Sampul muka sebuah buku bergambar KH Bey Arifin | DOK Repro Buku Bey Arifin Kontra Yusuf Roni
19 Sep 2020, 06:47 WIB

KH Bey Arifin Sang Mubaligh dan Imam Tentara

Ulama asal Minangkabau ini tak hanya berceramah di kalangan sipil, tapi juga tentara.

 

 

OLEH MUHYIDDIN

 

Terkini

KH Bey Arifin adalah seorang dai yang malang-melintang di berbagai ranah. Mulai dari organisasi ulama, akademisi, hingga dunia militer. Buku //Perjalanan Panjang Seorang Dai KH Bey Arifin// mengabadikan riwayat hidupnya.

Sang penulis, Totok Djuroto, menjelaskan, Bey Arifin lahir di Desa Parak Laweh, Kecamatan Tilatang, Agam, Sumatra Barat, pada 26 September 1917. Ayahnya adalah Muhammad Arif, bergelar Datuk Laut Basa. Adapun ibundanya bernama Siti Zulaikha.

Dalam tradisi Minangkabau kala itu, seorang anak yang baru lahir tidak langsung diberi nama. Alhasil, saat baru lahir Bey hanya diberi sebutan, sebagaimana anak laki-laki lainnya, yaitu Buyung. Ibunya berasal dari Suku Tanjung. Maka dari itu, anak ini disebut pula Buyung Tanjung. Ia juga dipanggil sebagai Buyung Kepuyuak saat masih kecil. Kata kepuyuak sendiri berarti kecoa. Sebutan itu diberikan kepadanya karena setiap berolah raga Buyung kecil begitu lincah, layaknya serangga tersebut.

Totok meneruskan, sejak kecil Bey Arifin sudah sering sakit-sakitan. Orang tuanya pun kerap mengganti namanya. Sebab, nama adalah doa. Dan, menemukan doa yang baik pun perlu proses berulang-ulang. Sebagaimana anak-anak pada zamannya, Bey Arifin kecil sudah mulai bekerja untuk membantu ayah-ibu. Pada pagi hari, ia pergi ke sawah sambil memanggul cangkul dan menenteng golok. Di sana, ia bergelut dengan lumpur dan mengolah tanah sembari membantu ayahnya bercocok tanam.

Pada suatu bulan suci Ramadhan, masyarakat setempat sedang menggelar acara peringatan Nuzulul Qur'an. Bey Arifin --yang saat itu masih dipanggil Buyung Tanjung-- ikut ke masjid dengan dituntun ayahnya. Sesampainya di tempat ibadah itu, ia dengan penuh perhatian menyimak ceramah yang disampaikan Kiai Nurdin Ahma asal Kamung Parak Laweh.

Faktanya, Bey Arifin tidak sekadar mendengarkan orasi. Sebab, ia juga fokus pada sosok sang penceramah di kampung halamannya itu. Ia merasa, hebat sekali seseorang bisa tampil piawai di atas podium. Setiap kata yang meluncur dari lisannya terus memikat para pendengar. Sejak saat itu, Bey mulai bercita-cita untuk menjadi seorang juru dakwah. Bahkan, ia sering mengikuti Kiai Nurdin dalam setiap acara keagamaan.

Bey kecil pun menjadi lebih rajin pergi ke surau untuk mengaji Alquran. Ia kian tekun mempelajari dasar-dasar ilmu agama Islam sehingga dalam usia muda dirinya menjadi alim dan gemar beribadah.

Ayahnya hanya seorang petani. Akan tetapi, kerja kerasnya berbuah manis. Bey Arifin dapat masuk sekolah umum tingkat dasar (Folkschool). Di kelas, ia fokus belajar, terutama mengingat perjuangan ayahnya dalam mencari nafkah. Tiga tahun kemudian, ia lulus dengan hasil yang memuaskan.

Karena masih haus ilmu pengetahuan, ia pun melanjutkan pendidikan ke Vervolgschool. Saat duduk di kelas empat, ia juga belajar agama di Ibtidaiyah Diniyah scholl, Simpang Empat. Sekolah Islam itu terletak tidak jauh dari desanya. Pada 1931, ia berhasil menyelesaikan studinya di Vervolgschool.

Sekitar tujuh tahun kemudian, Bey Arifin meneruskan pendidikan di Islamic College Kota Padang. Waktu itu, ia sudah terbiasa dalam kegiatan dakwah Islam. Kemampuan berceramah pun dikuasainya, terutama sejak usia 17 tahun. Ia sering berpidato atas nama Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) di berbagai forum. Di antaranya adalah pengajian umum yang disebut sebagai Openbare Vergadering.

Di atas podium, ia kerap menyingkat namanya menjadi BJ dan menambahkan nama belakang ayahnya. Lengkapnya menjadi BJ Arifin. Namun, pada 1934 seorang sahabatnya, Tamarajaya, menyarankan agar penanda BJ diganti menjadi Bey karena lebih mudah dilafalkan. Sejak saat itu, namanya pun lebih dikenal sebagai Bey Arifin atau Ifin.

Mengikuti tradisi Minangkabau, Bey Arifin pun merantau pada 1939. Dalam buku Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan, Wajidi menjelaskan, Bey saat itu menumpang kapal Slout van Dieman. Ia berangkat bersama temannya, Maisyir Thaib, ke Banjarmasin.

Saat itu, Bey Arifin sudah menapaki usia 22 tahun. Begitu tiba di Banjarmasin, mereka lantas menuju daerah Rantau. Di sana, Bey mengajar pada Noormal School Islam, yaitu sekolah yang mendidik para calon guru.

 

Turut berjuang

Bey Arifin merasakan zaman pendudukan Jepang. Mulanya, Dai Nippon datang membawa janji-janji pembebasan kepada rakyat Indonesia. Namun, belakangan propaganda itu tak lagi mempan dalam memikat massa. Apalagi, Jepang sering berlaku kejam terhadap penduduk setempat. Secercah harapan muncul ketika para pemuda pergerakan mengetahui kabar kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

Bey Arifin pada Agustus 1945 masih berada di Kalimantan. Seperti halnya jutaan rakyat Indonesia, ia pun larut dalam syukur dan gembira usai menerima berita Proklamasi RI. Berikutnya, ia mendapati informasi, tentara Sekutu mulai memasuki wilayah Tanah Air. Bahkan, Belanda dipastikan turut membonceng bala tentara pemenang Perang Dunia II itu dengan niatan ingin kembali menjajah Indonesia.

Pada September 1945, Bey Arifin dan keluarganya menumpang sebuah perahu Madura untuk meninggalkan Kalimantan. Ia menuju Surabaya, Jawa Timur. Di kota itu, suasana sudah menegangkan. Kaum Republik sudah siap tempur melawan tentara Sekutu, utamanya Inggris.

Bey Arifin pun terlibat langsung dalam Perang 10 November di Surabaya. Ia bergabung dengan Laskar Hizbullah. Sesudah pertempuran yang kelak diperingati sebagai Hari Pahlawan itu, ia pun hijrah ke Madiun untuk jangka waktu tertentu. Usai masa revolusi, ia kembali lagi ke Surabaya dan bekerja sebagai guru agama pada Yayasan Pendidikan al-Irsyad.

Waktu itu, Bey Arifin memboyong seluruh anggota keluarganya ke Surabaya. Dengan bantuan dari pihak al-Irsyad, kepindahan Bey dari Madiun ke Surabaya dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang. Sebab, jalur darat waktu itu kurang kondusif.

Dalam era Orde Lama, kariernya sebagai juru dakwah semakin mulus. KH Bey Arifin tidak hanya mengajar di sekolah dan berdakwah di kalangan sipil. Ia pun aktif menjadi penceramah di kalangan tentara. Bahkan, ia pernah menjadi imam tentara di Kodam Brawijaya dan turut mengisi Pusat Rohani Islam Angkatan Darat ABRI (kini Tentara Nasional Indonesia/TNI).

Di atas podium, Kiai Bey Arifin tak selalu menggunakan gaya bahasa formal. Ia juga tak jarang membumbui ceramahnya dengan berbagai anekdot lucu. Oleh karena itu, menurut Totok Juroto, sosok ulama ini sangat disenangi oleh semua tentara, baik dari lapisan prajurit bawahan maupun perwira. Bahkan, rohaniawan yang mengurusi agama Kristen Protestan juga nyaman berinteraksi dengan Kiai Bey Arifin yang notabene Muslim. Hal ini membuktikan, dalam memberi pengajian seorang juru dakwah penting pula melontarkan guyonan. Mengutip nasihat almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), Kiai yang tidak bisa guyon saat mengaji kitab itu kurang lengkap ilmunya.

Kemampuan humor yang dimiliki KH Bey Arifin menjadi penting agar pesan-pesan agama bisa membekas dalam pikiran jamaahnya. Melalui anekdot, ia dapat lebih mudah menyampaikan makna tekstual yang mungkin terbilang berat kepada para pendengarnya.

 

Produktif menulis

KH Bey Arifin termasuk kalangan dai yang piawai mengarang kitab. Pada 1950, ia menyelesaikan karya tulisnya yang berjudul Rangkaian Cerita dalam Alquran. Buku ini naik cetak berulang kali karena diterima dengan antusias oleh pembaca. Waktu itu, Kiai Bey masih menjabat sebagai imam tentara di Kodam Brawijaya.

Dengan menggunakan mesin ketik, ia berhasil menyelesaikan tulisannya itu. Dalam hal ini, ia merujuk pada berbagai ayat-ayat Alquran sehingga terangkailah cerita-cerita yang runtut. Karya itu setebal 500 halaman.

KH Bey Arifin juga kerap mengirimkan artikel karyanya ke berbagai media massa nasional. Melalui tulisannya itu pula, namanya kian dikenal. Perdana Menteri yang juga tokoh Masyumi Mohammad Natsir menjadi sahabat dekatnya lantaran terkesan dengan ketajaman penanya. Tak jarang Kiai Bey Arifin memberikan beberapa bukunya kepada sang pengagas Mosi Integral itu.

Pada 1954, satu lagi karya KH Bey Arifin diterbitkan oleh suatu penerbit buku yang cukup terkenal waktu itu. Setelah karya pertama terbit, ia semakin semangat dalam menulis sehingga dapat menyelesaikan karya-karyanya yang lain. Dengan kesibukan itu, ia tidak hanya aktif sebagai pendakwah dan imam tentara, tetapi juga penulis penuh waktu.

Sejak menjadi imam tentara, ia merilis sejumlah karya. Di antaranya adalah Hidup Sesudah Mati (1969), Mengenal Tuhan (1963), dan Samudera al-Fatihah (1966). Saat berumur 72 tahun, Kiai Bey Arifin tercatat sudah menghasilkan sekitar 47 buku. Seluruhnya membahas tentang agama Islam, termasuk dari segi filsafat.

KH Bey Arifin berpulang ke rahmatullah pada 30 April 1995 dalam usia 77 tahun. Selama hidupnya, sang kiai tampaknya benar-benar terpengaruh hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari. Sabda Nabi SAW, "Sampaikan dariku walau hanya satu ayat." Itulah yang diamalkan Kiai Bey Arifin hingga akhir hayatnya. 

 

Teladan Panglima Besar Jenderal Sudirman

KH Bey Arifin menjadi juru dakwah dan imam tentara selama bertahun-tahun. Ia pun menjalin persahabatan dengan banyak tokoh militer Tanah Air. Bahkan, ia juga dekat dengan panglima besar Jenderal Sudirman.

Sosok yang akrab disapa Pak Dirman itu menganggap Kiai Bey Arifin sebagai salah seorang gurunya. Dalam buku biografi Bey Arifin, Jenderal Sudirman menyumbangkan tulisan berjudul Ustadz H Bey Arifin sebagai Perwira Rohani dalam Kesatuanku dan Juga Sebagai Guruku.

Selain dekat dengan kalangan tentara, Kiai Bey Arifin tentunya juga akrab dengan para ulama. Apalagi, ia pernah menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Jawa Timur. Lelaki kelahiran Sumatra Barat itu juga aktif dalam pergerakan politik kebangsaan, misalnya, melalui Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Di Konstituante, ia duduk sebagai anggota mewakili partai tersebut.

Dalam catatan sejarah, KH Bey Arifin juga pernah belajar bersama-sama dengan Ketua Umum MUI pertama Indonesia, yaitu Buya Hamka. Ia dan Buya Hamka pernah ikut dalam forum diskusi besar kalangan alim ulama di Masjid Batu Merah, Ambon, Maluku, tepatnya pada momen Hari Kebangkitan Nasional. Dalam buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia dijelaskan, Masjid Batu Merah tak cukup lapang untuk menampung para peserta forum. Maka, pada 1924 masjid itu pun direnovasi.

Cendekiawan Muslim Prof Deliar Noer pernah mengadakan penelitian tentang gerakan-gerakan Islam di Indonesia pada 1955. Saat melakukan penelitian itu, ia menumpang di rumah Kiai Bey Arifin yang berada di kompleks perumahan dinas militer, Jalan Perwira, Surabaya.

Deliar Noer pun mengenang masa-masa dirinya menumpang di rumah sang kiai. Selama sebulan, ia mengaku mendapatkan kesan yang mendalam tentang sosok Kiai Bey Arifin dan keluarganya. Menurut dia, cita-cita Kiai Bey Arifin untuk menjadi seorang mubaligh saat itu sudah terpenuhi.

"Kalau dilihat secara lahir dan mengenal kemauan keras Bey Arifin dari dekat, tampaknya hanya Allah yang akan menghentikannya dalam berdakwah," ujar Deliar Noer, seperti dikutip dalam publikasi Kinantan edisi Agustus 1995.

photo
Panglima Besar Jenderal Sudirman - (DOK Wikipedia)


×