Presiden Donald Trump saat memberikan keterangan pers soal perkembangan penangan Covid, Senin (27/4). | AP/Evan Vucci

Internasional

29 Apr 2020, 02:00 WIB

Keputusan Trump Soal WHO Diselidiki 

Hubungan Cina-Australia memanas

WASHINGTON -- House of Representative Amerika Serikat (AS) meluncurkan penyelidikan terhadap keputusan Presiden Donald Trump menghentikan pendanaan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin (27/4). Departemen Luar Negeri AS diberi waktu sepekan untuk menjelaskan langkah tersebut.  

Perwakilan Demokrat yang bertindak sebagai ketua komite, Eliot Engel, mengatakan, WHO memang tidak sempurna. Dia pun mendukung adanya reformasi di lembaga itu. "Namun, tentu saja memotong pendanaan WHO, sementara dunia menghadapi tragedi Covid-19, bukanlah jawabannya," ujar Engel dilansir Reuters.  

Dia meminta Departemen Luar Negeri AS menyediakan 11 set dokumen atau informasi lain yang terkait dengan keputusan menghentikan pendanaan. Semua dokumen itu harus diserahkan selambat-lambatnya pada 4 Mei pukul 17.00 waktu setempat. 

Jika hal itu tak dilakukan, Engel mengatakan, komite akan mempertimbangkan semua tindakan yang ada. Engel memiliki wewenang mengeluarkan panggilan pengadilan kepada agen-agen federal.  

Trump memutuskan menangguhkan pendanaan untuk WHO pada 14 April. Dia menuding WHO bertindak Cina-sentris dan mempromosikan disinformasi Cina tentang virus korona baru. Namun, WHO telah membantah semua tuduhan tersebut. 

Keputusan Trump memicu kritik, baik dari dalam negeri maupun sekutunya di luar negeri. Beberapa anggota Demokrat  menuding Trump menggunakan WHO dan Cina sebagai kambing hitam untuk mengalihkan perhatian dari apa yang mereka pandang sebagai kesalahan penanganan terkait pandemi.  

Namun, sebagian besar anggota Partai Republik mendukung keputusan Trump. Mereka memuji penanganannya atas krisis kesehatan serta menyerukan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mundur.  

AS merupakan pendonor terbesar WHO. Tahun lalu ia menyumbang 400 juta dolar AS atau sekitar 15 persen anggaran WHO. 

Hubungan memanas

Sementara, Australia meminta duta besar Cina menjelaskan soal ancaman 'koersi ekonomi'. Pejabat di Cina menyatakan akan mengambil langkah itu untuk merespon upaya Australia mendorong adanya penyelidikan internasional terkait sumber dan penyebaran virus korona.

Selasa (28/4) Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham mengatakan Australia adalah 'pemasok krusial' bagi Cina untuk barang-barang impor yang mereka butuhkan seperti biji besi. Birmingham mengatakan sumber daya alam dan energi Australia sangat membantu pertumbuhan dan pembangunan manufaktur Cina.

"Australia tidak mengubah posisi kebijakan kami dalam isu kesehatan publik karena koersi ekonomi atau ancaman koersi ekonomi, kami akan mengubah posisi kebijakan kami dalam hal keamanan nasional," kata Birmingham pada stasiun radio ABC, Selasa (28/4).

Sebelumnya Duta Besar Cina untuk Australia Cheng Jingye memperingatkan pemerintah Australia yang ingin menggelar penyelidikan sumber virus korona atau Covid-19. Jingye mengatakan upaya Australia dapat memicu konsumen Cina melakukan boikot terhadap produk mereka.

Dalam wawancara dengan The Australian Financial Review, Senin (27/4) Jingye mengatakan upaya Australia yang ingin menggelar penyelidikan 'berbahaya'. Ia memprediksi usaha Australia menarik dukungan akan gagal.

Kedutaan Besar Cina merilis ringkasan percakapan di situs mereka. Dalam ringkasan percakapan itu Cheng mengatakan 'sepenuhnya menolak kekhawatiran dari pihak Australia'. "Fakta bawah proposal itu adalah manuver politik tidak dapat dikubur," kata Cheng dalam ringkasan percakapan tersebut.

Kepada Sky News Australia, Birmingham mengatakan 'keberatan pemerintah Australia sudah disampaikan melalui sambungan telepon'. Negeri Tirai Bambu adalah mitra dagang terbesar Australia, 26 persen dari total perdagangan Australia dilakukan dengan Cina.

Pada 2018/2019 nilai perdagangan antara kedua negara mencapai 235 miliar dolar Australia atau 150 miliar dolar AS. Cina pasar tunggal terbesar Australia pada ekspor batu bara, biji besi, anggur, daging, pariwisata dan pendidikan.   "Australia pemasok krusial untuk perekonomian Cina, seperti halnya perekonomi Cina memasok barang-barang, sumber daya dan layanan untuk perekonomian Australia," kata Birmingham.

Ia menambahkan Australia ingin mempertahankan hubungan positif dengan Cina. Tapi juga mencari kesempatan lain di India dan Uni Eropa. Valuasi perdagangan Australia  dengan Uni Eropa dan India pada 2018/2019 sebesar 114,3 miliar dolar Australia dan 30,3 miliar Australia.

Walaupun pada 2018/2019 Australia dan Cina mengalami ketegangan diplomatik karena Negeri Kanguru mengesahkan undang-undang intervensi asing yang dianggap mengincar Cina. Tapi perdagangan kedua negara tumbuh 20 persen.

"Cina membutuhkan kami, mari jangan lupakan itu, banyak impor penting industri Cina seperti biji besi, batu bara dan gas berasal dari Australia, tidak mudah bagi Cina untuk mencari pengganti tiga input terbesar industri mereka," kata anggota Partai Liberal James Paterson pada Sky News. 


×