epa08372817 Warga membersihkan Masjid menjelang bulan puasa Ramadhan, selama masa lockdown di Rawalpindi, Pakistan, (20/4). Ribuan masjid di seluruh Pakistan tetap kosong ketika tiga provinsi menangguhkan pertemuan keagamaan karena pandemi coronavirus yan | EPA-EFE/SOHAIL SHAHZAD
22 Apr 2020, 20:15 WIB

Menyambut Ramadhan Berbeda untuk Pertama Kali

Akibat pandemi yang telah menyebar ke 185 negara, banyak negara tahun ini telah menyarankan warganya menghindari pertemuan besar.

 

Oleh Rossi Handayani

Umat Islam di seluruh dunia akan menjalani Ramadhan yang berbeda tahun ini. Untuk sementara, tidak ada lagi kumpul bersama untuk shalat berjamaah di masjid ataupun berbuka puasa bersama di tempat umum. Penyebabnya, tak lain karena virus korona jenis baru (Covid-19) yang belum beranjak pergi.

Banyak ibadah Ramadhan yang akan dikurangi pada tahun ini. Beberapa negara menerapkan jam malam yang ketat. Masyarakat juga diimbau menjaga jarak antara satu orang dengan yang lainnya.

Terkait

Menurut peneliti dari National University of Malaysia Institute of the Malay World and Civilization (ATMA), Mohd Faizal Musa, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Berbagai bencana telah datang silih berganti, tapi tidak pernah memengaruhi ibadah Ramadhan.

Bencana yang dimaksud, mulai dari Perang Dunia II hingga bencana alam. Namun, kata Faizal, berdasarkan literatur masa lalu, teks sejarah, maupun berbagai arsip lainnya, umat Islam masih berkumpul selama Ramadhan. "Namun, kita menghadapi musuh yang berbeda kali ini," kata Faizal dikutip dari dari laman Aljazirah, Senin (20/4).

Akibat pandemi yang telah menyebar ke 185 negara, banyak negara tahun ini telah menyarankan warganya menghindari pertemuan besar. Mereka menyarankan warga sahur dan buka puasa secara individu atau dengan keluarga di rumah.

Di Mesir, semua kegiatan Ramadhan, termasuk buka puasa bersama dan kegiatan amal suatu lembaga yang mengumpulkan massa dilarang. Bazar Ramadhan yang biasa digelar sepanjang 30 hari ditiadakan. Pedagang yang biasanya menjual makanan, minuman, dan pakaian, saat ini, tidak diizinkan di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Organisasi perhimpunan sipil Malaysia, Sisters in Islam, menyatakan, peniadaan bazar Ramadahan akan memunculkan dampak ekonomi yang besar. Sebab, banyak usaha kecil dan menengah (UKM) serta ibu rumah tangga yang bergantung pada sumber pendapatan tersebut.

"Saat kita harus berlatih menjaga jarak fisik, tidak saling menyapa dengan cara yang biasa (memeluk atau berjabat tangan), ini pasti akan berdampak pada semangat kita," kata Kepala Sisters in Islam, Rozana Isa.

Beberapa negara juga melarang shalat berjamaah. Bahkan, sejumlah masjid telah ditutup sementara. Arab Saudi dan Yordania menangguhkan shalat Tarawih di masjid dan meminta warganya beribadah di rumah.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyerukan agar orang-orang menghindari shalat berjamaah. Di negara bagian Selangor, Malaysia, Sultan telah menangguhkan aktivitas keagamaan di masjid-masjid hingga 31 Mei.

Pakistan akan mengizinkan shalat berjamaah di masjid-masjid selama Ramadhan. Namun, jamaah harus menjaga jarak dua meter antara satu sama lain dan diminta untuk membawa sajadah sendiri.

Kompleks Masjid al-Aqsa, Yerusalem, akan ditutup untuk jamaah Muslim sepanjang Ramadhan. Meski begitu, panggilan azan masih akan dikumandangkan dalam lima kali sehari. Pekerja masjid tetap diizinkan masuk. Masjid-masjid di Inggris dan di tempat lain akan menyiarkan khutbah secara langsung disertai dengan pembacaan Alquran.

Muslim dapat menghadiri ceramah agama melalui aplikasi konferensi video Zoom, Facebook, dan Youtube. "Yang terpenting adalah konektivitas. Kami sekarang mencoba mengatasinya dari rumah," kata seorang instruktur Islam Pakistan sekaligus motivator, Aiasha Amir. Dia juga akan memberikan kuliah harian langsung di Facebook selama Ramadhan.

Penyaluran amal dan zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang dianjurkan selama Ramadhan. Di Uni Emirat Arab (UEA), sejumlah badan amal akan mengirimkan makanan buka puasa kepada fakir miskin secara langsung.

Sementara, di Arab Saudi, Masjid Nabawi, Madinah, tidak akan menyediakan makanan buka puasa untuk orang-orang yang membutuhkan pada tahun ini. Mufti Agung Kerajaan Arab Saudi, Syekh Abdulaziz bin Abdullah bin Muhammad al-Sheikh, turut meminta masyarakat melakukan shalat Tarawih di rumah untuk mencegah penyebaran virus korona.

"Tidak mungkin untuk mengadakan shalat Tarawih di masjid-masjid tahun ini sebagai tindakan pencegahan yang diambil oleh pihak berwenang untuk memerangi virus korona," ujar Syekh Abdulaziz dilansir di Arab News.

Meski kegiatan keagamaan selama Ramadhan tidak lagi dilaksanakan di masjid, hal ini tidak akan mengurangi semangat dalam beribadah bagi seorang Muslim. Ketenangan di rumah akan mengantarkan seseorang lebih khusyuk beribadah hanya kepada Allah SWT. ed: qommarria rostanti


×