Hikmah | Republika

Hikmah

24 Apr 2020, 01:50 WIB

Ramadhan Aman dan Sehat

Oleh MUHBIB ABDUL WAHAB

Pada suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada Muadz bin Jabal RA. Maukah aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? “Tentu saja, ya Rasululllah,” jawab Muadz. Rasulullah kemudian menerangkan bahwa pintu-pintu kebaikan itu adalah berpuasa sebagai perisai, bersedekah sebagai pemadam kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat di tengah malam (qiyamul lail) (HR an-Nasa’i).

Bagaimana menjadikan puasa Ramadhan sebagai perisai diri atau penangkal segala keburukan, perbuatan dosa, dan penyakit, termasuk pandemi Covid-19? Pertama, puasa sebagai perisai itu harus dilandasi iman yang kuat dan ilmu yang benar. Sebab, puasa berbasis iman dan ilmu yang benar itu dapat membuahkan multikesalehan: kesalehan personal, sosial, intelektual, moral, emosional, dan spiritual. Puasa berbasis iman dan ilmu dapat mengantarkan shaimin dan shaimat kepada tujuan puasa, yaitu menjadi hamba yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Kedua, meniatkan dan mengagendakan Ramadhan sebagai bulan istimewa untuk perubahan (hijrah) menuju kualitas hidup yang lebih baik. Puasa Ramadhan harus dijalani sebagai proses dan sarana untuk melakukan transformasi mental spiritual dari “pengabdi perut dan nafsu syahwat” (abdul bathni wa abdul hawa) menjadi hamba Allah yang memiliki kedekatan vertikal dan horizontal, dengan Allah dan sesamanya.

Ketiga, puasa dengan spirit merasa diawasi Allah (muraqabatullah). Iman dan niat kuat berpuasa meneguhkan hati orang beriman untuk selalu merasa diawasi dan diaudit oleh Allah sehingga Allah Mahahadir, selalu menyertai dan mengawasi kehidupannya. Merasa diawasi Allah di mana pun dan kapan pun sangat penting karena dapat menumbuhkan kesadaran prima dan komitmen kuat untuk hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dengan muraqabatullah, hamba bisa merasakan nikmat dan indahnya ibadah puasa Ramadhan.

Keempat, intensifkasi amalan-amalan sunah unggulan, seperti tadarus, iktikaf, zikir, doa, istighfar, dan sedekah sebagai peneguh jiwa dan pengokoh integritas takwa, sehingga puasa Ramadhan berfungsi sebagai perisai atau antivirus kemaksiatan, kejahatan, keburukan, bahkan penangkal berbagai penyakit, termasuk Covid-19.

Kelima, berpuasa sebagai kebutuhan dan gaya hidup positif. Berbagai riset tentang puasa menunjukkan bahwa sesungguhnya kehidupan manusia dan makhluk Allah lainnya memerlukan puasa. Artinya, puasa itu merupakan kebutuhan dan gaya hidup yang secara sistemis harus dijalani agar menjadi sehat dan aman dari berbagai penyakit. Wallahu a’lam bi ash-shawab. n

 


×