Cerpen Sajadah Nyi Ageng Karang | Daan Yahya/Republika

Sastra

Sajadah Nyi Ageng Karang

Cerpen Agus Yulianto

Azan Magrib mengalun dari menara masjid tua di kaki Lawu. Suaranya menggulung pelan, menyentuh dedaunan, menyusup ke relung ingatanku. Aku duduk bersila di dalam surau kecil yang hampir dilupakan orang. Dindingnya kusam, lantainya dingin, dan di sudut ruang itu terlipat sebuah sajadah tua---warnanya telah pudar, seratnya terurai oleh usia. 

Hari ini merupakan hari jadi kota kelahiranku—Kabupaten Karanganyar. Di pusat kota, orang-orang bersiap merayakan dengan panggung hiburan, karnaval, dan pidato-pidato kebesaran. Tetapi aku justru kembali ke tempat yang nyaris tak dikenal dalam selebaran sejarah: surau kecil di ujung desa ini. 

“Sajadah itu peninggalan leluhur kita,” kata Ayah suatu sore ketika aku menemukannya pertama kali,” Lebih tua dari usia kabupaten ini.”

Aku meraba serat kain itu dengan hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang hidup. Sejak kecil aku tumbuh di desa ini, tetapi baru hari ini aku merasa benar-benar berada di dalam denyut sejarahnya. 

“Nyi Ageng Karang,” ucapku pelan. 

Ayah mengangguk, “Dari doanya, tanah ini bermula.”

***

 

Cerita itu hidup dari satu generasi ke generasi lain. Tidak tertulis dalam buku sejarah nasional, tetapi berdenyut dalam ingatan para penjaga surau, dalam kisah para petani, dan dalam doa-doa yang tak pernah terputus. 

Tahun itu 1745 Masehi, bertepatan dengan 16 Maulud 1670 hijriah. Karanganyar masih berupa dukuh kecil bernama Badran Baru, berada di wilayah Kasunanan Surakarta, di bawah pemerintahan Sri Pakubuwono II. 

Di dukuh itulah seorang perempuan bangsawan menanggalkan segala kemewahan. Namanya Raden Ayu Sulbiyah, yang kelak dikenal sebagai Nyi Ageng Karang. Ia bukan pemimpin pasukan perang. Ia tak memegang pedang. Tetapi ia membangun suatu yang jauh lebih kuat dari benteng: surau dan iman. 

Setiap subuh, ia membangunkan anak-anak untuk mengaji. Setiap sore, ia mengajarkan doa-doa sederhana kepada kaum ibu. Ia menanam padi di ladang, tetapi lebih dari itu, ia menanam keyakinan bahwa hidup hanya akan bermakna bila disandarkan kepada Allah Swt. 

“Tanah ini keras seperti karang,” kata Nyi Ageng Karang suatu ketika. “Tetapi jika iman mengalir di dalamnya, ia akan melahirkan kehidupan baru.”

***

 

Suatu malam, ketika hujan jatuh lebat seperti tirai langit yang runtuh, seorang pengembara datang. Tubuhnya penuh debu. Kudanya limbung. Wajahnya tampak tegas, tetapi matanya menyimpan letih yang panjang. Dialah Raden Mas Said. 

Ia datang bukan sebagai bangsawan. Ia datang sebagai seorang buronan. Perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan membuat kepalanya diburu. Tanah Jawa sedang bergolak. Raden Mas Said bersimpuh di surau. 

“Aku tak mencari perlindungan tembok,” katanya lirih. “Aku hanya ingin berdoa.” 

Nyi Ageng Karang menyodorkan air. “Berwudhulah. Tak ada tempat berlindung yang lebih kuat dari sujud.”

Malam itu, tak ada rencana strategi perang. Tak ada pembahasan kemenangan. Yang ada hanya dua manusia, satu sajadah, dan doa yang dihamparkan kepada Tuhan. 

“Kekuasaan akan datang dan pergi,” kata Nyi Ageng Karang. “Tetapi iman harus tetap tinggal di dalam dada.”

Sejak malam itu, Karanganyar menjadi tempat persinggahan sunyi Raden Mas Said. Ia datang dan pergi dalam diam. Dari surau itu pula ia membawa doa ke setiap medan perlawanan. Kelak, ia dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa---pahlawan yang tak pernah memisahkan perjuangan dari sujud. 

***

 

Tahun 1755, terjadi peristiwa besar dalam sejarah jawa: Perjanjian Giyanti. Kerajaan Mataram terbelah menjadi kekuasaan besar: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Sejak saat itu, Karanganyar masuk dalam wilayah Kasultanan Yogyakarya, di bawah pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I. 

Bagi para penguasa perjanjian adalah garis wilayah. Tetapi bagi rakyat kecil Karanganyar, hidup tetaplah hidup yang harus dijalani dengan kerja dan doa. 

Sawah tetap ditanami. Anak-anak mengaji. Surau tetap menjadi pusat pertemuan, bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga untuk membicarakan kehidupan. 

Islam di Karanganyar tidak tumbuh sebagai simbol kekuasaan. Ia hadir sebagai laku hidup—dalam kerja di ladang, dalam kesabaran menghadapi musim, dalam kejujuran berdagang, dan dalam kesederhanaan menerima takdir. 

***

 

Waktu bergerak perlahan tetapi pasti. Pada 5 Juni 1847, pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara III, Karanganyar mulai dicatat sebagai satu wilayah administratif resmi. Nama Karanganyar mulai muncul dalam dokumen pemerintahan. 

Tahun demi tahun berjalan. Hingga akhirnya, pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara VII, terjadi perubahan besar dalam tata kelola wilayah. Pada tanggal 20 November 1917, istilah Onderregentschap diubah menjadi Regentschap atau Kabupaten.  Dan pada tanggal 18 November 1917, Kabupaten Karanganyar resmi dibentuk. 

Bendera berkibar. Genderang ditabuh. Orang-orang memenuhi alun-alun untuk merayakan lahirnya sebuah kabupaten. Namun di surau tua yang jarang diziarahi itu, seorang kiai sepuh berdiri setelah salat, “Negeri ini boleh berubah nama,” katanya pelan. “Tetapi jangan sampai kehilangan sajadahnya.”

***

Aku menutup mata di dalam surau itu. Suara azan magrib mendekati ikamah. Di luar, bunyi petasan dan sorak kegembiraan terdengar jauh. Dua dunia seperti bertemu di dadaku: dunia perayaan dan dunia perenungan. 

Sejak kecil aku menghafal Karanganyar sebagai daerah Industri, Wisata, dan Pertanian atau disebut INTANPARI. Aku mengenalnya lewat angka-angka pembangunan, lewat papan proyek, dan berita-berita kemajuan. Tetapi hari ini aku menangkap wajah lain Karanganyar—wajah yang tak selalu masuk buku pelajaran. 

“Ayah,” kataku pelan, “Mengapa surau ini dibiarkan hampir roboh?”

Ayah menatap sajadah itu lama. “Karena tidak semua orang siap menjaga sesuatu yang tidak menghasilkan apa-apa secara materi.”

Aku terdiam.

“Padahal,” lanjut Ayah,”tanah ini lahir dari sesuatu yang juga tak terlihat:doa.”

Malam semakin larut. Setelah salat, aku kembali duduk di atas sajadah tua itu. Dalam hening, aku seperti melihat bayangan seorang perempuan tua duduk di sudut surau, tersenyum dalam keteduhan. Aku seperti mendengar langkah kuda yang pernah singgah, lalu menghilang bersama desir angin gunung. Nyi Ageng Karang---tersenyum sambil menggenggam sajadahnya.[]

 

Agus Yulianto. Suka menulis cerpen, cernak, puisi dan esai. Seorang guru swasta di SMK Wikarya Karanganyar. Saat ini masih aktif di Forum Lingkar Pena (FLP) pernah menjabat sebagai ketua cabang Karanganyar dan ketua wilayah Jawa Tengah juga masuk di kepengurusan Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP.  

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat