Ilustrasi yang menggambarkan pertempuran Badar yang dipimpin Nabi Muhammad melawan kafir Quraisy Makkah. | DOK Wikipedia
10 May 2020, 15:20 WIB

Kemenangan Besar Muslimin di Pertempuran Badar

Allah menurunkan balatentara-Nya dari langit untuk menolong pasukan Muslimin di pertempuran Badar.

OLEH MUHYIDDIN

Jihad dalam Islam dimaknai sebagai upaya membela diri, bukan mencaplok kebebasan pihak lain. Perintah pertama agar Muslimin berjihad dengan mengangkat senjata turun sesudah mereka didera berbagai perlakuan nirmanusiawi dari penguasa kafir. Wahyu yang dimaksud adalah surah al-Hajj ayat 39- 40. Artinya, "Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, 'Tuhan kami adalah Allah'."

Penulis biografi Nabi Muhammad SAW, Ibnu Hisyam (wafat 883) menjelaskan asbabun nuzul ayat-ayat tersebut. Pada mulanya, Rasulullah SAW dan para sahabat belum diizinkan oleh Allah SWT untuk memerangi orang-orang yang senantiasa memusuhi Islam. Kaum Muslimin masih diperintahkan untuk bersabar. Lama-kelamaan, perangai musyrikin semakin semena-mena. Para pengikut Nabi SAW bahkan diusir dari Makkah. Walau sudah tenteram tinggal di Madinah, umat Islam terus diintimidasi para pemuka Quraisy. Dalam keadaan demikian, turunlah surah al-Hajj ayat 39-40.

Perang Badar merupakan pertempuran besar (ghazwah) pertama antara umat Islam dan musuh-musuhnya. Momen ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Total 313 orang Muslim melawan 1.000 orang Quraisy yang memiliki persenjataan lengkap, keahlian militer, dan pengalaman bertempur. Nyatalah bahwa secara kuantitas, para pemeluk tauhid tidak unggul. Akan tetapi, mereka justru memperoleh kemenangan besar berkat pertolongan dari sisi Allah SWT.

Terkait

Buku Hayatu Muhammad karya Muhammad Husain Haekal memaparkan patriotisme Muslimin dalam Perang Badar. Tak ada beda antara Muhajirin dan Anshar. Semuanya menyatu dalam Islam.

photo
Peta yang menggambarkan pertempuran Badar. - (DOK Repro John K Martin Islamic First Arrow 2)

Said bin Muadz, sang pemimpin Anshar, menegaskan komitmen kaumnya kepada Rasulullah SAW jelang pertempuran. "Saya bersumpah demi Zat yang menggenggam jiwaku di Tangan-Nya," kata Ibnu Muadz, "jika engkau, ya Muhammad, menyeberangi lautan, kami akan mengikutimu. Jika engkau mengarungi sampai negeri yang jauh, kami akan mengikutimu. Tidak ada satu pun dari kami yang menetap. Kami selalu sabar, bersungguh-sungguh, dan jujur dalam upaya kami!"

Seruan ini disambut Al-Miqdad bin Amr, salah satu yang pertama memeluk Islam. "Wahai Rasulullah!" katanya, "Kami sekali-kali tidak akan pernah mengatakan kepadamu seperti Bani Israil mengatakan kepada Nabi Musa, 'Pergilah berperang dengan Tuhanmu, kami duduk di sini saja.' Dengan tulus kami katakan, 'Pergilah berperang dengan Tuhanmu, dan kami pun berperang di sisimu pula'."

Begitu para sahabatnya itu selesai bicara, cerahlah wajah Rasulullah SAW. "Seolah-olah kini kehancuran mereka, para musuh Allah itu, sudah tampak jelas di hadapanku," kata beliau.

Pada Jumat, 17 Ramadhan, Muslimin memulai jihad di Lembah Badar. Saat perang akan dimulai, Aswad bin 'Abdul Asad keluar dari barisan Quraisy. Ia langsung menyerbu ke tengah pasukan Muslimin dengan maksud hendak menghancurkan kolam air yang sudah dibuat. Belum sempat ia melakukan tindakan itu, Hamzah bin Abdul Muthalib berhasil melumpuhkannya.

Begitu melihat Aswad jatuh, Utba bin Rabiah tampil didampingi Syaiba dan anaknya-Walid bin Utba. Dari barisan Muslimin, tidak hanya Hamzah, melainkan juga Ali bin Abi Talib dan Ubaidah bin al-Harith maju ke depan. Paman Nabi SAW itu langsung melumpuhkan Syaiba. Ali tidak memberi kesempatan kepada Walid untuk banyak bergerak. Keduanya segera membantu Ubaidah yang sedang menghadapi Utba. Melihat kekalahan Ibnu Rabiah, pihak Quraisy seketika menyerbu. Kedua pasukan saling menyerang.

photo
Peta yang menggambarkan pertempuran Badar. - (DOK Wikipedia)

Rasulullah SAW menyerukan, siapapun Muslim yang maju melawan musuh Allah akan mendapatkan surga. Mendengarnya, pasukan tauhid pun langsung bersemangat. Pandangan mata mereka tertuju pada pemuka-pemuka Quraisy yang tampak pongah karena merasa menang jumlah.

Nabi SAW mengambil segenggam pasir. "Celakalah wajah-wajah para musuh Allah itu!" kata beliau sembari melemparkan pasir itu ke arah musyrikin. Seketika, tak ada satu pun orang kafir kecuali matanya kemasukan debu.

"Serbu!" seru Nabi Muhammad SAW. Secara serentak, kaum Muslimin pun berduyun-duyun maju. Jiwa mereka telah dipenuhi semangat membara. Mereka merindukan syahid. Dalam dadanya hanya ada rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT pun menurunkan pasukan-Nya, yakni para malaikat. Pasukan dari langit itu menambah kekuatan Muslimin.

Fenomena ini disingguh dalam surah al-Anfal ayat 12. Artinya, "(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak, akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka, dan pukullah tiap ujung jari mereka."

Pasukan malaikat ikut memburu musuh-musuh Allah di Lembah Badar itu. Sejumlah sahabat Nabi SAW menuturkan kesaksiannya sesudah pertempuran itu usai. Abdullah bin Abbas menceritakan, "Tatkala seorang dari kaum Muslimin sedang semangatnya mengejar musuh di hadapannya, tiba-tiba ia mendengar suara pukulan cemeti dari langit dan teriakan, 'Majulah, wahai Haizum!' Seketika, ia melihat ke arah orang musyrik yang tadi berada di hadapannya. Didapatinya musuh itu tersungkur dalam posisi terlentang, hidungnya telah luka-luka, dan wajahnya terbelah seperti habis terkena pukulan cemeti dan seluruhnya menghijau."

 
Didapatinya musuh itu tersungkur dan wajahnya terbelah seperti habis terkena pukulan cemeti dan seluruhnya menghijau.
 
 

Orang Anshar itu lantas bercerita kepada Rasul SAW. Beliau berkata, "Benar yang engkau katakan. Itu adalah sebagian bala bantuan dari langit ketiga." Kesaksian lainnya disampaikan Abu Dawud al-Maziniy, "Sungguh, saat pertempuran Badar aku mengikuti seorang laki-laki dari kaum musyrikin untuk memenggalnya. Namun, tiba-tiba kepalanya sudah terlebih dahulu jatuh ke tanah sebelum pedangku menebasnya. Sadarlah aku bahwa ada orang lain yang telah membunuhnya."

Kejadian ini diabadikan dalam Alquran, surah al-Anfal ayat 17. "Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

Ya, di Lembah Badar itu Rasulullah menyaksikan, Allah telah melaksanakan janji-Nya. Allah telah memberikan kemenangan kepada pihak Muslimin. Di pengujung pertempuran itu, pasukan Quraisy kocar-kacir sama sekali. Yang masih bernapas, berusaha kabur ke arah Makkah. Beberapa di antaranya dapat ditangkap sehingga menjadi tawanan Muslimin. Sisanya tersungkur mati dalam keadaan hina.

Peristiwa Perang Badar inilah yang menentukan bagi kelanjutan dakwah ajaran Islam. Alquran pun telah melukiskannya sebagai suatu mukjizat. Meski tak unggul secara jumlah, kaum Muslimin berhasil meraih kemenangan atas izin Allah.

Setelah meraih kemenangan, Nabi Muhammad SAW kemudian mengutus Abdullah bin Rawaha dan Zaid bin Haritsah ke Madinah untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada penduduk setempat. Selanjutnya, Rasulullah SAW dan para sahabatnya bergerak menuju Madinah. Di antara mereka membawa sejumlah tawanan dan rampasan perang. Sesudah menyeberangi Shafra', pada sebuah bukit pasir beliau berhenti.

Di tempat itu, harta rampasan perang yang sudah ditentukan Allah SWT bagi kaum Muslimin dibagi rata. Beberapa ahli sejarah mengatakan, pembagian itu telah dikurangi seperlimanya, sebagaimana ketentuan dari Allah SWT. "Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS al-Anfal: 41).

Nabi SAW membagi-bagi rampasan perang itu secara adil di kalangan Muslimin. Bagian mereka yang gugur di Badar diberikan kepada ahli warisnya. Kaum Muslimin yang bertahan di Madinah pun mendapatkan bagian. Sebab, mereka ketika pertempuran berlangsung bertugas mengurus keperluan penduduk.

photo
Lukisan Iran (1314) menggambarkan pasukan Muslimin melakukan pengejaran setelah pertempuran Badar. - (DOK Wikipedia)

 

Hikmah Perang Badar

Perang Badar tercatat dalam sejarah sebagai pertempuran pertama yang dipimpin Rasulullah SAW. Menurut pakar tafsir Alquran KH Ahsin Sakho, palagan itu memunculkan banyak hikmah dan pelajaran, khususnya bagi generasi kini. Dalam momen itu, Nabi Muhammad SAW mencontohkan betapa upaya-upaya lahiriah dan batiniah mesti dilakukan beriringan.

Berbagai strategi yang diterapkan Nabi SAW turut menguntungkan kaum Muslimin meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding musuh. Misalnya, siasat untuk merintangi sumber-sumber air balatentara Quraisy di Lembah Badar sebelum pertempuran dimulai. Dengan begitu, para pembenci Islam itu mudah kehausan, sedangkan pasokan minum bagi Muslimin tercukupi.

Bagaimanapun, tidak bisa hanya mengandalkan usaha manusia. Perlu juga memohon keridhaan-Nya. Pada malam hari sebelum Perang Badar, Nabi Muhammad SAW terus menerus berdoa di dalam tendanya. Bahkan, beliau berdoa sembari air matanya bercucuran, tangannya bergetar. Beliau larut dalam kesungguhan meminta belas kasih-Nya. Hal ini menunjukkan, kata Kiai Ahsin, doa pun adalah senjata kaum Mukminin.

Hikmah berikutnya dari Perang Badar ialah, kuantitas tak selalu menentukan kualitas. Pasukan Muslimin berjumlah kecil. Akan tetapi, mereka dapat mengalahkan kelompok yang berjumlah besar atas izin Allah SWT. Maka dari itu, Kiai Ahsin mengingatkan agar kaum Muslimin, khususnya di Indonesia, agar tak terlena dengan banyaknya kuantitas. Fokuslah pada peningkatan kualitas. Demikian pula, jangan mudah berputus asa dalam berjuang.

"Dalam konteks saat ini, umat Islam juga harus berpikir tentang bagaimana menyatukan dunia Islam. Sebab, saat Perang Badar pun hanya persatuan dan keyakinan kepada Allah Ta'ala yang bisa mengalahkan kaum musyrikin," ujar dai kelahiran Cirebon, Jawa Barat, itu saat dihubungi Republika baru-baru ini.

 
Dalam konteks saat ini, umat Islam juga harus berpikir tentang bagaimana menyatukan dunia Islam.
KH AHSIN SAKHO, pakar tafsir Alquran
 

Hari ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita tentang perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam Perang Badar. Untuk diketahui, para syuhada itu sedang menjalankan ibadah puasa ketika bertempur. Puasa Ramadhan diwajibkan Allah SWT atas umat Nabi Muhammad SAW sejak tahun kedua Hijriah --tepatnya diumumkan pada Syaban. Dan, Perang Badar terjadi pada 17 Ramadhan di tahun yang sama.

Pada tahun itu umat Islam mulai diwajibkan berpuasa, tahun itu pula umat Islam meraih kemenangan besar dalam Perang Badar. "Sejak saat itu, Muslimin tidak lagi dipandang sebelah mata oleh kaum musyrik," ujar Kiai Ahsin.


,
×