Ekonomi
Perempuan Desa Ngudi Punggul Menjahit Jalan Keluar dari Keterbatasan
Peningkatan kapasitas produksi turut mengubah kondisi ekonomi para anggota kelompok.
Suara mesin jahit berdenting nyaris tanpa jeda di sebuah rumah produksi sederhana di Desa Ngudi Punggul, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Di ruangan itu, sejumlah perempuan duduk berjejer mengolah lembar demi lembar kain menjadi gamis, seragam sekolah, hingga pakaian kerja yang kini dipasarkan ke berbagai daerah.
Aktivitas yang terlihat sibuk itu menyimpan cerita panjang tentang perjuangan warga mempertahankan usaha di tengah keterbatasan. Bertahun-tahun lalu, mereka harus bekerja dengan peralatan seadanya dan kapasitas produksi yang jauh dari cukup untuk memenuhi permintaan pasar.
Perjalanan itu bermula pada 2017 ketika sebelas perajin konveksi di desa tersebut sepakat membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sejahtera. Saat itu, mereka hanya memiliki tiga mesin jahit dan satu mesin obras yang digunakan secara bergantian untuk memproduksi jilbab serta atribut sekolah.
Keterbatasan peralatan membuat produksi berjalan lambat. Dalam sepekan, kelompok ini hanya mampu menghasilkan sekitar seratus potong pakaian. Ketika pesanan meningkat, terutama menjelang Lebaran atau tahun ajaran baru, tidak sedikit permintaan yang terpaksa ditolak.
"Kami dulu sering kewalahan ketika pesanan datang dalam jumlah besar," kenang Ketua KUB Sejahtera, Putri Windawati.
Perubahan mulai terjadi ketika kelompok tersebut memperoleh dukungan pengembangan usaha melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Bantuan berupa mesin jahit, mesin potong, bahan baku, serta peningkatan fasilitas kerja memberi ruang bagi para anggota untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Dampaknya terasa cukup signifikan. Dari yang semula sekitar seratus potong per minggu, produksi meningkat menjadi sekitar enam ratus potong. Jenis produk yang dihasilkan pun semakin beragam, mulai dari gamis, kaos, hingga seragam kerja dengan bordir komputer.
"Bantuan peralatan dan pelatihan dari PLN membuat proses produksi kami menjadi jauh lebih lancar. Kami tidak lagi cemas menghadapi pesanan dalam jumlah besar yang datang mendadak," ujar Putri.
Peningkatan kapasitas produksi turut mengubah kondisi ekonomi para anggota kelompok. Omzet usaha yang sebelumnya berkisar Rp4 juta kini mencapai sekitar Rp30 juta. Bagi sebagian anggota, tambahan pendapatan tersebut menjadi penopang penting bagi kebutuhan keluarga.
Produk KUB Sejahtera kini telah dipasarkan ke sejumlah pusat grosir di Surabaya dan Sidoarjo. Jangkauan pasar yang semakin luas membuka peluang baru bagi usaha yang berawal dari skala rumahan tersebut.
General Manager PLN UIP2B Jamali, Munawwar Furqan, mengatakan, program TJSL tidak hanya ditujukan untuk memberikan bantuan, tetapi juga mendorong masyarakat memiliki kemampuan untuk mengembangkan usaha secara mandiri.
"Esensi utama TJSL adalah menghidupkan kemandirian masyarakat dan menggerakkan roda ekonomi lokal. Ketika sebuah UMKM berkembang, ekosistem kehidupan di sekitarnya dipastikan ikut tumbuh sejahtera dan berdaya," ujar Munawwar.
Pandangan serupa disampaikan Manager PLN UP2B Jatim, Ahmad Murdani. Menurut Ahmad, keberhasilan kelompok usaha seperti KUB Sejahtera menunjukkan bahwa dukungan yang tepat dapat membuka peluang pertumbuhan ekonomi di tingkat komunitas.
"Kami berharap KUB Sejahtera dapat terus tumbuh secara berkelanjutan dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar," kata Ahmad.
Kini, di tengah deru mesin jahit yang terus bekerja, para perempuan di Desa Ngudi Punggul tidak lagi sekadar memproduksi pakaian. Mereka sedang menenun harapan baru, membangun usaha yang lebih mandiri, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bertumbuh.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
