Petugas kesehatan turun ke jalan untuk mencegah wabah korona. | NOVA WAHYUDI/ANTARA FOTO
12 May 2020, 11:19 WIB

Mengubah Beban Korona Menjadi Cahaya Jiwa

Wabah korona harus disikapi dengan optimisme.

 

Oleh Ubyadillah Anwar

Heart Intelligence Specialist

 

Terkait

Banyak pakar internasional dan nasional telah ramai membahas potensi cabin fever akibat pembatasan, termasuk penerapan PSBB di Indonesia. Cabin fever adalah munculnya perasaan tidak enak karena tersekap dalam ruang yang sempit atau terisolasi dari dunia luar.  Jika diikuti dengan masalah lain, misalnya bisnis macet atau THR tidak turun,  maka dari cabin fever bisa mungkin merembet ke stress berat (depresi).  

 

Memang, kalau menelaah perkembangan definisi stress yang dianut pakar psikologi modern, stres korona adalah stres yang paripurna. Kenapa? Stres disebut paripurna ketika telah berkumpul tiga hal sekaligus. Satu,  stres karena ada kejadian yang menimbulkan tekanan batin (korona dengan segala dampaknya). Dua, stres karena seseorang harus menciptakan respon subjektif yang negatif (sedih, bingung, dst). Tiga, stres karena ada tuntutan dari luar-dalam (tuntutan ekonomi, pekerjaan, dll).

 

Bahayakah stres demikian? Ada ungkapan bijak yang memberi jawaban. “Orang lemah dihancurkan oleh stress, orang biasa-biasa beradaptasi dengan stress, dan orang luar biasa menjadi kuat dengan stress,” demikian pesannya. Apa resep rahasia untuk menjadi manusia luar biasa?

 

Mengaktifkan pencernaan spiritual

Mulanya, stress itu normal ketika seseorang menghadapi keadaan buruk, seperti korona ini.  Hanya saja, karena stress itu bersifat membebani, maka ia bisa bergeser statusnya dari normal menjadi “awas”. Kenapa? Beban itu dapat membahayakan apabila gagal diolah, dibiarkan terlalu lama, atau dibiarkan semakin membebani. 

    

Melalui serangkaian riset yang dilakukan, HeartMath Institute Amerika menyimpulkan bahwa ketika tekanan gagal diatasi, ia akan berdampak pada beberapa area hidup yang vital, misalnya krisis kebahagiaan, lemah menghadapi kenyataan, pesimis, memburuknya keadaan fisik dan kualitas spiritual  (The Appreciation in Awe: 2019).

photo
Staf medis berdoa usai mengubur peti mati lelaki berusia 72 tahun yang meninggal karena Covid-19 di Tangmarg, sekitar 30 kilometer utara Srinagar, Kashmir, India, Sabtu (25/4). Perdana Menteri India Modi pada 14 April 2020 mengumumkan bahwa lockdown atau pengucinan wilayah di negara itu akan diperpanjang hingga 3 Mei - (EPA-EFE/FAROOQ KHAN)

Apa yang harus dilakukan supaya stress tidak semakin membebani pada saat kita tidak/belum mampu mengubah keadaan eksternal yang menjadi sumber stress, seperti corona ini? Salah satu yang terpenting adalah mengolah beban itu menjadi cahaya. Tidak ada beban yang dihasilkan dari cahaya. Sebab, cahaya bersifat mencerahkan, meringankan, atau menunjukkan. 

 

Bagaimana caranya? Sebenarnya, pada manusia telah diciptakan dua alat pencernaan sekaligus: pencernaan jasmani dan pencernaan rohani (spiritual). Begitu makanan kita masukkan melalui mulut, pencernaan jasmani  segera memproses materi itu menjadi energi dan nutrisi. Sisanya, barulah disuruh dibuang di toilet.

 

Pencernaan spiritual pun demikian kerjanya. Cuma, ia tidak aktif kecuali kita aktifkan. Begitu stres dan berbagai pengalaman buruk itu kita cerna dalam ruang hati dan pikiran, maka akan segera menghasilkan cahaya. Bentuknya bisa berupa butiran kesadaran baru, keyakinan baru, pemahaman baru, motivasi baru, atau ide kreasi baru.

 

Agar pencernaan spiritual bekerja, memang syaratnya harus bisa menerima kenyataan secara positif lebih dulu (ridha). Begitu kita kesal atau menolaknya, maka sistem kerjanya langsung ngambek. Setelah itu barulah dibutuhkan upaya tadabbur (memaknai) dan tafakkur (berpikir mendalam) untuk menemukan cahaya. Karena cahaya itu datangnya diberikan oleh Allah (bukan dihasilkan dari usaha), maka kita perlu membuka hati untuk menerima cahaya.  

 

Sebab, hanya hati yang menghendaki cahaya dan siap menerima cahaya yang didatangi cahaya. Seperti ditulis oleh Ibnu Athoillah dalam al-Hikam, pada hati manusia ada pilihan untuk menolak atau menerima cahaya. 

 

Cahaya di atas cahaya

photo
Seorang wanita pasien korona disambut suaminya setelah dinyatakan sembuh. - (Destyan/Antara)

Tentu, kita tahu bahwa cahaya saja belum menghasilkan manusia luar biasa. Cahaya tersebut perlu diolah lagi menjadi pencapaian (achievement) sehingga menjadi “cahaya di atas cahaya”. Ada tiga pencapaian penting untuk menandai apakah kita sudah termasuk manusia luar biasa atau belum dalam mengolah stress/pengalaman buruk.

 

Pertama, kedekatan. Jika seseorang menjadi orang yang semakin dekat dengan Tuhan dalam berbagai bentuk dan penerapannnya (God-centered awareness) setelah mengalami stress, berarti ia telah berhasil mengolah beban menjadi cahaya dan menghasilkan cahaya baru. Tidak ada manusia yang terbebani oleh kedekatan, sebab kedekatan adalah cahaya yang diproduksi oleh cahaya.

 

Kedua, kompetensi. Kalau seseorang  berhasil menemukan keahlian baru setelah stress (keahlian berkomunikasi, mengelola uang, menyelesaikan pekerjaan dengan lebih bagus, mendidik anak, mengusai computer, dan lain-lain), lalu ia berhasil menerapkannya dalam hidup dan kemudian hidupnya secara kualitas semakin bagus, maka ia telah berhasil mengolah beban menjadi cahaya. Semakin banyak keahlian/ilmu yang dikuasai seseorang, pasti hidupnya makin ringan karena ilmu itu cahaya. 

 

Ketiga, kebaikan. Bila stress menghantarkan kita menjadi orang yang lebih merendah, lebih mau menolong, lebih jembar, lebih halus, lebih ringan untuk berbuat baik, lebih bisa merasakan, dan seterusnya, berarti kita telah berhasil mengubah beban menjadi kesadaran (cahaya) lalu menghasilkan kebaikan (cahaya). Cahaya di atas cahaya. Tak jarang memang cahaya itu kita dapatkan setelah kita harus menelan kegelapan dan tekanan. 


×