Ilustrasi membagikan makanan untuk berbuka puasa pada Ramadhan. | JOJON/ANTARA FOTO
06 May 2020, 01:45 WIB

Jika Puasa Ramadhan dan Sunnah Dipadukan, Apa Dampaknya?

Puasa merupakan sarana latihan kemanusiaan.

 

Alangkah indahnya bila setiap Muslim betul-betul memanfaatkan Ramadhan yang datang hanya sekali setahun. Pada tahun mendatang bukan tak mungkin bulan yang mulia itu tak dapat ditemui lagi. 

Karena itu, waktu sebulan ini tak boleh disia-siakan. Janganlah berpuasa hanya sekadar menahan lapar dan haus. Namun, bagaimana caranya agar puasa ini tidak menjadi sia-sia?

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menuturkan, puasa merupakan sarana latihan kemanusiaan. Tidak ada umat manusia dalam sepanjang sejarah keagamaan yang tidak ada syariat berpuasa.

Terkait

Menahan lapar, dahaga, dan syahwat, merupakan ritual yang sudah ada sejak lama. Dalam Alquran disebut dengan istilah kama kutiba 'alal ladzina min qablikum (seperti ibadah yang diwajibkan orang-orang sebelum kalian atau sebelum umat Islam ada). Dari zaman Nabi Adam sampai Siti Maryam melahirkan pun ada puasanya.

"Dan kesempurnaan puasa itu ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Maka puasa itu menahan diri. Memang secara terminologinya menahan diri dari makan minum dan hubungan suami istri. Itu puasanya orang awam kalau kata al-Ghazali," kata Kiai Cholil kepada Republika, belum lama ini.

Namun, lanjut Kiai Cholil, jika hanya seperti itu, puasanya hanya menggugurkan kewajiban, tak punya makna kemanusiaan dan tak punya makna memperbaiki diri serta mendekatan diri kepada Allah.

"Karena itu, untuk masuk pada tingkatan yang lebih baik yang punya efek dalam puasa tadi, selain puasa yang sifatnya menahan makan dan minum dan hubungan intim atau fisik, dia juga berpuasa dalam perilakunya," kata dia.

Orang berpuasa yang juga menjaga perilaku, misalnya, ia tidak berucap buruk, berghibah, dan sebagainya. Jadi, ia jaga betul perbuatannya. Puasa seperti itu, menurut Kiai Cholil, baru istimewa, meski belum sangat istimewa. 

"Nah, ada yang paling penting, yaitu hatinya terpaut kepada Allah SWT, puasanya diisi dengan zikir pada Allah. Makanya disebutkan bahwa 'Setiap amalan anak Adam itu sebenarnya kembali kepada mereka sendiri kecuali puasa. Sungguh ibadah puasa itu untuk-Ku dan Aku yang membalasnya'. Tanpa hitungan Allah memberikannya," kata Kiai Cholil memaparkan.

Hal itulah, lanjut Kiai Cholil, sebenarnya merupakan puasa yang diterima karena pelakunya sudah mampu menahan diri dari makan minum, tidak berhubungan intim, mampu menahan diri dari perbuatan, ucapan, dan sikap yang buruk. Terakhir, berpuasa dari kepentingan manusiawi, duniawi, dan menyatu hanya karena Allah SWT.

"Tanda puasa diterima itu sebagaimana dilahirkan oleh ibunya, kembali kepada kefitrahannya. Ketika kita mampu mengosongkan dari yang buruk tadi karena kita sudah mencucinya selama bulan Ramadhan dan tanda-tandanya, perbuatan setelah Ramadhan itu lebih baik daripada perbuatan, ucapan, dan tindakan sebelum Ramadhan," ujar Kiai Cholil menjelaskan.

Dengan demikian, Ramadhan dimaksimalkan untuk melatih dan membiasakan diri untuk menahan diri. Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam kitabnya al-Arba'in fi Ushuliddin dan Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa setelah puasa Ramadhan, umat Islam sangat dianjurkan melaksanakan puasa sunah seperti Syawwal, senin-kamis, dan yang paling berat adalah puasa sehari, kemudian pada hari berikutnya berbuka, lalu esoknya berpuasa lagi. Orang menyebutnya puasa Nabi Daud.

Jika menjalankan puasa Syawwal dan senin-kamis secara berkelanjutan, maka seseorang telah memenuhi sepertiga tahun kehidupannya dengan puasa. Sedangkan yang berpuasa Ramadhan dan Daud, maka telah memaksimalkan lebih dari separuh kehidupannya selama setahun untuk berpuasa.

Puasa sebanyak itu akan meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan batin seseorang. Selain imunitas tubuh bertambah, kepribadiannya menjadi lebih baik lagi.

Dalam kondisi demikian, setiap Muslim akan naik keimanannya melalui latihan kemanusiaan pada Ramadhan. Dia akan menemukan kesejatian manusia dan kembali pada fitrah. Karena fitrah itulah, dia mendapat ridha Allah SWT.

Dalam pandangan Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof KH Ahmad Satori Ismail, untuk memaksimalkan puasa Ramadhan, sunah-sunah Rasulullah SAW dalam berpuasa harus dilaksanakan. Misalnya, sahur diakhirkan dan menyegerakan berbuka puasa. Waktunya pun digunakan untuk melaksanakan berbagai ibadah, seperti tilawah, zikir, doa, serta berbagai hal bermanfaat lainnya. 

"Hal-hal yang mengurangi pahala puasa juga harus dihindari, seperti banyak nonton TV, banyak WA. Kemudian memaksimalkan malam Ramadhan, memaksimalkan puasanya, memaksimalkan tilawah Alquran," ujarnya.

Dalam kondisi wabah seperti saat ini, menurut Kiai Ahmad Satori, shalat Tarawih cukup dilakukan di rumah bersama keluarga. Sementara shalat Tahajud dan ibadah malam-malam Ramadhan harus ditingkatkan, khususnya pada 10 hari terakhir demi mendapatkan malam Lailatul Qadr.  

Ia juga mengingatkan untuk memperbanyak sedekah. "Banyak orang yang kena dampak (wabah Covid-19), pekerja harian, orang yang jualan di pasar itu kena dampak. Maka perkuat sedekah.’’


×