Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika
22 Apr 2020, 01:59 WIB

Fikih Milenial: Penjelasan Tarawih di Rumah Selama Ramadhan

Shalat Tarawih berjamaah pada Ramadhan bisa ditunaikan bersama keluarga di rumah.

Diasuh oleh Dr ONI SAHRONI 

 

 

Dalam kondisi pandemi Covid-19, ada dua pilihan, shalat Tarawih berjamaah di masjid dan mendapatkan pahala sunah atau shalat Tarawih di rumah berjamaah bersama keluarga (atau sendiri bagi yang harus sendiri) untuk menghindaran diri dari potensi penularan. Menurut syariah, mana pilihan yang prioritas untuk dilakukan? Coba kita bahas.

Terkait

Pilihan pertama, shalat Tarawih berjamaah di masjid dan mendapatkan pahala sunah. Selain tilawah dan itikaf, shalat Tarawih (dikenal juga dengan shalat qiyam) itu hukumnya sunah ditunaikan setelah shalat Isya oleh laki-laki ataupun perempuan dan termasuk ibadah Ramadhan yang diutamakan.

“Dari Abi Hurairah, dia berkata: Rasulullah menyarankan untuk melakukan qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) tanpa memerintahkan dengan azimah. Ia bersabda, 'Barang siapa yang melakukan shalat tarawih dengan penuh keimanan dan keikhlasan karena Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah SWT'." (HR Jama’ah). Menurut an-Nawawi, qiyam yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah shalat Tarawih.

Shalat Tarawih afdhal ditunaikan berjamaah di masjid, sebagaimana hadis riwayat Aisyah RA bahwa Rasulullah suatu saat pada pertengahan malam pada bulan Ramadhan ia keluar dan shalat di masjid, kemudian masyarakat saat itu ikut shalat bersamanya hingga jumlah yang ikut shalat itu banyak. Maka, Rasulullah pada kali yang keempat tidak keluar menunaikan shalat tersebut dan ia berkata kepada mereka, "Saya khawatir ini menjadi kewajiban bagi kalian dan kalian tidak mampu untuk menunaikannya." (HR Bukhari Muslim). Al-Qulyubi menjelaskan, berdasarkan hadis ini, shalat tarawih itu diberlakukan pada akhir tahun kedua Hijriyah.

Pada 14 Hijriyah, Umar bin Khattab mengumpulkan masyarakat dalam satu jamaah shalat Tarawih (Al-Mashabih fi Shalat at-Tarawih, as-Suyuthi, 37). Abdurrahman bin Abdul Qari berkata, kemudian Umar berkata: Saya berpandangan andaikan kita kumpulkan mereka dalam satu jamaah dan imam, maka itu lebih utama ... Kemudian mereka dikumpulkan menjadi satu jamaah dengan Ubay bin Ka'ab sebagai Imam. Kemudian Umar mengatakan; Ini sebaik-baiknya bid’ah. (HR Bukhari).

Pilihan kedua, menghindarkan diri dari (potensi penularan) Covid-19 itu keharusan. Sebagaimana hadis-hadis Rasulullah SAW: "Dan larilah dari penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa." (HR al-Bukhari). "Yang sakit jangan mendekat kepada yang sehat." (HR Muslim).

Menurut Fikih Muwazanah, pilihan kedua, shalat Tarawih di rumah berjamaah bersama keluarga (atau sendiri bagi yang harus sendiri) untuk menghindari diri dari potensi penularan menjadi alternatif. Jika otoritas dan medis menyimpulkan bahwa Tarawih di daerah tersebut berpotensi penularan Covid-19. Sebagaimana kaidah, "Mencegah mafsadah (kerusakan) harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan." (As-Suyuthi, asy-Asybah).

Az-Zuhaili menjelaskan, shalat (Tarawih) berjamaah bisa ditunaikan bersama istri dan anak-anak serta yang lain di rumah. (Wahbah az-Zuhaily, al-Fiqh asy-Syafi’iyyah, 1/239).

Berikut penjelasan ustaz Oni Sahroni.

photo
Dicky (25) mendengarkan kajian Islam melalui siaran langsung Youtube disalah satu indekos di kawasan Jatipadang, Jakarta, Jumat (3/4). Kegiatan tersebut dilakukan di tengah pandemi COVID-19 yang berdampak pada pembatasan aktivitas diluar rumah yang menyebabkan kegiatan pengajian dilakukan melalui jaringan internet - (Thoudy Badai/Republika)


×