Santri memainkan rebana dalam acara mengenang ust Arifin Ilham | Republika/Putra M. Akbar
14 May 2020, 04:02 WIB

Anak Didik Ust Arifin Ilham, UBN, dan Ust Jefri al-Buchori

 

Almarhum Ustaz Arifin Ilham pernah mengunci putranya, Muhammad Amer Adzikro, di dalam ruangan gelap. Alasannya, karena Amer tidak mau shalat berjamaah di masjid.

Kala itu, Ammer heran atas sikap galak ayahnya tersebut. Namun, lambat laun, dia mengerti. Sikap almarhum tersebut tak lain demi kebaikan Amer. "Ternyata itu semua untuk Amer, tanda sayang Abi kepada anak-anaknya," ujarnya dalam acara Hijrahfest from Home bertajuk “Melanjutkan Risalah Ayah”, Selasa (12/5).

Amer mulai menyadari itu ketika berada di liang lahat saat membantu menguburkan jenazah sang ayah. Dia seolah diingatkan, betapa sempitnya di dalam kuburan yang gelap itu meski punya harta sebanyak apa pun. Liang lahat itulah yang akan menjadi tempat tinggal sebenarnya bagi semua orang.

"Sekeras itu Abi mendidik Amer dan Alvin (kakak Amer) dalam hal ibadah karena tugas ayah ya begitu," kata dia.

Amer berkisah, ayahnya adalah orang yang sangat disiplin dalam beribadah. Sejak usia empat tahun, Amer sudah diajarkan tentang kedisiplinan beribadah, terutama shalat wajib. Meskipun, usia empat tahun belum diwajibkan shalat. Saat di masjid pun tak jarang Amer tertidur.

"Ada orang yang bilang, jawaranya ustaz kok tidur? Ustaz kok anaknya begini?" kata Amer menirukan perkataan orang tersebut.

Namun, sang ayah tidak mempersoalkannya. Menurut almarhum, yang terpenting adalah si anak sudah mau dan terbiasa datang ke masjid. "Jadi, ketika sudah diwajibkan ke masjid itu Amer sudah terbiasa, alhamdulillah sampai sekarang begitu," ujarnya.

Amer bersyukur memiliki sosok ayah yang telah mendidiknya dengan sangat baik. Menurut dia, almarhum Ustaz Arifin Ilham tidak pernah memaksa anak-anak untuk menjadi seperti dirinya.

Keberadaan Amer sekarang pun bukan untuk menggantikan figur almarhum, melainkan hanya melestarikan apa yang telah dikerjakan Ustaz Arifin Ilham. Siapa saja, tidak hanya kalangan keluarga, bisa melakukan itu. "Apa pun yang Abi ajarkan kepada kita dan kita melakukannya, itu sudah termasuk melestarikan," kata dia.

Khalifah Al-Rasyid mengagumi ayahnya, KH Bachtiar Nasir, karena ilmu yang dimiliki. Sang ayah pernah mengatakan padanya, tidak ada harta yang disiapkan untuk anak-anaknya.

"Yang Abi wariskan cuma satu, yaitu ilmu yang bermanfaat. Ini yang aku kagum. Abi mengajarkan ilmu yang banyak," kata dia dalam tayangan daring itu.

Untuk itu, Rasyid ingin melanjutkan risalah sang ayah dengan cara berbeda. Sebab, jika tidak dilanjutkan, ibarat sebuah bangunan yang sedang didirikan, anak tersebut malah mendirikan bangunan baru.

Menurut dia, banyak anak enggan mengikuti jejak sang ayah lantaran jalur yang ditempuh cukup sulit. Untuk itu, Rasyid ingin melanjutkan risalah ayahanda dengan caranya sendiri. "Misalnya ayah pakai cara tradisional, kami bisa pakai cara lain, sepanjang tidak keluar dari syariat," ujarnya.

Rasyid ingin terus berupaya menyerap ilmu-ilmu yang dimiliki ayahnya untuk melanjutkan kiprah yang telah dilakukan. Tujuannya, untuk menyelesaikan apa yang sedang dijejakkan oleh sang ayah.

Di sekolah, dia terkadang bingung dengan pekerjaan ayahnya sendiri. "Ustaz iya, pebisnis iya, tetapi saking tawadhunya beliau, Abi bilang, tulis saja guru ngaji," ujar Rasyid yang kuliah di jurusan peternakan itu.

Saat masih kecil, Rasyid sudah diajarkan soal kedisiplinan oleh sang ayah. Hal tersebut yang menjadi bekal baginya menjadi seperti sekarang.

Suatu kali, di bulan Ramadhan, pernah Rasyid tak shalat Tarawih. Dia malah bermain petasan. Rasyid pun kena teguran keras oleh ayahnya sampai menangis.

"(Setelah itu dihukum), disabet aku sama Abi, makanya sekarang Tarawih enggak pernah bolos," kata Rasyid.

Begitupun putra Ustaz Jefri al-Buchori, Abidzar Al-Ghifari. Dia berniat meneruskan dakwah almarhum ayahnya. Namun, Abidzar mengakui, masih memiliki ilmu terbatas sehingga perlu banyak belajar.

Selama ini, Abidzar menyadari, banyak orang bertanya mengapa tidak menjadi pendakwah dan malah menjadi pesinetron. Namun, dia menegaskan akan meneruskan dakwah sang ayah pada waktu yang tepat. "Aku mau melanjutkan pesantren beliau yang Pondok Pesantren Ash-Shohabah itu," ujarnya.

Almarhum Ustaz Jefri mengajarkannya untuk tetap baik kepada semua orang, termasuk orang yang tidak suka padanya. Menurut dia, kebaikan-kebaikan ayahnya tidak pandang bulu.

Salah seorang hafiz Alquran, Hamas Syahid, menyampaikan bagaimana orang tua mendidiknya hingga menjadi hafiz. Pria yang juga menjadi aktor ini diwajibkan untuk shalat berjamaah di masjid. Usai shalat Maghrib, dia harus menyetor hafalan dan membaca Alquran bersama di ruang tamu rumahnya. Jika tidak shalat di masjid, dia akan dimarahi sang ayah.

Shalat Subuh, diakui Hamas, paling susah untuk ditunaikan di masjid. Saat masih di sekolah menengah, dia pernah mengunci pintu kamarnya agar bisa terus tidur. Tak jarang, orang tua Hamas menggedor pintu kamarnya. "Ini jadi pelajaran sampai sekarang, jadi Abi itu lebih mengajarkan disiplin dan Umi lebih ke hafalan Alquran," kata dia.


Terkini

×