Ilustrasi bantuan untuk warga terdampak korona | Aloysius Jarot Nugroho/ANTARA FOTO
06 May 2020, 02:24 WIB

Lembaga Zakat Ramaikan Ramadhan Bantu Penanganan Korona

Masyarakat terdampak Korona menjadi perhatian lembaga zakat,

 

 

JAKARTA -- Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN bersama PLN Peduli, Askar Kauny, Gelora Energi Wakaf, serta dukungan pemerintah daerah dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) menjalankan program Dapur Umat Ramadhan 1441 H. Berada di 20 lokasi, Dapur Umat menyediakan 10 ribu paket makanan siap saji untuk takjil dan berbuka puasa. 

"Kita memang sudah memesan food truck untuk kebutuhan siap saji di daerah Pak Kumis (padat kumuh dan miskin). Di samping food truck, kita juga stay di masjid," kata Ketua III Bidang Koordinasi Unit dan Kerja Sama Strategis YBM PLN Herry Hasanuddin kepada Republika, Selasa (5/5).

Terkait

Program ini akan berjalan pada 1-20 Mei 2020. Sementara, lokasinya tersebar di sejumlah wilayah, yakni 10 lokasi di Jakarta, tiga lokasi di Bogor, tiga lokasi di Tangerang, dua lokasi di Depok, dan dua lokasi di Bekasi. Setiap hari dalam satu lokasi menyajikan sebanyak 500-1.500 paket makanan. "Alhamdulillah, dari testimoni yang ada, warga sangat terbantu, di beberapa tempat juga dihadiri oleh lurah, RT/RW," kata Herry.

Memasuki bulan Ramadhan kali ini yang bersamaan dengan pandemi penyakit virus korona (Covid-19), menurut dia, YBM PLN ingin membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi. Herry mengatakan, buka puasa menjadi suatu masalah bagi mereka yang tinggal di kawasan Pak Kumis saat ini. Sebab, di antara mereka ada yang tidak memiliki penghasilan akrena pemutusan hubungan kerja dan lainnya.

Dapur Umat menggandeng sejumah relawan untuk membagikan paket makanan. Pada Ramadhan sebelumnya, makanan berbuka dibagikan secara langsung dengan jumlah massa yang banyak. Namun, karena adanya wabah Covid-19, kini makanan dibagikan langsung ke rumah.

Herry mengatakan, pekerja seni atau manusia besi yang biasa berada di Kota Tua, Jakarta, juga diajak ikut bergabung. Selain dapat membantu warga yang membutuhkan, mereka juga kembali memiliki penghasilan.    

Sejumlah juru masak (koki) yang berhenti bekerja dari hotel dan restoran karena dampak pandemi Covid-19 juga diajak ikut serta memasak makanan. Sebanyak 15 koki ambil bagian dalam program ini.

"Kami ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka yang berpuasa sehingga mereka tidak kesulitan untuk makanan buka puasa, dan berbagi kegembiraan karena mereka mendapatkan makanan yang layak," kata Herry.

Gerakan membantu sesama dengan membuat dapur umum juga dilakukan Dewan Masjid Indonesia (DMI). “Dapur umat pertama dibuka di JIC (Jakarta Islami Centre), yang juga merupakan DMI DKI Jakarta," ucap Ketua Departemen Pemuda DMI Arief Rosyid saat dihubungi Republika, Selasa (5/5).

Empat organisasi pemuda remaja masjid yang berada di bawah naungan DMI pun terlibat dalam program ini. Mereka adalah Perhimpunan Remaja Masjid DMI, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Jakarta, Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) DKI Jakarta, serta Indonesia Islamic Youth Economi Forum (ISYEF). 

Saat ini, kegiatan Dapur Umat sudah bertambah. Ada beberapa titik yang membuat Dapur Umat di luar masjid. "Dari awal, sebetulnya kegiatan ini tidak terpusat di masjid. Namun, cara masyarakat dan umat untuk membantu sesama ini diadopsi dan diarahkan ke masjid," kata dia.

Untuk porsi makanan yang dihasilkan setiap hari, ia menyebut antara 250 hingga 500 porsi. Namun, jumlah ini tidak tetap karena bergantung pada sumbangan atau bantuan donatur.

"Alhamdulillah, respons masyarakat positif. Bantuan dari masyarakat maupun perusahaan terus berdatangan. Sama-sama semua ingin bergotong-royong membantu," lanjut Arief.

Untuk tim yang memasak, Arief menyebut masih memberdayakan sumber daya sendiri alias dari empat organisasi pemuda masjid yang ada. Secara bergantian, mereka ditugasi untuk memasak makanan.

Perihal keberlangsungan Dapur Umat, Arief mengatakan, kegiatan awalnya muncul karena keinginan untuk membantu sesama saat masa pandemi Covid-19. Kebetulan, momentumnya berdekatan dengan bulan Ramadhan.

Pihaknya pun akan selalu melihat perkembangan wabah Covid-19 di Indonesia. Jika wabah ini masih berlanjut setelah Ramadhan, program ini mungkin akan dilanjutkan.

ACT dan gerakan satu bantu satu

Aksi Cepat Tanggap (ACT) meluncurkan gerakan Satu Bantu Satu bersama para ulama. Melalui gerakan ini, ACT mengajak semua orang menjadi bagian dari gerakan satu orang membantu satu orang.  

Presiden ACT, Ibnu Hajar, mengatakan, apabila para dermawan tidak memiliki waktu berinteraksi dengan masyarakat karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), bisa berdonasi melalui Indonesiadermawan.id. Jika donasi tersebut diperuntukkan zakat fitrah, akan dimasukkan dalam program pemberian bantuan pangan.

"Kalau donasi untuk gerakan satu bantu satu, bisa juga disalurkan melalui Indonesiadermawan.id ini bagi mereka yang ingin berbagi, tapi kondisinya tidak memungkinkan karena PSBB," kata Ibnu kepada Republika di sela-sela peluncuran gerakan Satu Bantu Satu di Kantor ACT, Menara 165, Jakarta, pada Selasa (5/5).

Para dermawan juga bisa datang langsung ke rumah orang yang membutuhkan. Bila para dermawan memberikan sepiring makanan atau beras, ACT berharap aktivitas tersebut difoto dan diunggah di media sosial. Kemudian, sampaikan ke masyarakat bahwa ini adalah gerakan satu orang bantu satu orang.

Dia mengatakan, orang yang memublikasikan kebaikan dalam gerakan satu bantu satu, bukan bagian dari riya. Pasalnya, tujuannya untuk menginspirasi dan mengajak semua orang di Indonesia ikut gerakan satu orang membantu satu orang.

"Jadi, yang mau membantu langsung silakan, yang mau lewat ACT silakan, kami akan antarkan beras dan akan kami layani 24 jam melalui humanity care line di 0800-1165-228," ujarnya. Setiap bantuan yang diberikan berupa beras lima kilogram atau sekira Rp 60 ribu.

Ibnu mengatakan, setiap saat orang bisa menghubungi kontak tersebut untuk berbagi dan meminta bantuan. Sebab, kebutuhan pangan sangat mendesak sehingga tidak bisa menunggu besok. Kapan saja mereka membutuhkan, ACT siap melayani.

Dia menyebut, data kemiskinan sekarang ini tidak bisa lagi dijadikan acuan. Bisa jadi, masyarakat yang tercatat sebagai orang mampu tiga bulan lalu, kini menjadi orang yang tidak berpenghasilan.

"Alhamdulillah, atas izin Allah lembaga ini membuat program humanity care line, sebuah layanan 24 jam yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta," kata Ibnu.

Humanity care line melayani lebih dari 10 ribu orang. ACT berharap humanity care line akan berkembang ke Jabodetabek dan Jawa Barat serta semua wilayah. ACT tidak ingin ada orang yang tidak memiliki makanan dan dibiarkan hidup dalam kelaparan.

Peluncuran gerakan dengan tagar #bersamaulamaselamatkanbangsa dihadiri sejumlah ulama. Mereka di antaranya Ustaz Bobby Herwibowo, Ustaz Fadlan Garamatan, Ustaz Haikal Hassan, dan Ustaz Amir Faishol. Para ulama mendukung dan mengajak masyarakat menjadi bagian dari gerakan satu orang bantu satu orang.

Ustaz Haikal Hassan mengatakan, jumlah masyarakat Indonesia secara keseluruhan sekira 260 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 juta jiwa dalam kategori miskin. Dia lantas bertanya, apakah penduduk lain yang jumlahnya 220 juta jiwa tidak bisa membantu saudaranya yang berjumlah 40 juta jiwa. 

"Dari situ saya mengusulkan kepada Presiden (tentang gerakan satu orang bantu satu orang), tapi sampai sekarang tak ada tanggapan," kata Ustaz Haikal.

Sebelumnya, gagasan gerakan satu orang bantu satu orang juga disampaikan ke DPR, partai politik, gubernur, dan kepala daerah saat berceramah, tetapi tidak ada tanggapan. Kini, gagasan ini didukung dan dilaksanakan ACT dengan serius.

Gerakan ini boleh dilaksanakan siapa saja tanpa melihat suku, ras, etnis, bangsa, dan agama. Siapa pun yang bisa membantu satu orang, maka bantu satu orang.

"Kalau ini (gerakan) diterapkan (bersama), insya Allah dalam waktu satu hari tidak ada orang miskin, boleh jadi orang kaya satu orang membantu sepuluh orang atau tiga puluh orang miskin," ujarnya.

Ustaz Haikal mengajak masyarakat memviralkan gerakan ini. Tidak perlu khawatir dinilai riya. Menurut dia, membantu secara sembunyi-sembunyi sangat baik dan membantu secara terang-terangan juga baik. 

"Sembunyi-sembunyi atau terang-terangan membantu boleh, yang enggak boleh membantu sambil riya," ujarnya.

Kisah sedih

Salah satu petugas humanity care line, Agan Dirgantara, memiliki banyak cerita menyedihkan dari masyarakat yang meminta pertolongan. Kemarin, dia sudah melayani 38 telepon dari masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Dia bercerita, ada seorang ibu dari daerah Jakarta Utara menelepon untuk meminta bantuan. Untuk verifikasi data pun, ibu ini dibantu tetangganya yang ada di sana melalui gawai.

"Ibu dan suaminya ini bersama empat orang anaknya yang masih kecil, paling besar anaknya berusia delapan tahun, mereka tinggal di gubuk dekat pembuangan sampah," kata Agan.

 

Ibu tersebut mengatakan, suaminya kehilangan pekerjaan karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Biasanya setelah kerja, suami menyambi sebagai sopir ojek daring. Namun, karena PSBB, dia tidak bisa mendapatkan penghasilan dari sana.

Dompet Dhuafa dan rumah sakit kontainer

Lembaga filantropi Dompet Dhuafa (DD) menyalurkan wakaf yang diterimanya untuk membangun rumah sakit (RS) kontainer di dua lokasi, yakni RS Rumah Sehat Terpadu di Bogor dan RS Kartika Pulomas.   

General Manager Corporate Secretary DD Dian Mulyadi mengatakan, penerimaan wakaf merupakan kanal tersendiri yang memiliki tren khusus. Total penerimaannya pun mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. "Pertumbuhannya juga di atas rata-rata tahun lalu," ujar Dian.   

Perihal animo masyarakat dalam mengalokasikan dananya untuk wakaf, utamanya pada masa pandemi ini, ia menilai cukup bagus. Sebagian besar donatur melihat kondisi ini sebagai kesempatan terbaik untuk berbagi kepada sesama, apalagi bersamaan dengan bulan suci Ramadhan.    

Untuk wilayah dengan penerimaan wakaf terbesar, ia menyebut, masih sama dengan sebelumnya. DKI Jakarta menjadi wilayah dominan dalam penghimpunan secara nasional.  

 

 

Target utama kami adalah pendirian RS kontainer dan pengadaan ventilator sebagai kebutuhan utama pada masa pandemi. Hal ini untuk mengantisipasi jika terjadi outbreak kasus Covid-19.  

 

General Manager Corporate Secretary DD Dian Mulyadi 
 

Sebelumnya, tepatnya Jumat (24/4), lima kontainer rumah sakit telah sampai di Stasiun Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara, Jumat (24/4). Nantinya kontainer tersebut akan dijadikan ruang rawat pasien Covid-19 dan dipasang di rumah sakit milik DD.   

Kontainer tersebut berukuran 10 m x 4 m dan didesain memuat dua ruang atau petak, lengkap dengan jendela dan pendingin ruangan. DD menargetkan, jumlah RS kontainer sebanyak 10 kontainer. Namun, untuk sementara waktu akan dioptimalkan terlebih dahulu sebanyak lima buah.   

Mengenai pertimbangan DD menggunakan konsep kontainer, Dian menerangkan, karena RS kontainer lebih tahan terhadap bencana. Selain itu, pembuatannya lebih cepat dan sesuai standar fasilitas kesehatan yang berkelanjutan.    

"Rumah sakit kontainer akan difungsikan sebagai ruang isolasi, bersifat portabel, dan ramah lingkungan," kata Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa, Imam Rulyawan.  

 

Selain akan digunakan sebagai ruang rawat, RS kontainer juga akan difungsikan sebagai laboratorium. Nantinya laboratorium tersebut mampu melayani rata-rata 300 pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) setiap hari.  

 

Bantuan makanan

photo
Ilustrasi berbagi makanan. - (ANTARAFOTO)

Rumah Makan Gratis di Jalan Raya Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, tetap melayani para pengunjung yang ingin menyantap hidangan di tengah pandemi Covid-19. Namun, ada yang berbeda dari rumah makan milik Aditya Prayoga ini.

Selama pandemi, rumah makan tersebut tidak memasak makanan untuk dihidangkan, melainkan membelinya dari pedagang makanan lain. Aditya ingin memakmurkan pedagang di sekitar Ciangsana. "Karena Desa Ciangsana ini sudah zona merah, banyak yang kena korona. Ada yang mau bangkrut usaha rumah makannya," ujarnya.

Rumah Makan Gratis menerima kiriman paket ratusan porsi makanan setiap sehari selama pandemi. Ada rumah makan yang menyumbang 200 paket porsi makanan. Ada pula Yayasan Bersama Beramal Sholeh yang menyumbang 100 paket. "Saya pribadi menyiapkan 100 paket makanan," kata dia.

Kalangan ibu-ibu yang tinggal di permukiman sekitar juga sering membantu dengan memberikan puluhan paket makanan ke Rumah Makan Gratis. Adapun donasi uang yang masuk digunakan untuk membeli makanan di warung-warung makan kecil, kemudian dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

"Jumlah donasi memang berkurang, tetapi pembagian itu semakin meningkat karena banyak saudara kita yang membutuhkan, semakin banyak yang butuh bantuan," ujarnya.

Meski buka di tengah pandemi, apalagi pada bulan suci Ramadhan, Rumah Makan Gratis tetap menjaga ketat jaga jarak fisik antarpengunjung. Dia juga mempersilakan warga sekitar seperti tukang parkir untuk memasak sendiri jika memang ingin makan.

Aditya menyadari, setelah pandemi wabah ini terjadi, banyak warga yang membutuhkan bantuan. Kebanyakan dari mereka tidak mampu untuk membayar biaya kontrakan. Aditya lantas membuat gerakan sebagai bentuk penyebaran informasi soal adanya warga yang butuh bantuan.

Mereka biasanya bekerja sebagai kuli bangunan. "Mereka tidak dapat pekerjaan, sedangkan mereka sendiri pendatang, ada yang dari Kalimantan, dari mana-mana, maka saya prioritaskan gerakan ini untuk membantu yang kesulitan bayar kontrakan," kata Aditya.

Aditya juga turut membantu. Dia bahkan rela menjual dua unit motornya untuk membantu warga yang sedang berada dalam kesulitan ekonomi di tengah pandemi Covid-19. "Enggak lama kemudian, saya dapat rezeki, lalu beli motor lagi, eh malah hilang dicuri," ujarnya.

Aditya beserta istri dan dua anaknya yang masih berusia dua tahun dan satu tahun kini tinggal dengan menumpang di Rumah Tahfiz, menempati sebuah kamar berukuran kecil. Sebelum itu, dia tinggal di sebuah rumah kontrakan. Lantaran tidak mampu membayar kontrakan, dia meminta izin kepada pemilik rumah yang dijadikan Rumah Tahfiz itu untuk bisa tinggal di sana.

Rumah Tahfiz tersebut adalah amanat yang diserahkan oleh pemilik rumah kepada Aditya. Meski demikian, dia tidak ingin tinggal di dalamnya karena amanah yang diberikan adalah rumah itu untuk Rumah Tahfiz, bukan untuk dirinya. Hingga kini, ada 13 anak yang diasuh di Rumah Tahfiz itu.

"Sebetulnya awalnya saya disuruh tinggal di rumah itu, tetapi saya tidak mau, dan saya tawarkan mau enggak kalau dijadikan untuk Rumah Tahfiz," ujarnya.

Kini Aditya mengurus Rumah Makan Gratis dan Rumah Tahfiz. Total donasi yang terkumpul dari para dermawan untuk keduanya senilai Rp 4 juta. Jumlah ini akan digunakan untuk membayar empat guru Alquran di Rumah Tahfiz. "Itu yang penting, karena kan masih aktif, ngaji enggak boleh libur," ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Aditya berjualan alat belajar Alquran yang dia sebut murotal. Dia menjual alat ini selama bertahun-tahun, bahkan sejak masih lajang. Saat pandemi korona, dia juga menjual paket sembako senilai Rp 100 ribu kepada kalangan atau komunitas yang ingin membantu orang-orang yang membutuhkan di tengah pandemi.

 

Dia bercerita, banyak komunitas yang menggalang dana. Mereka pun membeli sembako kepada Aditya karena paketnya sudah lengkap yang terdiri dari 11 bahan pokok. "Saya belinya di agen grosir yang besar, dari situ bisa untung Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per paket," ujarnya.

 


×