Siswa mengerjakan tugas sekolah di rumahnya di Pekanbaru, Riau, Kamis (16/4/2020). Dinas Pendidikan Provinsi Riau memperpanjang masa belajar di rumah dari 16 April menjadi 30 April mendatang guna mencegah penyebaran COVID-19 | ANTARA FOTO

Inovasi

Wujudkan Transformasi Digital Dunia Pendidikan

Banyak perubahan yang dibawa teknologi ke dunia pendidikan.

Tranformasi digital makin banyak dilakukan di berbagai bidang menuju industri 4.0. Mulai dari bidang perdagangan, bea dan cukai, hingga pendidikan. Wakil Rektor I London School of Public Relations (LSPR) Dr Janette M Pinariya, MM mengatakan, transformasi digital dalam dunia pendidikan kini sudah makin terasa. Para mahasiswa pun seakan memasuki dunia yang sangat berbeda.

LSPR pun sudah melakukan transformasi digital dalam dunia pendidikan sejak 2016. Mereka membuka pendidikan jarak jauh (PJJ) untuk jurusan public relations dan marketing communications, baik untuk program undergraduate (S-1) maupun postgraduate (pascasarjana).

PJJ ini memiliki banyak manfaat, di antaranya, metode pembelajaran yang digunakan adalah teori gabungan dan kerja praktik terapan, mampu belajar kapan saja dan di mana saja, serta jam belajar fleksibel dan dapat dikelola oleh mahasiswa.

Janette juga mengungkapkan, LSPR baru saja berkolaborasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) melalui nota kesepahaman untuk dapat memfasilitasi para atlet. LSPR akan memberikan kesempatan para atlet untuk mengambil kelas e-learning sehingga meski sedang bertanding atau berlatih di training center, mereka tetap bisa belajar secara daring.

Pendidikan jarak jauh ini cukup mudah diikuti oleh para mahasiswa, baik yang ada di Jakarta maupun luar daerah. "Menggunakan ponsel sudah bisa belajar online, pakai modal laptop. Artinya, dunia digital juga tidak yang terlalu rumit. Itu bisa kok dijalani, apalagi anak-anak zaman sekarang bisa mengimbangi itu, ujar Janette usai acara Pintek Edu-Gathering 2020 di Jakarta, pekan lalu.

Ia menambahkan, justru yang perlu mendapat perhatian adalah para dosen yang masih belum terbiasa dengan penggunaan teknologi digital. Pihak LSPR sendiri, Janette melanjutkan, telah mendorong dosen-dosen mereka agar memiliki pemahaman teknologi.

Termasuk, bagaimana mereka memvisualisasikan cara mengajar di ruang kelas dengan interaksi bersama mahasiswa, menggunakan learning management system (LMS), dan membuat produk-produk pendidikan yang sifatnya dua arah.

Tingkatkan kemampuan

Selama ini, Microsoft percaya, memberdayakan para siswa untuk menciptakan dunia masa depan adalah tugas bersama. Jika siswa dapat dibekali dengan keterampilan pengetahuan tingkat tinggi, kecakapan penggunaan teknologi, dan pola tangkas yang mencakup inovasi, kreativitas, dan disrupsi pasar, mereka akan siap menghadapi apa pun.

Namun, hal tersebut juga tidak bisa lepas dari beragam tantangan. Senior Education Programs Manager PT Microsoft Indonesia Obert Hoseanto mengungkapkan, tantangan yang dihadapi seluruh dunia adalah dari sisi finansial dan pemerintah. 'Ada framework education trans formation yang dicetuskan Microsoft untuk membantu institusi pendidikan dalam mendesain transformasi digitalnya. Transformasi digital itu bukan semata-mata beli devices, diberikan ke semua siswa, guru, atau dosen lalu selesai," ujar Obert.

Menurutnya, banyak studi mengatakan, kalau hanya mengusung konsep seperti itu, pasti gagal. "Beli teknologi itu bagian paling mudahnya, memastikan teknologi tetap tepat guna dan sasaran itu yang paling susah," Obert menegaskan.

Ia memberikan contoh kampus yang menerapkan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk menilai mahasiswanya. Dosen tersebut membuat materi penilaian dan siswanya mengerjakan secara digital dan dinilai otomatis.

Materi soal tersebut oun bukan pilihan ganda, tetapi mahasiswa harus menggambar perhitungan matematika dan dinilai langsung. Jadi, kita bicara framework untuk mengubah pendidikan secara keseluruhan. "Bagaimana membangun roadmap untuk tranformasi digital yang tidak ketahuan ujungnya akan seperti apa dan perubah annya akan seperti apa, ujar Obert.

Selanjutnya, yang menjadi tantangan di Indonesia adalah kendala bahasa dan soal literasi digital. Materi-materi yang ada kebanyakan tersaji dalam bahasa Inggris dan konteksnya sangat luar negeri sekali.

 
Literasi digital juga berarti bagaimana mengolah informasi, menerjemahkan informasi, dan menerapkan sesuai dengan konteksnya.
Senior Education Programs Manager PT Microsoft Indonesia Obert Hoseanto.
 

Contohnya, Microsoft Indonesia mencoba menerapkan satu metode pelatihan di satu daerah Jawa dan ternyata berjalan lancar. "Namun, ketika di Sulawesi, tim tidak bisa menduplikasi 100 persen karena harus ada penyesuaian dengan lokal. Ada hal-hal akhirnya secara frame workke sana. Eksekusinya saya lempar ke tim yang di Sulawesi karena me reka yang tahu bagaimana cara mengomunikasikan dengan komunitas di sana," katanya. ed: setyanavidita livikacansera)

Dorong Melalui Layanan Keuangan

photo
Pendidikan di era digital - (Pixabay)

 

Seiring waktu, kini banyak bermunculan perusahaan teknologi finansial (peer- to-peer landing). Pintek merupakan perusahaan yang memiliki misi dalam mendorong transformasi pendidikan melalui inovasi layanan keuangan dan terus berkomitmen untuk menjadi salah satu roda penggerak pendidikan di Indonesia.

Sejak 2018, Pintek bergerak dalam menyediakan akses keuangan pada seluruh masyarakat dan lembaga pendidikan akan kebutuhan pendidikan di Indonesia.

Tujuannya adalah untuk menurunkan angka putus sekolah di Tanah Air serta memperbaiki fasilitas pendidikan untuk peningkatan kualitas dalam belajar-mengajar. Co-founder dan Direktur Utama Pintek Tommy Yuwono mengungkapkan, Pintek memiliki produk pinjaman untuk institusi pendidikan, pelajar, dan orang tua murid.

Untuk pelajar, lanjut dia, ada produk pinjaman reguler untuk biaya pendidikan dan pro, yakni program grace period. Program ini berarti mereka sudah memiliki jaminan kerja.

Awalnya, pihak Pintek akan membuka pinjaman dulu, pelajar mendapatkan pelatihan atau kuliah, setelah itu mendapatkan jaminan kerja. Nilai pinjamannya, mulai dari tiga sampai 300 juta rupiah, sesuai dengan masa pendidikannya sampai maksimum dua tahun, ujar Tommy.

Institusi pendidikan juga bisa mengambil produk cicilan, misalnya, untuk membeli barang- barang pendidikan atau pembangunan infrastruktur pendidikan, seperti pembangunan gedung. Pintek juga memiliki komunitas bernama edupreneur.

Edupreneur berguna untuk wadah kolaborasi siswa-siswa yang sudah tergabung di fintech. "Mungkin kalau dengan fintech kesannya negatif, tapi ternyata ditinjau tidak semuanya seperti yang konsumtif. Tetapi, juga ada yang seperti kami fokus untuk industri pendidikan dan kami terdaftar di OJK," ungkap Tommy. 

Ikuti Berita Republika Lainnya