dalam sehari. Tak hanya itu, dia juga berupaya memahami makna firman Allah yang dinilainya inspiratif.

Dia sangat berharap bisa mendapatkan malam Lailatul Qadar: malam dengan ganjaran beribadah selama seribu bulan, yang di dalamnya Allah menurunkan malaikat dan ruh mereka yang sudah tiada.

Namun demikian, Dian mengaku masih harus membiasakan diri untuk giat beribadah, sebab masih belum stabil. Hari ini banyak beribadah, tapi malas pada hari yang akan datang. "Aku kan masih dalam tahap hijrah ya kadang kala memang belum stabil," kata Dian.

Dia ingin merasa lebih dekat dengan Allah SWT melalui kajian tauhid, yaitu pengajian yang mengupas persoalan akidah, terutama enam rukun iman yang wajib diyakini setiap Muslim. Dengan memahami hal tersebut, kemudian ditambah dengan amal ibadah yang konsisten, Dian meyakini akan lebih memahami hakikat berislam yang sesungguhnya.

Berdasarkan pengalamannya, seseorang yang baru berhijrah, semangatnya akan menggebu-gebu. Namun, di pertengahan jalan, semangatnya mengendur. Sebabnya, dia mengalami kejenuhan dan tidak ada yang mengarahkan harus berbuat apa. 

Dian memahami ini sebagai proses yang harus ditempuh. Pada titik tertentu, orang yang berhijrah akan konsisten menjalankan tradisi beribadah. “Ada yang suka dengan banyak zikir, ada yang suka sedekah, ada yang suka puasa. Pilih salah satu yang bisa dilakukan rutin,” ujarnya.

Pendakwah Imam Shamsi Ali menjelaskan, hari-hari sepuluh terakhir Ramadhan disiapkan oleh Allah SWT untuk hamba-hamba yang merindukan pertemuan dengan-Nya. Pertemuan yang dimaksud, yaitu pertemuan batin sebelum pertemuan yang sesungguhnya di akhirat kelak. 

Pada hari-hari terakhir setelah melalui perjuangan dan komitmen kedekatan dengan Allah SWT, seorang hamba akan semakin merasakan kerinduan itu. Setelah melalui hari-hari perjuangan mengesampingkan godaan dunia, seorang hamba akan semakin bersinar jiwanya. Sinar itulah yang menjadi titik kerinduan kepada Allah SWT.

"Semoga, di hari-hari terakhir ini, hati kita semakin merasakan kerinduan itu. Kerinduan yang melahirkan ketenangan dalam langkah menuju ridha-Nya," kata Imam Shamsi Ali.


×