Khalifah Harun al-Rasyid dalam ilustrasi. | Infografis Republika
26 Apr 2020, 23:50 WIB

Sultan Harun al-Rasyid dan Kisah 1001 Malam

Reputasi Sultan Harun al-Rasyid yang abadi.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Sultan Harun al-Rasyid (766-809) masih berumur muda saat menjadi penguasa Dinasti Abbasiyah: 20 tahun. Namun, karismanya sudah terbangun bahkan sebelum dirinya naik takhta. Sebagai putra Khalifah Muhammad al-Mahdi (745-785), ia tampil memukau dalam memimpin pasukan Muslimin untuk menggempur basis pertahanan Romawi Timur (Bizantium). Ia meraih kemenangan demi kemenangan sehingga musuh menyingkir jauh dari wilayah kekhalifahan.

Terkait

Bahkan, Harun al-Rasyid dapat menguasai Ankara. Sedikit lagi mencapai jantung Bizantium, Konstantinopel. Meskipun urung menaklukkan ibu kota lawan, ia tetap mendapatkan pengakuan sebagai pemenang.

Ratu Irene Sarantapechaina (752-803) bersedia mengirimkan upeti berupa puluhan ribu keping emas per tahun kepada Baghdad. Bagaimanapun, Harun melihat ada lagi harta yang terpendam selain kemilau logam mulia. Seperti diceritakan Roger Garaudy dalam Promes ses de l'Islam, sang pemimpin Muslim itu tak menuntut ganti kerugian perang kepada Bizantium. Ia hanya mendesak musuh untuk menyerahkan manuskrip-manuskrip kuno kepadanya.

Ratu Irene pun mematuhi persyaratan itu. Memang, berbeda kondisinya dengan negeri-negeri Islam kala itu. Barat masih terpuruk dalam stagnansi. Geliat intelektualnya kalah jauh dengan wilayah-wilayah Muslim, semisal Baghdad, Basrah, Damaskus, ataupun Andalusia.

Peradaban Islam pada masa itu sangat condong pada literasi. Menurut Roger Garaudy, para sultan menyokong perkembangan ilmu pengetahuan dengan sepenuh hati. Umat Islam terbuka terhadap warisan yang kaya dari kebudayaan-kebudayaan dunia yang berusia lebih tua --semisal Yunani, Persia, atau Cina. Muslim menghidupkannya dan memperbaruinya dengan worldview yang sejalan Alquran dan Sunnah.

 
Umat Islam saat itu terbuka terhadap warisan yang kaya dari kebudayaan-kebudayaan dunia yang berusia lebih tua.
 
 

Sesungguhnya, 100 tahun pertama Dinasti Abbasiyah dipimpin para sultan yang mewujudkan kemajuan negeri. Khususnya, sejak zaman Khalifah al-Mahdi hingga Khalifah al-Mutawakkil (847-861). Bagaimanapun, era pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid merupakan tonggak penting dalam membuka progres itu lebih lanjut lagi.

Puncak kejayaan Islam pada abad pertengahan dapat dikatakan bermula sejak masa kekuasaan dirinya serta kemudian anaknya, Abu al-Abbas Abdullah alias al-Ma'mun (786-833).Itu terjadi di belahan dunia timur. Pada saat yang bersamaan, di belahan dunia barat, tepatnya Andalusia, peradaban Islam pun bersemi, terutama sejak kepemimpinan amir Kordoba, Abdurrahman II (792-852).

Harun al-Rasyid memegang tampuk pemerintahan sejak 14 September 786. Ia menggantikan saudaranya, Khalifah al-Hadi (764-786), yang hanya berkuasa selama satu tahun. Tepat di hari pelantikannya, putranya lahir, yakni al-Ma'mun. Sultan Harun mengangkat seorang ulama yang karismatik untuk menjadi perdana menterinya.

Namanya, Yahya al-Barmaki. Kalangan sejarawan mencatat, Yahya juga berperan sebagai guru sang khalifah. Dalam usia semuda itu serta dengan kekuasaan di genggaman, amatlah mudah bagi Harun untuk tergelincir, mabuk kekuasaan. Maka dari itu, ia memerlukan bimbingan dan nasihat, baik secara kognitif, politik, maupun spiritual.

Gelar al-Rasyiddi belakang namanya menandakan watak yang penuh kebijaksanaan. Sebagai seorang Muslim, ia pun gemar mengamalkan ibadah-ibadah sunah. Dengan begitu, jiwanya terlatih untuk selalu tawadu dan peka terhadap persoalan rakyat.

Sebagai contoh, Sultan Harun biasa merutinkan shalat sunah 100 rakaat tiap hari, bahkan hingga akhir hayatnya. Ia pun bersedekah 10 ribu dirham dari harta pribadinya kepada rakyat jelata. Ia kerap berkonsultasi kepada para alim ulama, baik dalam menemukan solusi persoalan keumatan maupun fikih ibadah-ibadah mahdhah. Di hadapan mereka, sang penguasa bersikap hormat dan rendah diri.

 

Abu Nuwas dan Sang Khalifah

Reputasi Khalifah Harun al-Rasyid juga cemerlang sebagai pencinta sastra. Ia memandang syair sebagai ungkapan kebudayaan yang sarat makna. Kisah persahabatannya dengan Abu Nuwas (sering disebut pula: Abu Nawas) melegenda bahkan sampai hari ini. Penyair jenaka-sufistik itu lahir dengan nama Hasan pada 756 di Ahvaz (kini Provinsi Khuzestan, Iran). Abu Nuwas tak pernah bertemu dengan ayah kandungnya. Ketika masih kecil, sang ibu menjualnya kepada seorang penjaga toko dari Yaman, Sa'ad al-Yashira.

Mula-mula, Abu Nuwas bekerja di toko milik tuannya di Basrah. Sejak remaja, otak pemuda ini memang cerdas, terutama dalam retorika. Ia pun menarik perhatian Walibah ibnu al-Hubab, seorang penyair, yang lantas membeli dan memerdekakan remaja tersebut. Sejak saat itu, al-Hubab mengajarinya ilmu-ilmu agama, bahasa, dan sastra-khususnya puisi. Abu Nuwas juga belajar dari penyair Arab bernama Khalaf al-Ahmar di Kufah.

Ia kemudian hijrah ke Baghdad. Mulai dari sana, popularitasnya kian menanjak. Sultan pun menaruh rasa penasaran terhadap penyair ini. Melalui perantara musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nuwas lantas terpilih menjadi penyair istana (sya'irul bilad). Secara formal, tugasnya menggubah sajak puji-pujian untuk sang khalifah. Namun, secara informal ia adalah kawan debat dan diskusi Khalifah Harun al-Rasyid.

photo
Ilustrasi Kisah 1001 Malam - (DOK Wikipedia)

 

Kisah 1001 Malam

Nama besar Sultan Harun al-Rasyid juga ditopang teks sastra Alf Laylah wa-Laylah. Dalam bahasa Inggris, karya itu dinamakan the Arabian Nights. Adapun kita lebih mengenalnya sebagai Seribu Satu Malam. Sosok Khalifah Harun al-Rasyid disebut sebagai salah satu tokoh protagonis dalam karya fiksi itu.

Secara konten, Alf Laylah wa-Laylah menghimpun macam-macam genre sastra yang berkembang pada masa keemasan Islam. Misalnya, fabel, cerita fantasi, romansa, hingga anekdot. Semuanya dibingkai dalam struktur cerita inti yang berpusat pada tokoh Raja Syahrayar. Alkisah, penguasa Sasania itu kaget ketika mengetahui istri saudaranya selingkuh. Dia lantas mengandaikan pengkhianatan juga akan dialaminya sendiri.

Puncaknya, ia menuding istrinya tak lagi setia dan bahkan mengeksekusi mati perempuan itu. Sejak saat itu, ia menikahi para gadis hanya untuk menghukum mati mereka seusai malam pertama. Alhasil, rakyatnya terutama yang perempuan, takut akan kehilangan nyawa. Siklus mengerikan ini usai setelah sang raja menikah dengan Syaharazad. Ia adalah putri kesayangan menteri yang bertugas mencari calon pasangan Syahrayar tiap tahun. Justru, Syaharazad menawarkan dirinya untuk dinikahi sang raja.

Sesudah proses akad nikah, terjadilah malam pertama. Di atas ranjang, Syaharazad menceritakan sebuah dongeng kepada suaminya itu. Namun, sampai pagi menjelang ujung dari cerita itu tak diungkapkannya.

Merasa penasaran, Syahrayar lantas menunda eksekusi mati atas istrinya itu. Ini terus berulang dari malam ke malam karena perempuan tersebut menuturkan 1.001 kisah. Angka itu tidak berarti harfiah, melainkan konotatif. Seribu bermakna tak terhingga. Penambahan angka satu menandakan upaya untuk menambahkan lagi dan lagi kuantitas pada ketakberhinggaan. Persis seperti Syaharazad yang berkisah lagi dan lagi agar terhindar dari hukuman mati.

Salah satu cerita dalam Alf Laylah wa-Laylah ialah Kisah Attaf. Di dalamnya, Sultan Harun al-Rasyid menjadi tokoh utama. Kisahnya sebagai berikut. Suatu hari, Sultan Harun al-Rasyid mengunjungi perpustakaan pribadinya di Bait al-Hikmah. Ia lalu menghampiri suatu rak dan mengambil acak salah satu buku di sana.

 
Salah satu cerita dalam Alf Laylah wa-Laylah ialah Kisah Attaf.
 
 

Saat membaca buku itu, sang khalifah sering tertawa terbahak-bahak, tetapi tak lama kemudian menangis tersedu-sedu. Antara tawa dan tangis silih berganti, selagi dirinya terus membaca buku itu. Seorang penasihatnya, Jakfar bin Yahya, mendapati sang sultan dalam keadaan demikian. Ia merasa terganggu karena Bait al-Hikmah menjadi tak tenang lagi. Para pelajar dan ilmuwan setempat menggerutu. Sebagian menuding sang penasihat tak lagi didengar. "Sultan lebih sudi meneruskan bacaannya daripada mendengar Jakfar," demikian seorang berkata.

Dengan perasaan kesal, Jakfar bin Yahya lantas meninggalkan Baghdad. Ia memilih Damaskus sebagai tempat pelariannya. Di kota itu, Jakfar bertemu dengan seorang pemuda bernama Attaf. Sejak saat itu, ia terus berpetualang dari satu wilayah ke wilayah lainnya bersama Attaf. Hingga akhirnya, remaja itu menemukan jodohnya dan menikah. Jakfar pun kembali pulang ke Baghdad.

Sesampainya di rumah, ia teringat akan sultan. Buku apa yang membuat raja muda ini menangis sekaligus tertawa? Karena penasaran, ia pun menuju Bait al-Hikmah dan menyadari. Buku yang dibaca Sultan Harun al-Rasyid itu menceritakan petualangannya sendiri bersama Attaf.

Dengan perkataan lain, yang telah menyebabkan sang khalifah tertawa terbahak-bahak lalu menangis sedu-sedan ialah Jakfar bin Yahya sendiri. Di akhir Kisah Attaf diceritakan, belakangan Attaf hendak dieksekusi mati oleh pengadilan setempat. Padahal, ia tak melakukan kejahatan, sebagaimana yang ditudingkan kepadanya. Harun al-Rasyid, lantaran mengetahui fakta itu dari buku yang dibacanya, lantas mencegah pengadilan sesat itu sehingga selamatlah Attaf dari pisau algojo.

photo
Ilustrasi Khalifah Harun al-Rasyid menerima hadiah berupa gajah. - (DOK Tradical-Twitter)

Kisah Attaf menggambarkan sosok Sultan Harun al-Rasyid sebagai pribadi yang bijaksana dan bahkan mencapai taraf kasyf. Sebab, ia telah mengetahui rangkaian peristiwa yang sesungguhnya belum terjadi.

Teks Kisah Attaf diterima publik Barat sejak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Petrus Alphonsi pada abad ke-12. Ia adalah seorang penulis Yahudi yang tinggal di Andalusia.

Khalifah Harun al-Rasyid berkuasa selama 23 tahun. Di ujung periode pemerintahannya, pemberontakan terjadi di berbagai wilayah. Bahkan, ia terpaksa menyingkir ke Khurasan lantaran kuatnya gerombolan separatisme yang dikomandoi Rafi bin al-Layth. Sang sultan kemudian jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Jenazahnya dikebumikan di Dar al-Imarah. Belakangan, lokasi itu dinamakan Taman Makam Haruniyyeh.


Terkini

×