Dirut BTN Pahala N Mansury berikan sambutan saat pembukaan Rapat Kerja BTN tahun 2020 di Jakarta, Jumat (10/1). | Tahta Aidilla/Republika

Ekonomi

28 Apr 2020, 01:39 WIB

BTN Merevisi Laju KPR

Penyaluran KPR lebih fokus ke karyawan fix income.

JAKARTA —  PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan merevisi target laju pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) pada tahun ini. Hal tersebut dilakukan menyusul permintaan KPR yang mengalami penurunan di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Utama BTN Pahala Mansury mengatakan, secara nasional permintaan kredit baru mengalami penurunan karena ada daerah penyerapan kredit yang terdampak virus korona.

“Permintaan (kredit) menurun juga. Kami berharap pada Mei sudah akan ada penyaluran KPR subsidi tambahan sesuai program stimulus,” kata Pahala kepada Republika di Jakarta, Senin (27/4).

Direktur Finansial, Perencanaan, & Treasuri BTN Nixon L P Napitupulu menambahkan, perseroan merevisi target pertumbuhan KPR nonsubsidi dan komersial menjadi kisaran nol persen sampai tiga persen. Sedangkan, KPR subsidi diperkirakan enam persen sampai delapan persen.

“Kami harapkan kondisi ini tidak akan lama sehingga ekonomi dapat kembali berjalan normal dan BTN dapat kembali melanjutkan Program Sejuta Rumah bagi masyarakat Indonesia,” ujar Nixon.

Meski demikian, bank pelat merah tersebut masih optimistis tetap bisa meraih laba sekitar Rp 2 triliun pada tahun ini. Untuk menjaga likuiditas, emiten berkode saham BBTN di lantai bursa itu juga secara hati-hati melakukan pembelian surat utang pemerintah.

photo
Deretan rumah bersubsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Properti (FLPP) di Cibarengkok Pengasinan, Bogor, Jawa Barat, Senin (17/2/2020). PT Bank Tabungan Negara (BTN) (Persero) Tbk pada tahun 2020 meningkatkan layanan transaksi digital untuk menarik minat calon debitur kredit pemilikan rumah (KPR) - (Republika/Thoudy Badai)

 

Nixon menyampaikan, upaya menjaga likuiditas tersebut dilakukan untuk memastikan cadangan dana tetap aman sekaligus meningkatkan pendapatan komisi melalui transaksi treasury. Ia mengungkapkan, BTN menganggarkan sebesar Rp 20 triliun sebagai cadangan likuiditas.

"Kondisi normal biasanya kita anggarkan sekitar Rp 13 triliun dan saat ini likuiditas kita tingkatkan sekitar 30 persen,” kata Nixon.

Menyoal perkembangan sektor properti saat ini, Executive Vice President Non Subsidized Mortgage & Personal Lending Division BTN Suryanti Agustinar mengatakan, terjadi tren penurunan terutama pada zona merah prioritas. 

Menurut Suryanti, penurunan permintaan kredit sejalan dengan daya beli masyarakat yang melemah di tengah penyebaran virus korona. Ia mengatakan, saat ini perbankan lebih selektif memberikan kredit, terutama sektor-sektor yang berdampak langsung virus korona, seperti transportasi, perhotelan, pariwisata, dan usaha-usaha lainnya. 

Pertumbuhan ekonomi juga akan terkoreksi turun, apalagi dengan diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berujung menurunkan pertumbuhan kredit perbankan dari rencana pertumbuhan kredit awal.

“Sejalan dengan penjualan properti yang turun pastinya permintaan KPR juga menurun karena penurunan keuangan calon konsumen dalam pemenuhan uang muka maupun biaya prosesnya,” kata Suryanti.

 
Sejalan dengan penjualan properti yang turun pastinya permintaan KPR juga menurun karena penurunan keuangan calon konsumen.
   

Suryanti menyebutkan, saat ini bank cenderung lebih selektif dalam penyaluran KPR lebih fokus ke karyawan, fix income seperti aparatur sipil negara (ASN), TNI-Polri, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan swasta nasional skala besar. Perbankan saat ini juga sedang fokus pada restrukturisasi kredit debitur yang terdampak Covid-19. 

Suryanti mengatakan, BTN menawarkan program pembiayaan hunian bagi para nasabah dengan suku bunga KPR mulai dari enam persen fix selama setahun. BTN bekerja sama dengan 42 pengembang properti dan ratusan proyek perumahan maupun apartemen dalam program tersebut. Adapun pengembang tersebut, antara lain, PP Properti, Adhi Comuter Properti, Duta Putra Group, ISPI Group, Kalindo Land, Perumnas, dan puluhan pengembang lainnya.

Suryanti menjelaskan, bagi para nasabah yang mengajukan KPR from home akan dibebaskan dari beban biaya provisi, biaya administrasi, dan biaya appraisal. Kemudian, terdapat fitur 4D Tour Service pada website www.btnproperti.co.id khusus untuk proyek-proyek properti besutan pengembang pilihan.

“Saat ini masyarakat juga banyak yang cenderung wait and see. Karena itu, melalui inovasi program pemasaran ini kami memberi banyak kemudahan sehingga mereka tertarik segera melakukan KPR/KPA bagi pembiayaan hunian idamannya,” ujarnya.

Ke depan, Suryanti memperkirakan kebutuhan hunian secara nasional terbilang cukup besar seiring jumlah penduduk yang terus bertambah. Maka itu, perseroan memberikan kemudahan kepada calon nasabah KPR/KPA melalui berbagai inovasi pemasaran, salah satunya KPR from home yang dapat di-bundling dengan fasilitas KPR/KPA zero.

 


×