Sastra
Melankoli Dinihari
Puisi-puisi Dimas Albiyan
Oleh DIMAS ALBIYAN
Solitude
Perihal paling menyedihkan dari puisi ini
bukan kau yang meninggalkanku,
tetapi aku yang telah melupakanmu.
Seperti dunia yang manis dan hijau.
Sebuah cinta yang digital.
Atau warna-warni yang artifisial.
Perlahan tubuhku memudar di situ.
Selepas algoritma menelan ruang dan waktu.
Mengubah kecemasan menjadi mesin.
Manusia pasca-manusia paling sibuk di dunia ini.
Mengapa begitu benderang lampu-lampu kota?
Seperti bahagia yang sekadar berpura.
Menghancurkan diri menjadi saldo, performa, angka.
Melenyapkan tubuh ke dalam cahaya listrik yang fana.
Di tengah chaos ini, mengapa kudengar ayat-ayatmu seperti melankoli?
Masa lalu yang menyusun kalimat-kalimat sunyi.
Sepotong tarhim pada bait pertama hari.
Masihkah pantas, kupeluk nama-Mu sekali lagi?
2026
***
Di Belantara yang Asing dan Fana
Kau telah terlampau jauh pergi
meninggalkan dirimu sendiri
di belantara yang asing dan fana.
Masihkah pintu rumah itu terbuka?
Seperti tenang pelukan
tempat segala kekalutan berpulang.
Kini hanya engkau sendirian—
—mengeja ingatan pada tiang-tiang,
kalimat-kalimat senyap, atau warna yang hening
pada sayup suara azan.
Kembali hanya engkau sendirian
menyusuri huruf demi huruf sebuah nama
—juga sebait doa
yang telah lama kau lupakan.
2026
***
Melankoli Dinihari
Kau tulis lagi melankoli
pada senyap dinihari
yang menyentuh dinding ingatanmu
perihal cinta yang lembut
atau sepatah ayat yang dahulu
memeluk tahun-tahun kesedihanmu.
Di manakah kini keheningan itu?
Perjumpaan-perjumpaan yang biru.
Atau percakapan yang menenangkan itu.
Ketika kau mendengar:
subuh telah jatuh
pada garis di kedua telapak tanganmu
selepas tarhim yang sayup,
selepas malam yang luruh.
Di manakah kini keheningan itu?
Di manakah muara segala bahagia itu?
2026
***
Di Dermaga
Kau saksikan sebuah dermaga tua
dan warna sunyi pada laut utara.
Ketika tahun demi tahun pun pergi
begitu lekas
seperti mimpi.
Di mana kesedihan itu bermuara?
Ingatan-ingatan
yang enggan kau lupa.
Tetapi di dingin pelabuhan ini,
kau masih senantiasa menjaga:
esok dan mimpi-mimpi
yang kaupeluk dalam doa.
2026
***
Chaos
Apakah telah sampai kabar itu kepadamu?
Seperti mesin dari masa depan
yang mencintai masa lalu.
Merekam chaos,
islamophobia, genosida,
atau bagaimana algoritma bekerja
dan dengan lembut mencuci isi kepala kita.
Tetapi yang sama-sama kita saksikan hanyalah:
bangkai bahasa.
Selepas senyap.
Selepas politik (kau menyebutnya lelucon).
Selepas derita yang panjang dalam tubuh
anak-anak manusia.
Sebelum gulita memeluk tahun yang dingin
dan hari pun perlahan sirna.
2026
***
Dimas Albiyan lahir di Jakarta pada September 1992. Beberapa puisi dan cerpennya dimuat di berbagai media dan antologi. Telah menerbitkan buku kumpulan puisi Misalnya Kau Menatap Hujan Hari Ini dan kumpulan cerita pendek Jakarta Sebelum Esok Hari. Dimas Albiyan dapat dijumpai di akun Instagram @dimas_albiyan.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
