Platform penggalian minyak dilabuhkan di dekat kilang minyak di Pascagoula, Mississippi, Senin (20/4), waktu setempat. Pandemi Covid-19 melemahkan permintaan BBM dan akhirnya menjatuhkan secara ekstrem harga minyak dunia. | EPA

Ekonomi

22 Apr 2020, 09:03 WIB

Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan BBM Turun?

Laba Pertamina bakal tergerus anjloknya harga minyak dunia.

JAKARTA – Ditengah anjloknya harga minyak mentah dunia, muncul desakan bagi PT Pertamina (Persero) untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, menurut pihak Pertamina, menurunkan harga BBM saat ini bukanlah keputusan yang mudah.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengaku secara bisnis memang pilihan menurunkan harga BBM atau bahkan menutup kilang saat ini merupakan keputusan yang ekonomis dan mudah. Hanya saja, sebagai BUMN, Nicke menilai keputusan tersebut tak mudah bagi Pertamina.

"Keputusan bisnis Pertamina dan sebagai BUMN berbeda. Lebih mudah bagi kami, kalau bisnis ya tutup saja kilangya. Sebagai trading company, mudah ketika harga BBM murah, kami bisa langsung jual. Tapi sebagai BUMN, kami tidak bisa," kata Nicke pada rapat virtual dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (21/4).

Ia menjelaskan formula harga BBM dibuat oleh Kementerian ESDM. Dengan formula tersebut, posisi perusahaan tidak mungkin menyesuaikan OPEX dan CAPEX dengan harga minyak saat ini. Pasalnya, harga produksi minyak di Indonesia jauh lebih tinggi dari hari ini. Sementara, porsi minyak mentah yang diimpor Pertamina hanya 25 persen.

Nicke kembali menegaskan, melihat harga minyak mentah dunia saat ini memang lebih mudah menutup semua kilang. Tetapi ia tidak bisa melakukan hal seperti itu sebagai perusahaan BUMN.

Apalagi, menurutnya ada banyak karyawan yang musti dibayar gajinya. "Kami tulang punggung perekonomian nasional. Ketika ada peraturan apapun, akan kami ikuti. Tapi seperti ini (soal BBM) dari Pertamina," ujar Nicke.

PT Pertamina juga memprediksi melemahnya harga minyak mentah dunia dan penyebaran wabah Covid-19 akan menggerus kinerja perusahaan. Laba perusahaan pelat merah itu kemungkinan terkoreksi 51 persen.

Nicke Widyawati mengatakan, perusahaan memastikan target laba dan pendapatan pada tahun ini tidak akan tercapai. Pertamina membanderol laba sebesar 2,2 miliar dolar AS dan pen dapatan mencapai 58,33 miliar dolar AS pada tahun ini. 

Sayangnya, pandemi Covid-19 menggerogoti hampir seluruh lini bisnis Pertamina, baik hulu maupun hilir. Tekanan kurs rupiah pun turut mengganggu kese hatan keuangan perseroan. “Untuk skenario sangat berat, profit akan berkurang 51 persen”, kata Nicke.

Nicke mengatakan, Pertamina telah membuat simulasi berdasarkan dua skenario yang ditetapkan pemerintah, yakni skenario berat dan sangat berat. Untuk skenario besar, asumsi harga minyak Indonesia (ICP) sebesar 38 dolar AS per barel dan nilai tukar Rp 17.500 per dolar AS, pendapatan akan turun hingga 38 persen dari rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2020.

Sementara, skenario sangat berat dengan sebesar 31 dolar AS per barel dan nilai tukar Rp 20 ribu per dolar AS, pendapatan akan turun hingga 45 persen dari RKAP 2020. “Karena, penurunan ICP berdampak sangat besar terhadap bisnis hulu Pertamina. Luar biasa (penurunan di hulu) di atas 40 persen,” ujar Nicke.

Dari skenario pertama, dampak penurunan pada segmen bisnis hulu Pertamina sebesar 57 persen, kemudian di hilir penurunannya sebesar 38 persen, subholdinggas sebesar 13 persen serta financedan service turun sebesar 40 persen.

Sedangkan skenario kedua, penurunan di hulu bisa mencapai 59 persen, di hilir 46 persen, di subholdinggas sebesar 14 persen serta finance, dan service47 persen.

Di sisi hilir, Pertamina mengakui adanya kebijakan bekerja dari rumah (WFH) dilanjutkan dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah membuat penjualan BBM tertekan cukup dalam.

Secara nasional untuk periode Maret- pertengahan April. Penjualan BBM turun 34,6 persen dibandingkan rata-rata penjualan di Januari-Februari. Nicke mengatakan, kota- kota besar seperti Jakarta turun 59 persen, Bandung turun 57 persen, Makassar turun 53 persen, dan kota lainnya turun di atas 40 persen. “Kalau dilihat ini adalah sales terendah sepanjang sejarah Pertamina,” kata Nicke.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu menambahkan, pihaknya terus memantau perkembangan situasi global sambil terus menjalankan rencana dalam mengejar target produksi hulu migas perseroan. Prioritas sektor hulu Pertamina saat ini adalah optimalisasi dan efektivitas biaya sambil merencanakan ulang anggaran dan kegiatan di hulu migas.

Menyoal harga minyak mentah dunia yang anjlok, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, penentuan harga BBM di Indonesia mengacu pa da patokan harga BBM yang dikeluarkan setiap hari oleh sebuah lembaga khusus di Singapura (MOPS) yang berdasar pada harga minyak jenis Brent, bukan West Texas Intermediate (WTI) seperti yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS)

photo
Petugas SPBU mengisi bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di SPBU Kuningan, Jakarta , Selasa (24/3). PT Pertamina (Persero) sempat menjanjikan membuka ruang penurunan harga BBM nonsubsidi pada bulan ini bila pelemahan harga minyak mentah dunia berlanjut - (Prayogi/Republika)

Momentum tepat

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan, turunnya harga minyak mentah dunia secara drastis meru pakan momentum tepat bagi Pertamina menurunkan harga BBM. “Pertamina bisa meraih laba besar dengan tidak menurunkan harga BBM, pada saat harga minyak dunia mencapai minus. Saat ini momentum yang tepat bagi Pertamina dan Pemerintah menurunkan harga BBM non-subsidi dan subsidi," kata Fahmy.

Lebih lanjut, ia mengatakan penurunan harga BBM secara serentak akan dapat menaikkan daya beli masyarakat yang sedang terpuruk akibat Covid-19. Kenaikan daya beli itu akan mendukung kinerja konsumsi rumah tangga dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang tahun ini diperkirakan hanya mencapai 2,2 persen.

Pelemahan permintaan minyak akibat Covid-19 disebutnya terus berlanjut, yang menyebabkan harga minyak di AS mencapai minus. Penetapan harga minyak hingga minus merupakan upaya terbaik untuk meminimkan kerugian yang diderita produsen minyak. Untuk itu, produsen akan menanggung semua biaya pengiriman minyak kepada pembeli.

Penurunan harga minyak dunia hingga minus, mempunyai dampak signifikan terhadap Indonesia. Dampak negatifnya terjadi penurunan pendapatan dari ekspor minyak dan komoditas lainnya, yang penetapan harganya dikaitkan dengan harga minyak, misalnya gas dan batu bara. "Dampak positifnya sebagai net impoter minyak, nilai impor crude oil dan BBM jadi lebih murah," kata Fahmy.

Terus Anjlok

Sementara itu, harga minyak berjangka Brent anjlok lagi pada akhir perdagangan Selasa (21/4) atau Rabu (22/4) pagi WIB. Kejatuhan harga ini memperpanjang kepanikan di pasar minyak global pada hari kedua, menyusul meningkatnya banjir pasokan minyak mentah global karena pandemi virus corona telah melenyapkan permintaan bahan bakar.

Pada Senin (20/4) dan Selasa (21/4) adalah dua hari yang paling bergejolak dalam sejarah perdagangan minyak, ketika para investor menghadapi kenyataan bahwa pasokan di seluruh dunia akan membanjiri permintaan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan pemotongan produksi saat ini untuk mengimbanginya jauh dari cukup.

Setelah perdagangan Senin (20/4), ketika kontrak AS untuk Mei jatuh ke wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah, pada Selasa (21/4) menetapkan tonggak baru ketika lebih dari dua juta kontrak minyak mentah AS untuk pengiriman Juni berpindah tangan, hari tersibuk dalam sejarah, menurut operator bursa CME Group.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni ditutup anjlok 24 persen menjadi 19,33 dolar AS per barel, terendah sejak Februari 2002. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Juni, terperosok 8,86 dolar AS atau 43 persen, menjadi menetap di 11,57 dolar AS per barel.

Kontrak AS untuk Mei, yang berakhir pada Selasa (21/4), pulih dari kejatuhan yang dalam ke wilayah negatif, naik menjadi 10,01 dolar AS dari perdagangan hari sebelumnya di minus 37,63 dolar AS.

Persediaan minyak telah meningkat selama berminggu-minggu setelah Arab Saudi dan Rusia pada awal Maret gagal mencapai kesepakatan tentang perpanjangan pengurangan produksi ketika pandemi virus corona semakin memburuk. Sejak saat itu, penyebaran pandemi telah mengurangi permintaan bahan bakar sekitar 30 persen di seluruh dunia.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya, termasuk Rusia, akhirnya mengumumkan pengurangan produksi pada awal April, yang berjumlah hampir 10 persen dari pasokan global. Tetapi dengan ekonomi hampir macet karena penguncian virus corona, itu tidak cukup untuk mengimbangi penurunan permintaan.

photo
Petugas menggunakan baju kebaya saat melayani pembeli BBM di SPBU Coco Ulak Karang, Padang, Sumatera Barat, Selasa (21/4). SPBU tersebut memberlakukan penggunaan kebaya bagi petugas perempuan dalam menyambut Hari Kartini - (ANTARA FOTO)

Baik Arab Saudi maupun Rusia mengatakan pada Selasa (21/4) mereka siap untuk mengambil langkah-langkah tambahan guna menstabilkan pasar minyak bersama dengan produsen lain, tetapi mereka belum mengambil tindakan.

“Matematikanya cukup sederhana. Produksi minyak saat ini sekitar 90 juta barel per hari, tetapi permintaan hanya 75 juta barel per hari,” kata Gregory Leo, kepala investasi dan kepala manajemen kekayaan global di IDB Bank.

Sementara itu, di Texas, regulator minyak dan gas menolak untuk memaksa produsen mengurangi produksi minyak. Texas Railroad Commission, yang mengatur perusahaan energi di negara bagian itu, telah mempertimbangkan untuk melakukan intervensi di pasar untuk pertama kalinya dalam hampir 50 tahun.

"Texas mengambil keputusan mereka dengan OPEC tidak menunjukkan urgensi, itu berarti dunia akan kehabisan ruang untuk menyimpan minyak pada minggu kedua Mei," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Pusat penyimpanan utama AS di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk WTI, diperkirakan akan penuh dalam beberapa minggu.

Data resmi pemerintah AS menunjukkan bahwa penyimpanan di Cushing hanya 70 persen penuh pada pertengahan April. Namun, para pedagang mengatakan bahwa apa pun yang tersisa saat itu telah dibicarakan oleh perusahaan-perusahaan yang mengirim minyak ke pusat penyimpanan sekarang.

Presiden AS Donald Trump meminta pemerintah untuk menyediakan dana bagi industri minyak dan gas AS, menyebut kejatuhan Senin (20/4) sebagai "tekanan finansial" dan menghentikan impor dari Saudi.

Persediaan minyak mentah AS naik 13,2 juta barel dalam sepekan yang berakhir 17 April menjadi 500 juta barel, data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan pada Selasa (21/4). Analis memperkirakan penambahan 13,1 juta barel. Data resmi pemerintah akan dirilis pada Rabu waktu setempat. n


×