Ekonomi
Gibran Ingatkan Industri Pariwisata, Warga Lokal Jangan Hanya Jadi Penonton
Petani dan UMKM perlu mendapat peluang dalam rantai pasok wisata.
JAKARTA -- Pemanfaatan teknologi di sektor pariwisata perlu memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat lokal, bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Pengembangan destinasi juga harus membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di pasar internasional.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengatakan, kekayaan alam dan budaya Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan devisa dan menggerakkan perekonomian nasional. Namun, potensi tersebut perlu didukung inovasi dan teknologi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Perlu kita pikirkan saat ini, bagaimana teknologi dapat menciptakan nilai tambah bagi pariwisata kita. Bagaimana teknologi dapat meningkatkan manfaat langsung bagi masyarakat, bagaimana teknologi dapat membuat keindahan Indonesia ditemukan dunia. Kita ingin menciptakan high quality tourism,” ujar Gibran dalam Wisuda Institut Pariwisata (IP) Trisakti Tahun Akademik 2025/2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Gibran menilai pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan destinasi dan fasilitas pendukung. Pemanfaatan teknologi diperlukan untuk memperluas jangkauan promosi sekaligus meningkatkan kualitas layanan dan daya saing industri.
Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal dalam rantai pasok pariwisata menjadi perhatian pemerintah. Pertumbuhan industri wisata diharapkan dapat meningkatkan kapasitas usaha masyarakat sekitar, bukan hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan besar.
Gibran mencontohkan kerja sama Hotel Plataran Bromo dengan petani setempat sebagai pemasok bahan baku restoran. Hotel tersebut juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam penyediaan layanan wisata jip Gunung Bromo serta masyarakat adat dalam wisata edukasi budaya Suku Tengger.
“Saya mengapresiasi bagaimana mereka menjalin kerja sama dengan petani, UMKM sekitar, dan masyarakat adat sebagai wisata edukasi mengenal Suku Tengger, sehingga kehadiran korporasi besar bukan menggerus, tapi justru meningkatkan kapasitas usaha masyarakat terkait promosi,” ujar Gibran.
Menurut Gibran, industri kreatif juga memiliki peran dalam memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional. Musik dan karya kreatif dapat menjangkau audiens lintas negara sekaligus meningkatkan daya tarik budaya Indonesia sebagai destinasi wisata.
Pariwisata dan industri kreatif dinilai menjadi kekuatan diplomasi budaya atau soft power Indonesia. Melalui pengembangan teknologi dan kreativitas, kekayaan budaya nasional berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Sementara itu, Rektor IP Trisakti Fetty Asmaniati mengatakan, perubahan industri pariwisata menuntut lulusan memiliki kemampuan beradaptasi, kreativitas, dan integritas. Kompetensi akademik perlu dilengkapi keterampilan profesional yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kami berharap lulusan bisa menjadi insan profesional yang inovatif serta mampu memberi kontribusi nyata bagi kemajuan pariwisata Indonesia,” ujar Fetty.
Menurut Fetty, pengembangan pendidikan pariwisata membutuhkan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar kompetensi lulusan sesuai dengan perkembangan kebutuhan tenaga kerja.
“Sinergi ini penting untuk memastikan kompetensi lulusan sesuai kebutuhan dunia kerja, sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata nasional,” katanya.
Sekretaris Yayasan Trisakti Muhammad Dimyati mengatakan, IP Trisakti menyiapkan pendampingan berbasis riset dan inkubasi bisnis untuk mendukung pengembangan tenaga kerja pariwisata. Kampus tersebut juga menargetkan pengembangan pendidikan vokasi yang terhubung dengan kebutuhan industri.
"Kami siap menjadikan IPT sebagi hub nasional pengembangan vokasi pariwisata berstandar internasional yang selaras dengan agenda penyerapan tenaga kerja muda pemerintah", tuturnya.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III Henri Togar Tambunan menilai industri pariwisata dan perhotelan tengah mengalami perubahan mendasar. Teknologi digital, efisiensi operasional, pengelolaan risiko, dan keberlanjutan kini menjadi faktor penting dalam persaingan industri.
“Daya saing tak lagi ditentukan oleh keindahan alam dan kemegahan fasilitas, tetapi juga integrasi teknologi digital, efisiensi operasional, pengelolaan risiko, dan penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan,” ujar Henri.
Menurut Henri, perguruan tinggi perlu menghasilkan lulusan yang mampu menjawab persoalan industri, bukan hanya memiliki kualifikasi akademik. Ia menekankan pentingnya integritas, penguasaan teknologi, orientasi keberlanjutan, serta kemauan untuk terus meningkatkan kemampuan.
“Karena itu, lulusan perlu memadukan kedalaman ilmu akademik dengan ketajaman wawasan praktis di lapangan,” katanya.
Wisuda IP Trisakti Tahun Akademik 2025/2026 diikuti 669 lulusan dari program doktor, magister, sarjana, dan sarjana terapan. Kegiatan tersebut juga dihadiri Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Badri Munir Sukoco, serta perwakilan industri.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IP Trisakti Agus Riyadi menyampaikan, mahasiswa kampus tersebut meraih sejumlah prestasi nasional dan internasional. Salah satunya medali perunggu kategori Hotel Reception dalam WorldSkills ASEAN Competition 2026.
IP Trisakti juga mengembangkan pembelajaran melalui praktik, kunjungan industri, kuliah tamu internasional, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pendekatan tersebut ditujukan untuk membekali lulusan dengan keterampilan teknis, komunikasi, dan pemahaman terhadap industri pariwisata yang semakin terdigitalisasi.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
