Tayangan film The Message, pasukan Muslimin melawan pasukan kafir Quraisy Makkah dalam pertempuran Badar. | DOK Wikipedia
10 May 2020, 14:53 WIB

Pertempuran Badar Fenomenal yang Disebutkan Dalam Alquran

Dalam pertempuran ini, jumlah musuh tiga kali lipat daripada Muslimin.

OLEH MUHYIDDIN

Ada beragam peristiwa historis yang berlangsung pada bulan suci. Di antaranya ialah Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Pertempuran itu menjadi penanda penting dalam sejarah Islam. Bahkan, ghazwah ini disebutkan dalam Alquran, tepatnya surah Ali Imran ayat 123. Artinya, "Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu mensyukuri-Nya."

Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal menuturkan jalannya palagan itu. Sebelumnya, kaum Muslimin sudah terlibat dalam bentrokan-bentrokan kecil dengan musyrikin Quraisy. Waktu itu, sekitar satu tahun sesudah Rasulullah Muhammad SAW dan para pengikutnya hijrah dari Makkah ke Madinah.

Kepindahan dari tanah kelahiran ke suatu negeri baru bukanlah tanpa perjuangan. Sebab, hampir seluruh kalangan Muhajirin meninggalkan harta bendanya dan bahkan keluarganya di Makkah untuk bisa mengikuti Nabi SAW ke Madinah. Di antara mereka ada yang jatuh miskin, padahal dahulu hidup berkecukupan atau malahan kaya raya di kota asal. Bagaimanapun, tantangan itu mereka jalani dengan ikhlas. Sebab, hakikat hijrah ialah mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.

Terkait

photo
Lukisan Iran (1314) menggambarkan pertemuan para pemimpin Muslim sebelum pertempuran Badar. - (DOK Wikipedia)

Di Makkah, orang-orang kafir justru memanfaatkan barang-barang peninggalan Muslimin untuk diri mereka sendiri. Tak sedikit yang dijadikan sebagai komoditas dagang untuk dijual ke luar negeri. Untuk sampai ke Syam, kafilah Quraisy mesti melewati daerah sekitar Madinah (Yastrib). Begitu mengetahui harta bendanya dijamah para musuh Allah itu, kaum Muhajirin hendak merebutnya kembali. Inilah yang melatari konflik-konflik kecil sebelum Perang Badar.

Rasulullah SAW pun membentuk satuan-satuan regu. Salah satunya dipimpin Abdullah bin Jahsy. Ia diutus Nabi SAW untuk mengintai pergerakan rombongan Quraisy yang hendak melewati area perkebunan kurma di Nakhlah. Turut serta dalam regu Ibnu Jahsy ialah seorang pemanah ulung bernama Waqid bin Abdullah at-Tamimi. Tak diduga, rombongan Quraisy berpapasan langsung dengan kelompok Abdullah bin Jahsy. Kontak senjata pun terjadi.

Anak panah at-Tamimi berhasil menewaskan seorang tokoh Quraisy, Amr bin al-Hadzrami. Ini adalah darah pertama yang ditumpahkan Muslimin. Rasulullah SAW menugaskan beberapa sahabatnya untuk mengumpulkan informasi tentang Lembah Badar.

Akhirnya, rombongan itu kembali ke Makkah. Mereka bertekad membalas kekalahan di Nakhlah itu. Caranya, dengan menghasut seluruh suku-suku di Jazirah Arab. Nabi Muhammad SAW dan Muslimin difitnah telah melakukan pembunuhan saat bulan suci. Dalam adat Arab, ada bulan-bulan yang terlarang mengadakan peperangan, yakni Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.

Para pemuka Quraisy berharap, agitasi itu berhasil memengaruhi suku-suku Arab agar mau memusuhi Madinah. Dengan demikian, posisi Rasululllah SAW kian terkucil dan dapat dipatahkan. Sementara itu, musim gugur tiba. Abu Sufyan memulai ekspedisi dagangnya dari Makkah ke Syam. Kaum Muhajirin di Madinah menerima kabar ini. Mereka lantas hendak merebut kembali harta bendanya yang telah dirampas kaum Quraisy di Makkah.

Abu Sufyan dalam perjalanan pulang dari Syam. Begitu mendekati Madinah, ia merasa para pengikut Muhammad SAW akan mencegat rombongannya. Untuk mengantisipasinya, ia menyuruh Dzamdzam bin Amr al-Ghifari agar segera pergi ke Makkah terlebih dahulu. Orang itu disuruhnya agar menyerukan kaum Quraisy untuk menyelamatkan harta benda mereka. Sebab, kaum Muslimin sedang mengintainya sebelum tiba di Makkah.

"Hai orang-orang Quraisy! Kafilah, kafilah! Harta bendamu di tangan Abu Sufyan telah dicegat oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Kamu sekalian harus segera menyusul. Abu Sufyan butuh pertolongan!" demikian Ibnu Amr al-Ghifari memanggil para pemuka Makkah.

Mendengar ini, Abu Jahal segera memanggil masyarakat agar berkumpul di sekitar Ka'bah. Ternyata, khalayak setempat masih ragu-ragu, apakah akan ikut mengangkat senjata melindungi Abu Sufyan dan barang dagangannya. Banyak pula yang mengusulkan, sebaiknya mereka diam saja. Harapannya, kafilah Abu Sufyan tak diganggu sepanjang perjalanan pulang.

Namun, Abu Jahal sudah terburu nafsu untuk melawan Muslimin di Madinah. Dengan kefasihan retorikanya, ia menghasut penduduk Makkah agar bersedia melawan Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya. Orasi ini berhasil. Akhirnya, tak seorang pun lelaki dewasa tinggal di Makkah kecuali ikut menenteng senjata ke Madinah untuk memerangi Nabi SAW.

Pada hari kedelapan bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW sudah mendapatkan kabar tentang gerombolan musyrikin Quraisy yang sedang mendekati Madinah. Beliau pun berangkat meninggalkan Kota Penuh Cahaya (Madinah al-Munawarah) itu diikuti para sahabatnya. Untuk sementara, tugas memimpin shalat di masjid diserahkan kepada Amr bin Umm Maktum. Adapun pimpinan Madinah dipercayakan kepada Abu Lubaba dari Rauha'.

photo
Peta yang menggambarkan pertempuran Badar. - (DOK Repro John K Martin Islamic First Arrow 2)

Jumlah tak seimbang

Dalam iring-iringan ini, barisan Muslimin didahului dua regu pembawa bendera hitam. Mereka membawa 70 ekor unta yang dinaiki secara bergantian. Tiap dua atau tiga orang bergiliran menaiki seekor unta.

Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pun berganti-gantian menaiki unta yang tersedia. Secara keseluruhan, Muslimin yang mengikuti perjalanan ini sebanyak 350 orang. Mereka terdiri atas kaum Muhajirin (83 orang), suku Aus (61 orang), dan suku Khazraj (206 orang). Dua kabilah tersebut termasuk golongan Anshar.

Rasulullah SAW lantas menyadari. Sekarang, Muslimin tak lagi sekadar menghadapi rombongan Abu Sufyan yang sedang bertolak dari Syam dengan membawa harta milik Muhajirin. Sebab, orang-orang Quraisy pun telah berangkat dari Makkah untuk menghadapi mereka.

Nabi SAW lantas memerintahkan pasukan untuk berhenti sejenak. Setelah kemah didirikan, beliau mengadakan musyawarah dengan para sahabatnya. Diberitahukannya kepada mereka tentang keadaan Quraisy yang sedang menyusul Abu Sufyan dari Makkah. Dalam perhitungannya, saat ini bila umat Islam menyerah, mustahil kebenaran akan dapat ditegakkan. Kaum musyrikin akan bersorak-sorai dan menganggap Muslimin lari ke belakang lantaran takut.

Abu Bakar dan Umar bin Khattab ikut memberikan pendapat. Keduanya ingin agar orang-orang Quraisy dihadapi langsung. Para sahabat lainnya juga menyarankan hal yang sama kepada Rasulullah SAW. Lanjutkanlah upaya pertempuran dengan orang-orang Quraisy itu.

Setelah mendengarkan pendapat mereka, wajah Nabi Muhammad SAW tampak berseri-seri. Beliau senang melihat semangat para pengikutnya dalam menegakkan martabat Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Seolah-olah kini kehancuran mereka-orang-orang musyrikin itu tampak di hadapanku."

Muslimin pun meneruskan perjalanan. Begitu sampai di suatu tempat dekat Lembah Badar, Nabi SAW pergi sendirian dengan menunggangi untanya. Ia menemui seorang tua di sana. Kepada orang ini, beliau menanyakan perihal kaum Quraisy. Berdasarkan kesaksiannya, kafilah Quraisy diketahui berada tidak jauh dari tempat ini.

Kemudian, Rasulullah SAW menugaskan beberapa sahabatnya untuk mengumpulkan informasi tentang Lembah Badar. Mereka juga ditugaskan untuk mencari tahu jumlah orang Quraisy yang ikut dalam rombongan itu. Caranya, dengan menghitung jumlah hewan ternak yang mereka potong tiap hari. Kesimpulannya, jumlah mereka mencapai antara 900 hingga 1.000 orang. Ini berarti tiga kali lebih besar daripada jumlah Muslimin yang menyertai Nabi SAW.

Keesokan harinya, Rasulullah SAW dan para sahabat masih menantikan bilakah kafilah Quraisy itu akan lewat. Namun, Abu Sufyan akhirnya dikabarkan telah lolos dari pengadangan sehingga dapat kembali menuju Makkah. Yang masih ada di dekat perkemahan Muslimin ialah sejumlah pasukan Quraisy yang berjaga-jaga dengan kekuatan penuh.

 

Kemantapan hati

Menyadari lolosnya Abu Sufyan, beberapa orang kehilangan semangat. Sebab, mereka awalnya mengira dapat memperoleh harta rampasan dari upaya memotong perjalanan tokoh Quraisy itu. Beberapa sahabat lantas meminta persetujuan dari Nabi SAW agar kembali saja ke Madinah. Tak perlu lagi mengangkat senjata karena toh kafilah Abu Sufyan sudah melenggang ke Makkah.

Ketika itulah, wahyu Allah SWT turun kepada Rasulullah SAW. Yakni, surah al-Anfal ayat tujuh. Artinya, "Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Namun, Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya."

Firman-Nya itu menebalkan iman kaum Muslimin. Mereka seluruhnya memantapkan hati untuk berjihad fii sabilillah. Setia mendampingi Rasulullah SAW dalam keadaan bahaya sekalipun.

Ternyata, kegamangan justru terjadi pada pihak Quraisy. Mereka masih saja menimbang-nimbang, untuk apa berperang melawan Muslimin? Toh perniagaan Abu Sufyan sudah lewat dengan selamat!

Namun, Abu Jahal terus menyulut egoisme kaumnya. Menurut dia, jika menarik diri dari tempat itu, pihak Quraisy akan dianggap penakut di hadapan Muslimin. Bila sudah demikian, lanjut Abu Sufyan, Muhammad SAW akan semakin merasa layak memerintah seluruh Arab.

photo
Lembah Badar tempat pertempuran pasukan Muslim melawan pasukan kafir Quraisy. - (DOK Wikipedia)

 

Doa yang Menggetarkan Hati

Rasulullah SAW sempat merasa cemas. Hatinya pilu bila membayangkan nasib Islam sekiranya Muslimin tidak memperoleh kemenangan dalam Perang Badar. Sebelum pertempuran dimulai, Nabi SAW menghabiskan banyak waktu untuk berdoa. Beliau memohon kepada Allah akan segala apa yang telah dijanjikan kepadanya.

Begitu hanyut dalam doanya, beliau bergumam, "Allahumma ya Allah. Kaum Quraisy kini datang dengan segala keangkuhannya, berusaha mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu juga yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini binasa, tak lagi ada ibadah kepada-Mu di muka bumi."

Selagi Nabi SAW masih larut dalam munajatnya kepada Allah Azza wa Jalla, tangan beliau merentangkan sembari menghadap kiblat. Dan, mantelnya pun terjatuh. Melihat itu, Abu Bakar segera meletakkan kembali mantel itu ke bahu Rasulullah SAW, seraya berkata, "Ya Rasulullah, dengan doamu itu Allah akan mengabulkan apa yang telah dijanjikan kepadamu."

Nabi Muhammad SAW justru semakin terbawa dalam khusyuknya doa. Beliau bersimpuh penuh kesungguhan hati kepada Allah SWT. Memohonkan isyarat dan pertolongan-Nya dalam menghadapi permusuhan kaum musyrikin.

Beberapa saat kemudian, turunlah wahyu Allah SWT. "(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, 'Sungguh, Aku (Allah) akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan, kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS al-Anfal: 9-10).

 
Wajah Nabi SAW pun dipenuhi rasa gembira. Beliau langsung keluar menemui sahabat-sahabatnya.
 
 

Wajah Nabi SAW pun dipenuhi rasa gembira. Beliau langsung keluar menemui sahabat-sahabatnya seraya menyerukan, "Demi Dia yang memegang hidup Muhammad! Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, kemudian ia gugur, maka Allah akan menempatkannya dalam surga!"

Mendengar itu, mata seluruh kaum Muslimin berbinar. Mereka bertambah semangat dalam memperjuangkan kebenaran. Tak gentar meskipun jumlah musuh Allah jauh lebih banyak dari mereka.

Pagi itu, Jumat, 17 Ramadhan, kedua pasukan saling bertempur dengan sengit. Saat perang berkecamuk di Lembah Badar, Allah Ta'ala menurunkan seribuan malaikat dari langit sebagai bantuan kepada umat Islam.

Kemenangan nyata bagi kaum Muslimin. Tak kurang dari 70 orang musyrikin ditawan, selebihnya kabur tunggang-langgang atau tersungkur mati.


,
×