Warga Gaza mengantre mendapatkan makanan saat Ramadhan. | DOK EPA Muhammad Saber
08 May 2020, 04:10 WIB

Menjemput Kenikmatan Ramadhan

Kenikmatan paling inti di bulan Ramadhan adalah diturunkannya Alquran.

 

 

Begitu besar kenikmatan yang diberikan Allah SWT melalui bulan suci Ramadhan. Kenikmatan yang tidak mungkin bisa diukur oleh siapa pun. Setiap hamba sudah seharusnya memaksimalkan Ramadhan dengan mengisi berbagai amalan ibadah. Sebab, tak ada yang tahu pasti apakah kita akan menemuinya kembali di tahun depan.

Ketua Umum PB Al Washliyah, KH Yusnar Yusuf Rangkuti, menjelaskan berbagai kenikmatan di bulan suci Ramadhan. Menurut dia, kenikmatan paling inti di bulan Ramadhan adalah diturunkannya Alquran yang merupakan petunjuk bagi manusia. Selain petunjuk, Alquran juga menjadi pengobat dan pembeda.

Terkait

"Ini yang paling nikmat. Mengapa nikmat? Karena ia salah satu pengobat dan juga pembeda," kata Kiai Yusnar, belum lama ini.

Karena itu, setiap Muslim hendaknya mengamalkan Alquran, apalagi di bulan yang mulia ini. Amalan sederhana yang dapat dilakukan, yaitu membaca Alquran. Membaca Alquran bukan soal berapa banyak ayat atau halaman yang dibaca, tetapi seberapa rutin membacanya.

Dia mengingatkan, membaca satu ayat setiap hari secara rutin lebih baik daripada membaca banyak ayat di satu hari lalu keesokannya tidak membaca Alquran. "Karena, kata Rasulullah SAW, amal yang paling baik adalah amal yang tak pernah ditinggalkan meski sedikit," ujar ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama ini.

Bulan Ramadhan, terang Yusnar, merupakan momentum selama satu bulan untuk menstabilkan keberlanjutan amal ibadah setiap Muslim. Meski amalan itu sederhana atau sedikit, tidak apa-apa, karena yang terpenting adalah konsisten atau dikerjakan secara terus-menerus. Pahala kebaikan di bulan Ramadhan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Nilai pahala dari membaca satu huruf Alquran lebih besar ketimbang membacanya di bulan-bulan biasa.

Dalam konteks pandemi sekarang ini, Yusnar menyadari, sebetulnya ada kenikmatan di baliknya. Semula, perbuatan dosa dan berbagai kemaksiatan banyak terlihat di muka umum. Banyak orang yang tidak malu bersentuh-sentuhan dengan lawan jenis. Tetapi, sekarang, kemaksiatan seperti itu tidak ada lagi. Bahkan, tempat-tempat kemaksiatan juga ditutup. Sebab, semuanya harus tetap di rumah. Kalaupun ke luar rumah, harus jaga jarak fisik.

"Ini kan nikmat. Jadi, mata kita ini tak pernah lagi melihat yang seperti itu sehingga bersih," ujar dia.

Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Hasanuddin AF, menuturkan, ada dua kenikmatan bagi orang berpuasa. Pertama, kenikmatan ketika berbuka puasa. "Ketika datang waktu Maghrib, lalu buka puasa dengan seteguk air, ini begitu nikmatnya setelah menahan haus seharian," ucap dia.

Kenikmatan berikutnya, yaitu berjumpa dengan Allah SWT di akhir bagi orang yang berpuasa. Ini kenikmatan yang paling tinggi. Mengapa demikian? Bayangkan, ketika seorang anak yang sudah lama tidak bertemu orang tuanya, kemudian pada akhirnya dapat berjumpa. Sungguh ini nikmat yang begitu tinggi. "Karena yang selama ini kita rindukan lalu kita dapat berjumpa dengan-Nya," tutur Ketua Komisi Fatwa MUI itu.

Lantas, siapa yang bisa mendapatkan kenikmatan kedua itu? Kenikmatan pertama, yakni nikmatnya saat berbuka puasa tentu bisa diperoleh setiap Muslim yang berpuasa. Namun, Hasanuddin mengatakan, tidak seluruh Muslim bisa mendapat kenikmatan bertemu dengan Allah SWT. Sebab, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, betapa banyak orang berpuasa yang hasilnya hanya lapar dan haus. "Jadi, banyak orang yang seperti itu. Mereka tidak dapat kenikmatan yang kedua karena berpuasa hanya sebagai kebiasaan, tidak karena Allah SWT," tuturnya.

Kenikmatan lain selama Ramadhan, yaitu mendapat pengampunan. Siapa yang berpuasa karena keimanan dan ikhlas menjalankan perintah Allah SWT maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu. Ini satu kenikmatan dan kemurahan Allah. Tak hanya pengampunan dosa, Allah SWT juga akan melipatgandakan pahala kebaikan apa pun yang dilakukan oleh orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.

"Segala kebaikan dilipatgandakan dari pahala biasanya.”


×