Acara doa bersama | Erdy Nasrul/Republika
15 May 2020, 01:41 WIB

Ramadhan, Doa Bersama, dan Solidaritas Dunia

Doa bersama pada Ramadhan ini sangat strategis untuk kemaslahatan dunia, yaitu kemanusiaan universal.

 

JAKARTA – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) bekerja sama dengan Komite Tinggi Persaudaraan Kemanusiaan menggelar Doa Bersama untuk Kemanusiaan pada Kamis (14/5). Doa bersama ini menjadi bagian dari seruan berdoa serentak di seluruh dunia pada 14 Mei 2020 dari Syekh Al-Azhar Prof Ahmad At-Thoyyib.

Ketua Wantim MUI Prof KH Din Syamsuddin mengatakan, pandemi Covid-19 adalah salah satu dari manifestasi kerusakan dunia dan kerusakan global yang bersifat akumulatif. "Maka, seruan Grand Syekh Al-Azhar untuk doa bersama bagi kemanusiaan sangat penting dan tepat waktu," kata ujarnya.

Doa bersama ini dimaksudkan untuk memohon pertolongan Sang Pencipta Yang Mahakuasa untuk memberi kekuatan lahir dan batin kepada umat manusia. Tujuannya, supaya bisa membebaskan diri dari pandemi Covid-19.

Terkait

Doa Bersama untuk Kemanusiaan secara virtual ini berjalan lancar. Grand Syekh Al-Azhar juga menyampaikan pesan-pesannya melalui tayangan video. Hadir pula Duta Besar Republik Indonesia Untuk Mesir, Helmy Fauzy, dalam acara doa bersama tersebut.

Helmy mengatakan, sebagai umat beragama tentu yakin bahwa musibah ini adalah ujian dari Allah SWT. Namun, secara bersamaan, manusia seyogianya tidak pernah putus asa dan tetap berusaha mencegah wabah Covid-19 agar tidak terus memakan korban.

"Kita juga berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT agar dengan rahmat-Nya pendemi ini dapat segera berakhir," kata Helmy.

Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ikut dalam kegiatan ini. Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, mengajak bersama-sama mengetuk pintu langit di momen Hari Doa Sedunia ini.

Menag mengatakan, selama ini, serangkaian upaya lahir, seperti penanganan pada aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan keamanan telah ditempuh pemerintah untuk menghadapi pandemi Covid-19. Serangkaian doa masing-masing umat beragama secara nasional telah dipanjatkan. 

Menag mengingatkan, upaya dan doa tidak boleh dikendurkan. "Mari kita bersama mengetuk pintu langit untuk kemanusiaan, khususnya agar Tuhan berkenan mencabut ujian yang bernama Covid-19," kata Menag saat memberi sambutan.

Wakil Ketua Wantim MUI Prof. Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa sebetulnya Allah telah mengingatkan umat manusia dengan empat macam pandemi dalam Al-Quran. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal itu, Allah menjadikan musuh manusia dengan sesuatu yang amat sangat kecil sehingga menyadarkan kita untuk tidak sombong.   

Prof Quraish Shihab dalam tausiyah singkatnya mengutip beberapa ayat Alquran, di antaranya surat An-Nisa: 147. Bahwa bisa jadi, ujian ini menimpa umat manusia karena kurangnya rasa syukur kepada-Nya. Doa juga dipanjatkan oleh KH. Abdul Rosyid Syafii dari Jakarta, KH. Prof. Didin Hafiduddin, KH. Lukman Haris Dimyati dari Ponpes Tremas, dan lain-lain.

photo
KH Hasan Abdullah Sahal - (Republika/Iman Firmansyah)

Pimpinan Gontor KH Hasan Abdullah Sahal saat diberi waktu bicara beliau menyampaikan agar manusia meningkatkan kesyukurannya, dan tidak lagi berbuat maksiat pada Allah. Dengan bersyukur, umat Islam akan mendapatkan tambahan nikmat dari Allah. Tanpa disadari, setiap Muslim mendapatkan banyak rezeki. Namun sifat tercela membuat mereka lupa akan hal tersebut, sehingga menjauhkan dirinya dari ridha Allah. "Kita harus selalu dzikrullah agar tetap bersyukur dengan dekat dengan Allah," ujarnya.

photo
Grand Syekh al-Azhar Ahmad Muhammad Thayyib - (al-bayan)

Grand Syekh al-Azhar, Prof Dr Ahmad At-Thoyib menyampaikan sambutannya dalam video rekaman. Beliau mengatakan bahwa pandemi ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah sebagaimana bencana-bencana lainnya. Karenanya, mengharuskan setiap orang untuk menata ulang hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia.

 

 

 

Kita harus hentikan segala pertikaian dan peperangan, sehingga dapat mencurahkan energi untuk membangun fasilitas bagi kemaslahatan hidup manusia ke depan.  

 

Grand Syekh al-Azhar Prof Dr Ahmad At-Thoyib 
 

 

Pembawa acara KH Anang Rikza Masyhadi kepada media menyampaikan bahwa acara doa bersama ini digelar dalam rangka menyambut seruan Grand Syaikh Al-Azhar kepada seluruh umat manusia untuk memanjatkan doa untuk kemanusiaan secara serentak. "Sekaligus ini momentum muhasabah bersama para ulama dan tokoh-tokoh umat, dan juga sebagai forum konsolidasi umat untuk bersama menghadapi virus ini" ujar Pengasuh Pondok Modern Tazakka itu. 

Inisiator acara, KH Anizar Masyhadi, menjelaskan, persiapan doa bersama ini hanya empat hari. Namun berkat dukungan dari semua pihak alhamdulillah acara berjalan dengan baik.  "Alhamdulillah, 70% yang diundang bisa ikut hadir meskipun secara online, Ketua Umuk DMI Bapak Jusuf Kalla juga hadir,  termasuk dari Al-Azhar Mesir, bahkan para pimpinan puncak lembaga pendidikan tertua itu sendiri yang menyempatkan hadir,  sehingga sudah merepresentasikan semua kalangan dan elemen umat, ini menjadi sesuatu yang mahal nilainya" jelasnya  

Pihaknya berharap, semoga dengan adanya doa bersama yang diikuti secara langsung oleh masyarakat Indonesia dan dunia, Allah segera mengangkat wabah Covid-19 dari muka bumi. Tatanan global dunia dapat kembali menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Ketua Pelaksana Doa Kebangsaan dan Kemanusiaan, Nifasri, mengatakan, kegiatan ini bertujuan mendoakan Indonesia agar bebas dari wabah Covid-19. Sekaligus, untuk membangkitkan kepedulian dan rasa kemanusiaan bangsa dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Doa Kebangsaan dan Kemanusiaan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Doa Sedunia. Kegiatan ini dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, Menag, dan Kepala BNPB Doni Munardo.

Hadir juga enam tokoh agama yang memberikan pencerahan keagamaan sekaligus memimpin doa. Mereka adalah tokoh agama Konghucu Budi Tanuwibowo, tokoh agama Buddha Sri Pannyavaro Mahathera, tokoh agama Hindu Ida Pedanda Nabe Gede Bang Buruan Manuaba, tokoh agama Katolik Ignatius Kardinal Suharyo, tokoh agama Kristen Pendeta Ronny Mandang, dan tokoh agama Islam Prof KH Quraish Shihab.

Sekjen Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan pentingnya peran pemimpin agama mengurangi dampak pandemi Covid-19. Guterres mengajak para pemuka agama mengutamakan kemanusiaan di saat krisis.

"Tanggung jawab kita untuk mempromosikan solidaritas sebagai respons menangani korona," kata dia dilansir di Saudi Gazette.

 

Panduan takbiran

photo
Ilustrasi pawai takbiran pada tahun lalu. ANTARA FOTO/Rahmad/pras - (ANTARA FOTO)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa Nomor 28 tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri saat pandemi Covid-19. Dalam fatwa itu, di antaranya, memberikan panduan melakukan takbir Idul Fitri di tengah wabah Covid-19.

Ada enam poin penting terkait panduan mengenai takbir Idul Fitri saat pandemi. Pertama, setiap Muslim dalam kondisi apa pun disunahkan untuk menghidupkan malam Idul Fitri dengan takbir, tahmid, dan tahlil menyeru keagungan Allah SWT.

Kedua, waktu pelaksanaan takbir mulai dari tenggelamnya matahari di akhir Ramadhan hingga jelang dilaksanakannya shalat Idul Fitri. Ketiga, disunahkan membaca takbir di rumah, masjid, pasar, kendaraan, jalanan, rumah sakit, kantor, dan tempat-tempat umum sebagai syiar keagamaan.

Keempat, pelaksanaan takbir bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama dengan keras atau pelan. Kelima, dalam situasi pandemi yang belum terkendali, takbir bisa dilaksanakan di rumah, di masjid oleh pengurus takmir, di jalan oleh petugas atau jamaah secara terbatas, dan juga melalui media televisi, radio, media sosial, dan media digital lainnya.

Keenam, umat Islam, pemerintah, dan masyarakat perlu menggemakan takbir, tahmid, dan tahlil saat malam Idul Fitri sebagai tanda syukur sekaligus doa agar wabah Covid-19 segera diangkat oleh Allah SWT.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am mengatakan, fatwa ini telah dibahas sejak 6 Mei 2020 atas pertanyaan dari masyarakat. Fatwa ini dapat dijadikan pedoman pelaksanaan ibadah saat Idul Fitri dalam rangka mewujudkan ketaatan pada Allah SWT. "Tetapi, pada saat yang sama tetap menjaga kesehatan dan berkontribusi dalam memutus mata rantai penularan Covid-19," kata dia.

 

 

 


Terkini

×