Ilustrasi ceramah pada Ramadhan | Republika
23 Apr 2020, 00:29 WIB

Ceramah Virtual Semarakkan Ramadhan

Ustaz Abdul Somad berharap para ustaz mengatur jadwal ceramah virtual.

 

 

JAKARTA – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan tausyiah yang bisa menjadi panduan selama Ramadhan. Pedoman ini diharapkan menjadi bimbingan bagi Muslim agar tetap melaksanakan ibadah dengan aman dan nyaman di tengah pandemi Covid-19.

 

Terkait

Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI Prof Din Syamsuddin mengatakan, isi tausyiah ini mengandung bimbingan dan pesan dari Wantim MUI kepada umat Islam saat mengisi Ramadhan. "Terutama, menunaikan ibadah Ramadhan di situasi penuh keprihatinan akibat persebaran Covid-19," ujar Prof Din dalam konferensi pers menggunakan media Zoom, Rabu (22/4).

 

Poin pertama, yaitu menyongsong keagungan Ramadhan. Saat menghadapi pandemi Covid-19, diharapkan hati tetap tenang, penuh kesabaran, berikhtiar, dan yakin bahwa segala yang terjadi adalah atas takdir dan kehendak Allah SWT. Wantim MUI meminta umat Islam mengingat bahwa virus ini juga makhluk Allah SWT yang diturunkan ke muka bumi untuk menguji dan meningkatkan keimanan kita sebagai Muslim.

 

Poin kedua, MUI berharap, umat memiliki tekad untuk menguatkan keluarga. Caranya, dengan tetap semangat mensyiarkan ibadah Ramadhan dari rumah masing-masing. Beberapa ibadah yang bisa dilakukan bersama-sama di rumah, yakni berpuasa dengan khusyuk, menunaikan shalat rawatib dan shalat Tarawih berjamaah bersama keluarga di rumah, dan meningkatkan ibadah sunah. 

 

Poin ketiga, Wantim MUI menyerukan untuk meningkatkan semangat tolong menolong kepada sesama. Semangat gotong-royong dan solidaritas persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), persaudaran kebangsaan (ukhuwah wathaniyah), persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah) harus digerakkan.

 

Dia menyebut untuk menolong sesama, baik yang terinfeksi maupun terdampak kehidupan sosial dan ekonominya. "Pembayaran zakat mal bisa dipercepat dengan dilakukan di awal Ramadhan, tidak perlu ditunda-tunda," kata Prof Din.

 

Poin keempat, Wantim MUI mengimbau lembaga penyiaran publik menyajikan acara produktif dan mendidik. Selanjutnya, Prof Din menyebut, Wantim MUI menyampaikan dukungan dan semangat kepada seluruh tenaga medis dan relawan yang berada di barisan terdepan dalam penanganan wabah virus korona. Pihaknya juga mendorong pemerintah memastikan tercukupinya kebutuhan alat pelindung diri (APD) dan obat-obatan bagi mereka dan bagi rumah sakit rujukan.

 

Hal ini perlu dilakukan agar upaya penanganan dan penyembuhan pasien Covid-19 berjalan secara optimal dan efektif sehingga Indonesia kembali sehat. Dewan Pertimbangan MUI kemudian mendorong sosialisasi pandangan kemanusiaan terhadap mereka yang terpapar virus korona. Umat Islam diminta memberikan dukungan kesembuhan dan kesehatan kepada para pasien dengan tetap berpegang kepada mekanisme dan protokol kesehatan dari pemerintah.

 

"Jangan memandang mereka sebagai orang yang terdiskriminasi, dianggap sebagai aib dan sampah masyarakat yang ditelantarkan. Termasuk menolak jenazahnya untuk dimakamkan," kata dia.

 

Terakhir, Wantim MUI mengimbau masyarakat menunda aktivitas mudik. Penundaan ini diyakini mampu memutus mata rantai penyebaran virus korona.

 

Ceramah virtual

 

Pada kesempatan berbeda, Ustaz Abdul Somad (UAS) berharap para ustaz mengatur jadwal ceramah virtual. Meski kegiatan daring tersebut bisa ditonton ulang, dia yakin, masyarakat lebih antusias dan ada rasa sendiri jika menontonnya langsung sesuai jadwal yang ada. 

 

Kegiatan tersebut dinilainya mampu menjalin silaturahim sesama ustaz. Menurut UAS, sapaan akrabnya, ceramah virtual mampu memenuhi tiga aspek, yakni aspek akidah, aspek fikih, dan aspek akhlakul karimah

 

UAS menyebut, masyarakat akan lebih mendapat banyak ilmu jika menonton ceramah virtual yang dilakukan terjadwal. Mereka bisa mencatat materi, merekam materi, apalagi diadakan sesi tanya jawab yang menjadi pelajaran bermakna. Jika itu semua dilakukan, Ramadhan nanti akan lebih bermakna dari sebelumnya. "Ramadhan 2020, Ramdhan 1441 H, mesti lebih bermakna daripada Ramadhan sebelumnya," ujarnya.

 

Umat Islam diminta tetap optimistis bahwa Allah SWT akan melipatgandakan semua ibadah pendamping puasa meski dikerjakan di rumah. Pada masa pandemi ini umat Islam harus lebih mementingkan keselamatan jiwanya dengan tidak banyak beraktivitas di luar.

 

"Tidak berjamaah di masjid saat Tarawih bukan berarti hilang kesempatan kita menjalankan amaliah ibadah," kata Pimpinan Majelis Taklim dan Dzikir Baitul Muhibbin Habib Abdurrahman Asad Al-Habsyi saat dihubungi, Rabu (22/4).

 

Semangat umat Islam menjalani puasa tahun ini tidak boleh kendur. Sebab, masih ada keluarga yang bisa diajak ibadah berjamaah seperti halnya di berjamaah di masjid.


×