Aktivitas di Bait al-Hikmah Sultan Harun al-Rasyid | DOK Wikipedia
26 Apr 2020, 13:52 WIB

Jalan Panjang Sang Khalifah Harun al-Rasyid

Ada peran ibunda di balik perjalanan karier politik Harun al-Rasyid.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Harun al-Rasyid (766-809)lahir di Ray --kini Provinsi Teheran, Iran. Saat berusia 20 tahun, ia naik takhta menggantikan Abu Muhammad Musa al-Hadi (764-786). Kakaknya itu sempat memerintah kerajaan meskipun hanya satu tahun sebelum wafatnya. Keduanya merupakan buah hati dari pasangan Khalifah al-Mahdi (745-785), sang penguasa ketiga dari Dinasti Abbasiyah, dan al-Khaizuran binti Atta (wafat 789).

Terkait

Kecakapan Harun al-Rasyid sudah tampak sejak belia. Dua tahun sebelum menjadi sultan, ia dipercaya ayahandanya untuk memimpin suatu pasukan. Balatentara ini bertugas menghalau kekuatan Imperium Romawi Timur (Bizantium) yang saat itu diperintah Ratu Irene Sarantapechaina (752-803). Ekspedisi militer itu berhasil dengan gemilang sehingga menjadi kabar gembira bagi Khalifah al-Mahdi. Pasalnya, berbagai pertempuran yang sudah-sudah kerap dimenangkan oleh kerajaan Kristen itu.

Harun al-Rasyid tak hanya mampu mengusir musuh dari perbatasan. Ia malahan nyaris menembus Konstantinopel. Akan tetapi, ia memutuskan untuk kembali ke Baghdad karena persenjataan pasukannya dirasa tak cukup untuk menggempur kota tersebut.

 
Harun al-Rasyid nyaris menembus Konstantinopel.
 
 

Beberapa waktu kemudian, seorang utusan Bizantium datang kepada putra Khalifah al-Mahdi itu. Katanya, "Ratu Irene mengakui besarnya pasukan dan kepemimpinan Tuan. Walaupun Tuan adalah musuh negeri kami, Ratu menegaskan kekagumannya terhadap Anda sebagai rival." Sejak saat itu, Konstantinopel rutin mengirimkan upeti berupa 70 ribu keping emas tiap tahun kepada Baghdad.

John P Turner dalam Medieval Islamic Civilization: An Encyclopedia menjelaskan, perjalanan karier Harun al-Rasyid hingga menjadi raja tak terlepas dari peran ibundanya. Khaizuran binti Atta mulanya hanyalah seorang budak. Sewaktu masih kecil, perempuan itu diculik dari perkampungannya dan kemudian dijual di pasar sebagai hamba sahaya. Singkat cerita, ia lantas dibeli pihak istana. Sejak saat itu, ia tumbuh menjadi al-jawaris atau harem sultan.

Pada zaman itu, predikat harem tak selalu berkonotasi buruk. Sebab, perempuan al-jawaris yang bercita-cita menjadi permaisuri raja mau tak mau harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan, tidak hanya kecantikan fisik. Khaizuran pun kerap menghabiskan waktu dengan belajar berbagai pengetahuan. Mulai dari kesenian, keterampilan rumah tangga, hingga matematika, astronomi, bahkan filsafat. Ia secara rutin berguru kepada sejumlah qadi yang pakar fikih. Alhasil, al-Mahdi pun jatuh hati kepadanya daripada para perempuan lain.

photo
Khalifah Harun al-Rasyid dalam hikayat 100 Malam - (DOK Wikipedia)

Pengaruh ibu

Pada 775, al-Mahdi diangkat menjadi khalifah. Khaizuran lantas merayu sang khalifah hingga memerdekakannya dari status budak. Tidak hanya berhenti di sana, perempuan bekas budak ini juga berhasil menyingkirkan saingannya, yakni istri pertama al-Mahdi --Rayta binti Khalifah al-Saffah. Khaizuran pun berhasil membujuk al-Mahdi agar memilih anak-anaknya sendiri sebagai penerus takhta, bukan putra dari hasil pernikahannya dengan Rayta.

Padahal, tradisi yang berlaku menentang pengangkatan anak mantan budak sebagai calon raja. Sejak saat itu, Khaizuran menjadi permaisuri yang amat berpengaruh di sisi suaminya. Kapan pun Khalifah al-Mahdi memerlukan pertimbangan, saran istrinya itu lebih didengarkan.

Pada 785, Khalifah al-Mahdi meninggal dunia. Khaizuran sempat waswas karena kedua anaknya tidak berada di Baghdad. Harun masih dalam perjalanan dari Anatolia, al-Hadi pun demikian. Untuk mengamankan kursi kepemimpinan bagi anak-anaknya, Khaizuran lantas berkomplot dengan sejumlah menteri yang berpengaruh.

 
Harun masih dalam perjalanan dari Anatolia, al-Hadi pun demikian.
 
 

Pertama-tama, gaji seluruh tentara dimajukan pembayarannya. Dengan begitu, ketertiban negara terjamin dan benih-benih pemberontakan dapat diantisipasi. Selain itu, koalisinya juga berhasil memaksa para petinggi militer untuk bersumpah setia kepada kepemimpinan anak-anak Khaizuran. Padahal, baik al-Hadi maupun Harun belum tiba di ibu kota.

Awalnya, al-Hadi diangkat menjadi penerus kerajaan. Statusnya sebagai khalifah keempat Dinasti Abbasiyah jelas dipengaruhi peran ibunya. Apalagi, waktu itu ia masih berusia 21 tahun. Akan tetapi, ia sendiri tidak menyukai Khairuzan yang terus-menerus mengintervensi jalannya pemerintahan. Ada dugaan, ia sempat berupaya meracun perempuan itu, tetapi usaha ini tak berhasil. Secara mengejutkan, Khalifah al-Hadi meninggal dunia satu tahun kemudian, tepatnya pada 14 September 786. Dirumorkan, kematiannya karena dicekik saat sedang tidur oleh budak perempuan yang dikirim Khaizuran. Bagaimanapun, keterangan yang tercatat resmi adalah, sang khalifah muda itu meninggal karena sakit.

Harun kemudian menggantikan kepemimpinan al-Hadi. Berbeda dengan saudaranya itu, ia memercayakan ibundanya sebagai penasihat resmi kerajaan. Khaizuran terus aktif dalam merumuskan kebijakan-kebijakan negeri hingga wafatnya pada 789. Untuk mengenangnya, Khalifah Harun al-Rasyid membangun sebuah istana atas nama perempuan itu. Bahkan, pihaknya pernah mengeluarkan koin dirham yang berukir nama Khaizuran.

photo
Koin emas pada masa Sultan Harun al-Rasyid - (DOK Wikipedia)

Fondasi kekuasaan

Begitu diangkat menjadi pemimpin, Sultan Harun al-Rasyid menunjuk figur-figur terkemuka dan cendekiawan untuk mengisi jabatan menteri. Baginya, kalkulasi politik mesti diarahkan untuk visi jangka panjang, yakni kemajuan negeri. Ia juga menerapkan berbagai program sosial untuk mengangkat taraf perekonomian rakyat.

Ia terus berupaya mengangkat prestise Abbasiyah di antara negeri-negeri lain. Baghdad dibangunnya menjadi lebih indah dan tertata, bahkan dalam ukuran peradaban modern sekalipun. Ia mendirikan banyak istana dan fasilitas publik, seperti masjid, sekolah, rumah sakit, perpustakaan, dan saluran irigasi. Rakyat dapat menikmati semua itu dengan cuma-cuma. Khalifah ini dijuluki al-rasyid karena sifatnya yang bijaksana. Ke manapun pergi, ia selalu diiringi ratusan ulama dan ilmuwan. Kepada mereka, sang sultan kerap bertanya mengenai berbagai persoalan yang sedang melanda negeri.

Sultan Harun al-Rasyid pun memiliki sisi humanis. John Henry Haaren dalam Famous Men of the Middle Ages mengatakan, tak jarang sang sultan keluar dari istana pada malam hari. Untuk memeriksa keadaan rakyat, ia memilih berpakaian bak orang biasa. Dengan penyamaran itu, ia lebih leluasa saat berjalan di antara orang-orang. Ia dapat berinteraksi sewajarnya dengan mereka.

Keluhan yang jujur dari rakyat pun dapat ia ketahui, alih-alih hanya mengandalkan laporan bawahannya. Alhasil, ia lebih bijak dalam membuat suatu keputusan. Kepada jajarannya, mulai dari pusat hingga daerah-daerah, Sultan selalu mengawasi dan mewanti-wanti mereka agar bersikap amanah.

Harun al-Rasyid memiliki ketertarikan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan. Barangkali minat ini diwarisi dari ibundanya yang hanya seorang mantan budak tetapi akhirnya mampu mengendalikan pemerintahan negeri berkat kecerdasannya. Khalifah Harun menerapkan sistem pendidikan berjenjang bagi seluruh anak negeri. Ia juga mendirikan banyak madrasah dan pusat keilmuan.

 
Khalifah Harun mendirikan banyak madrasah dan pusat keilmuan.
 
 

Dalam periode kepemimpinannya, Ibu Kota bertransformasi menjadi permata dunia. John Henry menjelaskan, pada zaman itu ada dua mercusuar peradaban, yakni Andalusia di barat dan Baghdad di timur. Masing-masing mencerminkan persaingan yang terus hidup antara Dinasti Umayyah dan Abbasiyah.

Sejak 796, Khalifah Harun memindahkan pusat pemerintahan ke Raqqa, dekat tepi Sungai Eufrat. Bagaimanapun, Baghdad --kota yang dirintis Khalifah al-Mansur (714-775), sang pemimpin kedua Dinasti Abbasiyah-- tetap dikembangkannya. Bahkan, upaya Harun al-Rasyid lebih inovatif bila dibandingkan dengan para pendahulunya. Dan, tidak hanya Baghdad. Kota-kota lainnya di bawah kendali Abbasiyah, semisal Basrah atau Kuffah, juga tumbuh dengan pesat. Banyak ilmuwan dari seluruh dunia berdatangan ke sana untuk memajukan ilmu pengetahuan. Mereka tidak sekadar dari kalangan Muslimin, melainkan juga umat agama-agama lain. Hal ini membuktikan kuatnya semangat kosmopolitan Dinasti Abbasiyah dalam membangun peradaban.

Dalam mengukuhkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah, Sultan Harun al-Rasyid selalu berpatok pada impian besar, yakni memperbaiki kondisi manusia melalui penyebaran sains, ilmu pengetahuan, dan kebijaksanaan. Ia ingin pengaruh kekhalifahan ini besar dan kuat di tengah dunia lantaran menghasilkan cahaya-cahaya peradaban ke seluruh penjuru bumi. Singkatnya, ia ingin mengamalkan prinsip Islam, rahmat bagi semesta (rahmatan lil 'alamin).

photo
Lukisan menggambarkan saat Sultan Harun al-Rasyid menerima utusan negara asing. - (DOK Wikipedia)

Membangun Mercusuar Peradaban

Kalangan sejarawan umumnya sepakat, zaman pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid adalah permulaan era keemasan Islam. Baghdad menjadi mercusuar peradaban yang kosmopolit. Cahayanya menyinari segala arah dan meliputi beragam bangsa dan umat, tidak hanya Muslimin.

Bait al-Hikmah terletak di Baghdad. Sebelumnya, lembaga itu bernama Khizanah al-Hikmah, tetapi lebih dikenal sebagai demikian sejak masa Sultan Harun al-Rasyid. Bait al-Hikmah dirintis pada zaman Khalifah Muawiyah I, sang pendiri Dinasti Umayyah. Lokasinya masih di Damaskus, yakni pusat pemerintahan wangsa tersebut.

Mulanya, lembaga itu adalah sebuah perpustakaan besar. Koleksinya mencakup banyak manuskrip dan buku dari berbagai bahasa dan bangsa. Mulai dari Arab, Yunani, Latin, hingga Persia. Bidang kajiannya pun terbentang luas. Sebut saja, ilmu-ilmu agama Islam, matematika, alkemi, fisika, astronomi, kedokteran, botani, dan sebagainya. Bait al-Hikmah dalam periode Umayyah berkembang pesat berkat industri pembuatan kertas. Teknologi itu sendiri diadopsi dari bangsa Cina.

Sejak medio abad kedelapan, Dinasti Abbasiyah berhasil menumbangkan kekuasaan Umayyah. Khalifah al-Mansur, penguasa kedua wangsa tersebut, lantas memindahkan pusat pemerintahan ke kota baru yang dirintisnya, yakni Baghdad di Irak. Abbasiyah banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Persia.

Alhasil, para penguasa setempat mengadopsi banyak tradisi Sassania dalam aspek-aspek profan. Di antaranya adalah aktivitas menerjemahkan naskah-naskah berbahasa asing. Bila dahulu sebelum Islam datang penerjemahan itu dilakukan dari rupa-rupa bahasa ke Persia, alih bahasa kemudian dilakukan ke bahasa Arab.

Khalifah al-Mansur mendukung sepenuhnya kegiatan intelektual demikian. Maka, ia pun mendirikan perpustakaan besar di Baghdad. Ia juga mengundang para sarjana dari berbagai bangsa dan agama untuk meramaikan aktivitas keilmuan di sana.

Zaman silih-berganti. Ketika Sultan Harun al-Rasyid berkuasa, pemerintah semakin mengembangkan lembaga tersebut. Mengutip sejarawan Ali bin Yusuf al-Qifti (wafat 1248), institusi itu dinamakan Khizanat Kutub al-Hikmah (Penyimpanan buku-buku Rumah Kebijaksanaan). Singkatnya, Bait al-Hikmah.

Alih-alih bersikap eksklusif, Sultan Harun al-Rasyid menjalankan kebijaksanaan yang inklusif. Mengikuti jejak para pendahulunya, ia menjadikan Bait al-Hikmah sebagai rumah untuk semua. Siapa pun ilmuwan yang berkomitmen pada kemajuan ilmu pengetahuan, maka disambut kedatangannya. Alhasil, penerjemahan teks-teks asing ke dalam bahasa Arab dan riset serta observasi ilmiah pun marak diselenggarakan di sana.

 
Mengikuti jejak para pendahulunya, ia menjadikan Bait al-Hikmah sebagai rumah untuk semua.
 
 

Sang sultan mengedepankan prinsip toleransi dan meritokrasi di atas identitas. Buktinya, ia bahkan mengangkat I'yan Syu'ubi, seorang Persia yang anti-Arab, sebagai kepala perpustakaan itu. Tak sedikit pula orang Yahudi yang bekerja sebagai penerjemah teks-teks Yunani Kuno ke bahasa Ibrani dan bahasa Arab di Bait al-Hikmah. Ada pula sarjana-sarjana dari India yang berkontribusi di sana, terutama dalam bidang keilmuan matematika.

Di samping Bait al-Hikmah, Khalifah Harun juga membangun Majelis al-Muzakarah. Di sinilah tempat berkumpulnya alim ulama untuk membahas dan mencari solusi untuk berbagai persoalan umat Islam. Sultan juga mendorong para ulama agar menggiatkan kajian-kajian keagamaan, baik di masjid maupun rumah penduduk. Bahkan, tak jarang istananya menjadi tempat para alim berdiskusi dan berdebat, sedangkan sang raja sendiri menyimak dengan penuh perhatian.

 


Terkini

×