Ekonomi
Ratusan Mahasiswa IPB Belajar Penerapan SNI di Industri Pangan
Pemahaman mengenai standardisasi dinilai perlu dikenalkan sejak bangku kuliah.
JAKARTA — Kebutuhan industri terhadap sumber daya manusia yang memahami standar mutu dan keamanan pangan semakin meningkat. Di tengah tantangan ketahanan pangan dan persaingan produk yang kian ketat, pemahaman mengenai standardisasi dinilai perlu dikenalkan sejak bangku kuliah.
Isu tersebut mengemuka dalam program "SNI Goes to Campus" yang diselenggarakan Badan Standardisasi Nasional (BSN) di IPB University, Bogor. Program ini merupakan kolaborasi antara BSN, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), serta sejumlah pelaku industri untuk memperkenalkan pentingnya standardisasi kepada mahasiswa.
Dalam kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa Teknologi Pangan IPB University itu, peserta mendapatkan gambaran mengenai penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan keamanan pangan dalam proses produksi industri makanan dan minuman.
Head of Q-SHE & MFG Innovation Garudafood, Bangun Raharjo, mengatakan, penerapan standar tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga menjadi fondasi dalam menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen.
“Standar bukan hanya tentang memenuhi persyaratan dan regulasi, tetapi tentang membangun disiplin, konsistensi, dan kepercayaan sehingga menjadi budaya kerja yang dijalankan setiap hari. Karena itu, kami percaya mahasiswa yang memahami pentingnya standardisasi sejak dini akan memiliki kesiapan lebih baik untuk masuk ke dunia industri, yang kemudian berkembang dengan berkontribusi pada produk yang aman, bermutu, dan berdaya saing,” ujar Bangun Raharjo.
Menurut Bangun, penerapan standardisasi yang konsisten menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga mutu produk dan daya saing industri pangan nasional.
Direktur Transformasi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran IPB University, Prof. Dr. Ir. Yulin Lestari, menilai aspek standardisasi perlu menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Diseminasi Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian BSN, Nindya Malvins Trimadya, mengatakan keterlibatan industri dalam program edukasi kampus dapat membantu mahasiswa memahami penerapan standar secara langsung di dunia usaha.
“Keterlibatan perusahaan seperti Garudafood membuktikan bahwa penerapan standar bukan hanya urusan laboratorium, tetapi menyentuh seluruh aspek operasional bisnis. Ini pesan yang perlu diterima mahasiswa sedini mungkin,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Garudafood juga memaparkan pengalaman penerapan SNI pada produk biskuit yang telah dilakukan secara sukarela sejak 2014. Menurut perusahaan, standardisasi dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga konsistensi kualitas produk dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
Program "SNI Goes to Campus" dijadwalkan berlanjut ke sejumlah perguruan tinggi lain sepanjang 2026. Melalui pendekatan kampus, pemerintah dan pelaku industri berharap kesadaran mengenai keamanan pangan dan standardisasi dapat semakin meluas, termasuk untuk mendukung peningkatan daya saing industri pangan nasional.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
