Ilustrasi seorang muslimah membaca Alquran demi mendapatkan lailatul qadar | SYIFA YULINNAS/ANTARA FOTO
15 May 2020, 00:30 WIB

Menjemput Lailatul Qadar 

Meski masih pandemi korona, umat Islam tetap bisa meraih pahala seribu bulan lailatul qadar

Kehadiran bulan suci Ramadhan menjadi hal yang paling ditunggu umat Islam di seluruh dunia. Limpahan pahala yang dijanjikan hadir pada bulan ini membuat setiap insan berlomba-lomba mendapatkannya.

Keistimewaan lain dari bulan penuh maghfirah ini adalah hadirnya satu malam yang di dalam Alquran digambarkan lebih baik dari seribu bulan. Inilah Lailatul Qadar. 

Pengasuh Majelis Taklim Asy-Syakirin, KH Achmad Syukron Ghozali, mengatakan, waktu datangnya malam Lailatul Qadar itu sebetulnya dirahasiakan oleh Allah SWT. Namun, dalam sebuah hadis disebutkan, Lailatul Qadar banyak turun pada malam-malam ganjil 10 hari menuju akhir Ramadhan.

"Kita umat Islam diminta mencari di 10 hari terakhir Ramadhan. Tapi, tidak mustahil juga turun di 10 hari awal," ujar Kiai Achmad Syukron, belum lama ini. 

Terkait

Ia pun menyebut umat Islam yang mendapat Lailatul Qadar adalah mereka yang menjaga puasanya dengan baik, dan di malam hari tidak pernah kosong dari ibadah, termasuk shalat Tarawih.

Namun, ia mengingatkan, tidak semua orang mendapatkan porsi yang sama untuk Lailatul Qadar. Ada yang derajatnya tinggi, ada yang rendah.

Seorang Muslim yang setiap malam rajin beribadah maka derajatnya juga dipandang tinggi di hadapan Allah SWT. Sementara, mereka yang walau setiap malam shalat Tarawih, namun setelah itu tidur dan tidak melanjutkan dengan ibadah lainnya, seperti zikir atau membaca Alquran, maka berbeda pula nilainya.

"Cara pasti untuk mendapatkan Lailatul Qadar adalah setiap malam di bulan Ramadhan melaksanakan ibadah tanpa putus. Mendapatkan Lailatul Qadar tidak hanya dengan iktikaf atau berdiam diri di masjid," lanjutnya.

Dalam hadis memang disebutkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa beriktikaf di masjid pada 10 malam terakhir Ramadhan. Namun, di tengah situasi pandemi saat ini, akan sulit beriktikaf di masjid. Keadaan ini, menurut Kiai Achmad Syukron, justru membuka kesempatan untuk membuat rumah penuh dengan rahmat Allah. Penuhi rumah dengan beragam ibadah. 

Selain shalat Tarawih, ibadah yang bisa dilakukan di rumah adalah membaca Alquran, memperbanyak zikir, juga membaca shalawat. Ada banyak pilihan ibadah yang bisa dilakukan dan bisa disesuaikan mana yang bisa dan dipahami.

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar juga menyatakan, tidak masalah beribadah di dalam rumah atau di masjid. Dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Bumi ini semuanya merupakan masjid (tempat sujud untuk shalat) kecuali kuburan dan kamar mandi.’’

"Artinya, rumah juga bisa menjadi masjid bagi umat Islam. Jadi, untuk iktikaf, itu bisa dilakukan di rumah. Apalagi untuk kondisi saat ini sudah tidak boleh berkumpul di satu tempat, termasuk masjid," ujar Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ)  ini.

Ia menegaskan, ibadah, termasuk iktikaf, bisa dilakukan di mana saja. Yang terpenting, niat dan tujuan dilakukannya ibadah itu hanya satu, yakni untuk Allah SWT. Allah Mahatahu apa yang ada di hati umat-Nya sehingga tidak menjadi masalah lokasi beribadah yang digunakan. 

Kiai Nasaruddin juga mengingatkan, Lailatul Qadar tidak mutlak hanya bisa diraih orang yang beriktikaf di masjid, sementara yang di rumah tidak. “Dapat atau tidaknya pahala iktikaf, yaitu Lailatul Qadar, hanya Allah SWT yang tahu.”


Terkini

×